Mengenal keluarga Septian

646 53 0
                                        

Chapter 16. Mengenal keluarga Septian

Jangan lupa tekan vote dulu!

Jangan lupa tekan vote dulu!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kesan pertama yang Arona dapatkan saat bertatap muka pertama kali dengan Rita adalah perempuan paruh baya itu sangat anggun. Meskipun sudah berumur, dia tetap kelihatan cantik dengan rambutnya yang senantiasa di sanggul ala ibu-ibu pejabat. Ada kacamata baca yang bertengger di hidungnya saat Arona dan Septian memasuki ruangan itu.

Septian menyapa Rita dengan mengecup pipi kiri dan kanannya. Setelahnya, Rita melepaskan kaca mata bacanya, dan menaruhnya di meja bundar yang ada di dekat sofa, berikut dengan buku yang tadi dia baca. Rita menatap ke arah Arona yang berdiri di belakang Septian. Jelas dia melihat Septian berjalan masuk dengan tangan memegangi pinggang perempuan itu.

“Siapa ini, Sep?” tanya Rita.

Septian menarik Arona agar semakin dekat dengannya. “Dia Arona, Mom. My future gilrfriend, maybe?” Tanpa malu Septian kembali mengenalkan Arona sebagai calon kekasihnya.

Rita menatap Arona dengan tatapan menyelidik. Pandangannya meneliti Arona dari atas sampai bawah, membuat Arona gelisah sendiri. Perlahan, sebuah senyuman terbit dari bibir Rita. “Apa akan berakhir seperti sebelumnya?” tanyanya.

Ini bukan pertama kali Septian mengenalkan seorang perempuan kepadanya. Tiap di kenalkan, tidak ada yang berakhir di jenjang pernikahan.

Arona menoleh ke arah Septian yang menelengkan kepalanya sembari mengangkat satu alisnya. Tidak mau menggiring berbagai asumsi tidak mengenakkan, Arona memperkenalkan dirinya secara resmi kepada Rita. “Halo, Tante. Saya Arona, asisten pribadi Pak Septian.” Arona menyalami tangan Rita dengan sopan.

Rita tersenyum melihat Arona yang menyapa dengan sopan, sedikit berbeda dengan perempuan sebelumnya yang pernah dekat dengan Septian. “Oh, iya, Arona. Bukan calon pacar Septian?” godanya sembari terkekeh.

Arona tersenyum, sedikit melirik ke arah Septian yang sudah duduk di sofa seberang Rita. “Belum tahu, Tante. Ke depannya enggak ada yang tahu. Tapi, untuk sekarang, Saya masih asisten pribadi Pak Septian.”

Rita tertawa. “Yaudah. Mudah-mudahan berjodoh, ya? Jangan sama kayak perempuan lain yang pernah Septian kenalin ke Tante.”

Arona tersenyum tipis. Dia membawa tubuhnya untuk duduk di sebelah Septian. Jadi benar, bukan dirinya yang pertama kali. Padahal Arona sudah berbesar hati, merasa paling istimewa karena di kenalkan dengan orang tuanya di saat hubungan mereka masih dalam masa pendekatan. Seorang Septian, laki-laki matang dengan karir yang bagus, pasti pernah menyelami banyak kisah cinta dengan berbagai perempuan.

“Kenapa enggak menginap di sini, Sep? Biasanya, setiap kamu ke LA selalu menginap di rumah.” Rita menatap ke arah Septian.

Septian mengusap tengkuknya, sudut matanya bisa melihat jika kini Arona tengah menatap ke arahnya. Terbongkar sudah kebohongannya perihal hotel. “Lagi pengen menginap di hotel aja, Mom. Mau cari suasana baru.”

SEPARO (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang