#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arona menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Saat dia sampai di apartemen, Arona tidak menemukan keberadaan Salma di apartemen. Arona merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel yang sedari tadi belum dia cek sama sekali. Arona membuka Whatsapp, membaca pesan yang Salma kirimkan, sahabatnya itu mengabarkan jika dirinya pergi keluar bersama dengan Bima. Arona ikut senang mendengar hubungan Salma dan Bima yang semakin lama semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, dan sepertinya mereka akan menjadi pasangan baru nantinya.
Arona mengerutkan keningnya ketika melihat ada pesan masuk dari Aji. Tumben sekali Aji mengirimkan pesan padanya. Semenjak pergi ke Los Angeles, Aji tidak pernah menghubungi Arona. Paling Arona yang menghubungi Aji, menanyakan perihal pekerjaan. Merasa penasaran, Arona membuka pesan dari Aji.
Pak Aji Pak Septian kecelakaan di pertambangan dan lengannya luka *Send a picture*
Tubuh Arona menegang ketika membaca pesan dari Aji, terlebih ada foto Septian dengan lengan baju bersimbah darah. Arona khawatir, dia segera menelepon Aji untuk menanyakan bagaimana keadaan Septian sekarang, tapi panggilannya tidak kunjung di jawab. Arona menggigit kukunya, melihat kembali pesan yang Aji kirimkan sejak dua jam yang lalu.
Arona bangkit dari posisi rebahannya, membawa tubuhnya untuk duduk. Dia harus berpikiran jernih, tidak boleh panik. Septian pasti baik-baik saja, laki-laki itu pasti sudah mendapatkan penanganan dari dokter. Dari foto yang Aji kirimkan, terlihat Septian duduk di ranjang Rumah Sakit. Iya, benar, tidak mungkin di lokasi pertambangan tidak ada layanan kesehatan untuk pekerjanya.
Arona masih belum tenang, dia mencoba menghubungi Septian berulang kali, dan tetap tidak di angkat. Kepanikan Arona semakin menjadi, jantungnya berdebar-debar kencang. “Septian baik-baik aja, Arona,” gumamnya, menenangkan diri. Tangan Arona gemetar, mengetikkan pesan kepada Stefin untuk menanyakan apakah Stefin tahu kondisi Septian.
Arona Septian baik-baik aja, Stef?
Arona menggigit bibir bawahnya, menunggu detik demi detik sampai Stefin membaca pesannya. Arona langsung mengangkat sambungan videocall yang Stefin lakukan. Di layar ponselnya, Arona bisa melihat wajah Stefin, perempuan itu terlihat berjalan.
“Aku dengar Septian kecelakaan di sana, Stef,” ucap Arona dengan suara sedikit bergetar.
Stefin menatap layar ponsel. Terlihat perempuan itu sudah memakai banu tidur. Jika di Jakarta sekarang pukul 1 siang, maka di Los Angeles pukul 11 malam. “Iya, Mbak. Lumayan parah lukanya, darahnya banyak banget. Tangannya sampai enggak bisa gerak.” Stefin sedikit mendramatisir kondisi Septian. “Dia langsung di bawa Mas Aji ke rumah, dan wajahnya pucat banget.”