Part 25

50.4K 2.9K 118
                                        

Happy reading💗

Pagi hari telah tiba dan Nevan kini sudah bangun terlalu pagi, tepat para pelayan yang baru bangun dan menyiapkan untuk sarapan serta mulai beberes. Sebenarnya pria itu lebih tepatnya tidak tidur, Nevan sedari semalam hanya rebahan dan memejamkan matanya, mencoba untuk terlelap namun tidak bisa, lantaran memikirkan keadaan Sena. Ia tidak tenang jika belum melihat wanita itu terlebih dahulu.

Sehingga kini Nevan keluar dari kamarnya terlalu pagi hanya karena tak sabar untuk melihat keadaan Sena. Bahkan pria itu kini sudah berdiri di depan pintu kamar istrinya.

Tangan Nevan mengambang saat berniat untuk mengetuk pintu kamar itu, ia mengurungkan niatnya memilih diam menunggu sampai pintu kamar itu terbuka. Meskipun kini jam masih menunjukkan pukul lima pagi.

Sedangkan di posisi Sena, wanita itu masih asik tertidur pulas. Tanpa tau ada seorang pria yang mencemaskan keadaannya sampai sekarang.

**********

Disisi lain, bi Rama sedang cemas karena dari semalaman tadi berusaha untuk menghubungi ponakannya, namun tidak bisa. Bahkan sampai pagi ini pun Markisa tidak bisa di hubungi. Mungkin nanti sore setelah semua tugasnya selesai ia akan mencoba pergi ke tempat tinggalnya Markisa.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak itu?" gumamnya, khawatir.

"Bi Rama!" seruan dari seseorang membuat Bi Rama mengalihkan atensinya. Terlihat Fera dengan salah satu pelayan lainnya yang kini menghampirinya.

"Bukankah ini sudah waktunya kerja, seharusnya bibi beres-beres bukannya malah asik di kamar main ponsel!" tegur Fera tak suka. Karena kebiasaan Bi Rama ternyata tidak berubah, dulu saat wanita paruh baya itu masih menjabat sebagai kapala pelayan juga sering leha-leha seenaknya sendiri.

Tapi posisinya sekarang Bi Rama sama dengan pelayan lainnya, harusnya dia sadar diri bukan. Oleh sebab itu kini banyak yang membencinya terang-terangan.

Bi Rama berdecak kesal, ia menyimpan ponselnya kemudian berlalu pergi melewati Fera dan pelayan lainnya itu dengan menyenggol bahu keduanya.

"Dasar, sudah tua tapi tidak tau diri," sinis pelayan itu.

"Sebaiknya kamu pergi lanjutkan pekerjaan tadi saja yang tertunda, sebentar lagi hampir jam tujuh pasti tuan akan segera bangun. Aku mau ke kamar nona dulu untuk melihat keadaannya," ujar Fera yang diangguki pelayan itu.

Fera lantas segera menunju kamar milik Sena, sesaat sampai disana ia dibuat terkejut dengan adanya Nevan yang kini tertidur di depan pintu milik nonanya.

"Apakah tuan muda tidur disini semalaman?" gumam Fera pada dirinya sendiri. Ia lantas mencoba untuk membangunkan Nevan, karena bagaimanapun sebentar lagi waktunya sarapan.

"Ehmm, tuan?" panggil Fera hati-hati.

Nevan yang merasa adanya kehadiran seseorang pun membuat ia terusik. Pria itupun perlahan membuka matanya.

Mengerjapkan matanya berulang kali saat melihat kedatangan pelayan pribadi Sena, langsung saja Nevan berdiri, ia berdehem pelan.

Fera membungkukkan badannya. "Maaf tuan, saya disini ingin membangunkan nona," ujarnya memberitahu.

Nevan mengangguk, lantas ia memilih pergi meninggalkan Fera yang masih terdiam.

"Sebenarnya tuan kenapa ya?" ucapnya bingung, sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Fera mengangkat bahunya acuh, lantas wanita itu mencoba untuk mengetuk pintu kamar nonanya.

"Nona ini saya, Fera." ujar Fera sedikit keras.

SENANDUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang