PROLOG

2.2K 64 1
                                        

 "Cincin kamu ke mana, Rona? Kamu lupa pakai, ya?" Septian mencoba meraih tangan Arona, tapi perempuan itu menjauhkan tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Cincin kamu ke mana, Rona? Kamu lupa pakai, ya?" Septian mencoba meraih tangan Arona, tapi perempuan itu menjauhkan tangannya.


Arona merogoh saku roknya, mengeluarkan cincin pemberian Septian. Arona menggenggam erat cincin itu dengan perasaan yang tidak karuan. "Saya ingin berhenti menjadi mainan Anda, Pak."

"Siapa yang bilang kalau kamu mainan aku, Rona?"

Arona mengalihkan pandangan ke arah lain sejenak, mencoba keras menahan air matanya, tapi sesak di dadanya membuatnya ingin menangis. Arona menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tidak peduli jika bibirnya akan terluka.


Tidak sanggup berkata lagi, Arona menaruh cincin itu di atas meja Septian. Kemudian, baru dia menatap Septian dengan mata berkaca-kaca. "Cincinnya Saya kembalikan, Pak. Saya enggak cocok pakai cincin mahal pemberian Anda, dan saya bukan orang yang tepat untuk Anda."

Arona menghirup udara sejenak, sesak itu tidak kunjung hilang. "Saya ingin mengakhiri hubungan konyol di antara kita."


*****

Setelah menempuh pendidikan di bangku perkuliahan selama 4 tahun tidak bisa menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan ketika lulus. Kelulusan menjadi awal perjalanan karir seseorang. Ijazah yang didapatkan dari bangku perkuliahan hanyalah sebuah sertifikat yang bisa di jadika
n pegangan untuk melamar pekerjaan. Itu pun tidak terlalu membantu, ijazah hanya sebuah kertas yang menandakan jika nama yang tertera di atasnya telah mendapatkan pemahaman lebih pada bidang tertentu.

Layaknya sebuah kertas putih yang di atasnya tertulis nama dengan tinta hitam, salinan ijazah itu berakhir di oper ke berbagai tempat. Seperti ijazah yang di miliki oleh Arona Safira, perempuan yang lulus sejak dua tahun yang lalu, tapi masih belum mendapatkan pekerjaan. Berbagai lamaran Arona kirimkan ke beberapa perusahaan yang sekiranya membutuhkan pekerja dengan keahlian yang sesuai dengan jurusannya.

Arona lulusan terbaik dari kampusnya dengan IPK 3,95 nyaris sempurna. Namun, karirnya tidak sebaik IPK yang dia dapatkan di bangku perkuliahan. Lulus dengan menyandang gelar S.P (Sarjana Pertanian), dan berkuliah di jurusan Ilmu Tanah selama 4 tahun penuh, membuat Arona cukup memiliki pemahaman tentang tanah. Tetapi, pemahaman saja tidak akan membuat Arona mendapatkan pekerjaan dengan mudah.

Arona menghela napasnya dengan gusar, map cokelat yang berisi dokumen untuk melamar pekerjaan dia taruh di atas meja sebuah kafe yang bernama Salma's Cafe, kafe milik sahabatnya. Peluh memenuhi wajahnya, semburat merah terlihat semakin jelas di kedua pipinya akibat berjemur di bawah teriknya matahari yang berada tepat di atas kepala. Arona menyandarkan punggungnya dengan nyaman di kursi kafe, merasakan hawa dingin AC dari kafe itu menerpa wajahnya.

SEPARO (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang