#story14
Apakah ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Beberapa orang mungkin berpikiran jika ungkapan tersebut sangat mustahil, karena cinta butuh waktu untuk tumbuh, butuh pembiasaan untuk bisa hadir di hati seseorang. Namun, Septia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seminggu berlalu. Arona masih belum memberikan Septian kejelasan tentang hubungan mereka apakah masih mau Arona lanjutkan atau tidak. Arona masih butuh waktu untuk memikirkannya, sedikit waktu lagi. Walaupun dia sudah yakin jika tidak ada salahnya untuk mencoba lagi dengan Septian. Lagi pula, laki-laki itu tidak melakukan kesalahan fatal yang tak termaafkan. Arona juga sudah memberikan Septian pelajaran dengan mendiamkan laki-laki itu selama beberapa hari, bahkan Arona memutuskan hubungan mereka hanya karena kesalahpahaman.
“Lepasin tangan aku, Chelsea.” Septian melepaskan tangan Chelsea yang terus memeluk tangannya. “Kamu ngapain ke sini lagi?”
Arona menatap Chelsea yang bergelayut manja di lengan Septian. Chelsea kembali datang menemui Septian ke kantor setelah beberapa hari dia menunggu kedatangan Septian ke apartemennya, tapi laki-laki itu tak kunjung datang. Jadinya, dia mendatangi Septian lagi ketika jam makan siang. Saat semua karyawan bersiap makan siang, saat itulah Chelsea datang.
“Sekretaris kamu sampein ke kamu enggak, sih, kalau aku beberapa hari yang lalu datang ke sini?” tanya Chelsea, melipat kedua tangannya di dada, memberengut kesal.
Septian mengangguk. “Di sampein, tapi aku enggak mau ke sana. Stop buat datang ke kantor aku lagi. Kamu mengerti bahasa manusia enggak, sih?”
Arona berusaha keras menahan tawanya yang hampir meledak mendengar Septian menolak Chelsea mentah-mentah. Chelsea menatap Arona tajam, kemudian dia kembali menatap Septian. “Kenapa, Sep? Kamu enggak mau sama aku lagi?”
Septian mengangguk dengan pasti. “Aku udah kasih tahu kamu dari awal kamu datang ke sini. Hubungan kita berakhir pas kamu berangkat ke Aussie, dan aku enggak pernah mikirin kamu lagi semenjak hari itu. Aku harap kamu mengerti.”
“Aku bisa bikin kamu suka sama aku lagi.”
Septian menggeleng. “Enggak akan bisa. Di hati aku udah ada perempuan lain, dia jauh dari pada kamu. Jadi, jangan berharap ke aku lagi. Kamu tahu, kedatangan kamu ke sini cuman bikin hubungan aku sama pacar aku berantakan.”
Arona menatap Septian yang berdiri di dekat mejanya. Laki-laki itu memang baru keluar dari dalam ruangannya untuk pergi makan siang bersama Arona dan Aji, tapi Chelsea keburu menghadang langkahnya, membuat Septian harus meladeni perempuan itu terlebih dahulu.
Septian balik menatap Arona. Chelsea yang menyadari hal itu mengikuti arah pandangan Septian yang tertuju kepada Arona, membuat Arona buru-buru menundukkan kepalanya. “Jangan bilang sekretaris kamu itu pacar kamu?” tebak Chelsea.
Septian mengangguk. “Iya, Arona pacar aku. Dia salah paham pas kamu cium aku waktu itu.”
“Fuck!” Chelsea mengusap rambutnya, tampak kebingungan. “Sejak kapan? Apa kamu enggak mau hubungi aku lagi karena dia?” Chelsea menunjuk Arona.