#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada fake chat di Instagram for chapter ini
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Akibat jawaban Septian yang tidak sesuai dengan keinginan Arona, perempuan itu menolak mentah-mentah Septian yang ingin mengantarkannya pulang. Arona meninggalkan Septian di parkiran, memilih menuju halte untuk menunggu busway. Meskipun di tolak seperti itu, Septian masih menyusulnya ke halte, berusaha membujuk Arona agar mau pulang bersamanya saja. Tapi, Arona tetap dengan pendiriannya untuk pulang sendirian.
Septian tidak bisa apa-apa kalau Arona sudah bertekad seperti itu. Untuk sekedar berbicara dengannya saja, Arona hanya menjawab singkat. Terlihat jelas jika Arona benar-benar marah. Septian hanya bisa memandangi Arona yang menaiki busway tanpa berpamitan dengannya.
"HP lo bunyi dari tadi, Ron. Angkat sana," suruh Salma. Dia terganggu dengan ponsel Arona yang terus berbunyi sejak tadi. Salma menatap ke arah Arona yang duduk di ujung sofa, tengah membaca novel. Arona terlihat tidak berniat mengangkat telepon di ponselnya. "Arona!"
Arona berdecak, menurunkan buku novel yang tengah dia baca. "Biarin aja, Sal. Gue lagi males angkat telepon." Tangan Arona bergerak menolak panggilan telepon yang berasal dari Septian. Bukan hanya menelepon, laki-laki itu sedari tadi sibuk mengirimkan pesan berisi permintaan maaf kepada Arona.
"Siapa, sih, yang nelepon?" tanya Salma penasaran. Namun, Arona tidak menjawab, perempuan itu kembali menyibukkan diri dengan novelnya. Salma menghela napas pelan, memilih menatap layar ponselnya.
Baru beberapa detik yang lalu panggilan berakhir, ponsel Arona kembali berdering. Kali ini Salma yang berdecak kesal, dia menurunkan kakinya dari sofa, kemudian melihat siapa yang menelepon Arona berulang kali. Dahi Salma mengerut ketika melihat nama Bima di sana. "Bang Bima, nih!" Salma mengangkat ponsel Arona, menyerahkannya kepada perempuan itu.
Arona menaruh bukunya di paha, dahinya berkerut penuh keheranan. "Masa Bang Bima, sih." Arona masih tidak percaya, dan matanya membulat ketika Salma mengarahkan layar ponsel padanya. "Iya, benar, anjing!" Segera Arona mengangkat telepon dari Bima. "Halo, Bang," sapanya, mendekatkan ponsel ke telinganya.