#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semuanya terasa terlalu cepat memang. Arona sendiri masih belum percaya jika sekarang dirinya sudah menjadi calon tunangan Septian. Tapi, ketika dia melihat tangannya, cincin di restoran tadi masih melekat di jari manisnya. Jadi, itu sudah menjadi bukti jika semua itu benar adanya, bukan hanya mimpi semata.
Arona melirik ke arah buket bunga yang dia taruh di atas meja yang ada di kamar Salma. Beberapa menit yang lalu Arona baru pulang dari acara lamaran berkedok makan malam itu. Septian mengantarkannya dengan selamat, walaupun sedikit telat karena sehabis dari restoran, laki-laki itu mengajaknya mampir di pasar malam yang kebetulan mereka lewati. Septian berhenti di sana karena Arona tanpa sengaja menyeletuk jika dia ingin menaiki salah satu wahana di sana. Jadilah Septian memutar balikkan mobilnya, dan memenuhi keinginan Arona.
Arona tersenyum malu, dia menutupi kepalanya dengan bantal. Tangannya memukul-mukul area kasur di sebelahnya. Belum pernah dirinya sesalah tingkah ini mendapatkan perlakuan semanis itu dari laki-laki. Septian selalu bisa membuatnya merasa diratukan.
“Bunga lo gue buang, ya, Ron.”
“Jangan!” Arona bangkit dari kasur, berlari menghampiri Salma yang hendak merusak buketnya. Arona segera mengangkat buket itu, membuat Salma tergelak.
“Segitu amat sama buket doang. Lama-lama juga layu itu bunga,” ujar Salma, melangkahkan kakinya untuk duduk di atas kasur. Salma tadi hanya berniat menjahili Arona, karena sedari Arona pulang, perempuan itu menjaga buketnya dengan baik, dan menaruhnya di meja dengan hati-hati, seakan tidak ingin buketnya rusak.
Arona mendengus, kembali menaruh buketnya di atas meja. Arona sedikit mengusap-usap buket itu sembari tersenyum. “Selagi belum layu, biarin kayak gitu dulu,” jawabnya, menarik kakinya untuk kembali ke kasur, dan duduk di sebelah Salma.
Salma terkekeh geli menatap layar ponselnya. “Anjing, banget si Bima.” Salma memperlihatkan pesan yang baru saja Bima kirimkan kepada Arona. “Bisa-bisanya dia bilang kayak gitu.”
Salma Septian lamar Arona. Lo tahu enggak?
Bima Seriusan lo? Dia belum cerita ke gue Udah tobat kayaknya itu Septian
Salma Dia buaya, ya?
Bima Lebih parah, anjing. Dia mah penjahat kelamin. Jangan bilang Arona, awas aja lo. Septian lagi pencitraan di depan Arona, katanya biar martabatnya enggak jatuh di depan Arona.
Bukannya fokus dengan isi pesan yang membahas tentang Septian dan dirinya. Arona malah menggeser layar ponsel Salma ke bawah, dia penasaran dengan pesan sebelumnya antara Bima dan Salma. “Lo sering chattingan sama Bang Bima?”
Salma berdecak, menarik kembali ponselnya. “Baca yang chat terakhir aja, Ron. Malah salfok sama chat gue yang lain.”
“Ya, jelas, salfok. Sejak kapan lo jadi dekat banget sama dia? Perasaan sebelum-sebelumnya enggak ada, deh.”