Happy reading 🐸
Nevan kini sudah berada di mobilnya untuk menuju kantor. Pria itu sedari tadi tersenyum tipis lantaran mengingat tadi memeluk Sena. Walaupun tergolong singkat karena wanita itu melepas pelukannya paksa, namun Nevan tetap senang.
"Hangat dan nyaman!" gumamnya, tersenyum.
Mengingat suatu hal yang ia lupakan Nevan lantas merogoh ponselnya, mengetikan beberapa pesan pada seseorang dengan tangan satu. Setelah selesai ia lantas meletakkan ponselnya kembali dan bergegas agar cepat pergi ke kantor.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk ia sampai di kantornya, Nevan pun langsung memasuki gedung kantornya dan menunju ke ruang kerjanya. Di depan pintu ruang kerjanya ia sudah melihat Leo yang berdiri disana.
"Selamat pagi tuan!"
"Hm, bagaimana?"
"Semua media yang sempat menyebarkan situasi kemarin sudah saya tutup dan blokir Tuan." jelas Leo, membuat Nevan mengangguk puas.
"Tuan?" Nevan mengernyit heran lantaran mendengan nada gugup dari Leo.
"Apa yang sebenarnya kau mau katakan lagi Leo. Jangan buang-buang waktuku, cepat!" desis Nevan, tak suka.
"Anu tuan, di dalam ada tuan Cavuer yang menunggu Anda," jawaban gugup.
Nevan tersenyum sinis mendengar itu, "apa yang si bodoh itu lakukan di pagi-pagi seperti ini," gumamnya tak minat, seraya kakinya melangkah masuk ke dalam ruangannya.
Di dalam kini Nevan melihat Cavuer yang sedang asik memainkan ponselnya tanpa terusik akan kehadirannya.
Tanpa basa-basi ia langsung menghampiri Cavuer dan menendang meja kecil yang ada di depan pria itu.
Brak
Cavuer sedikit tersentak karena ia yang masih fokus membaca laporan di ponselnya. Pria itu langsung menatap Nevan yang kini menatap tajam dirinya.
"Mau apa kau datang ke kantorku di pagi-pagi seperti ini hah!" desis Nevan tak suka pada pria di depannya ini.
Mendengar itu Cavuer menatap datar Nevan. "Disini aku sebagai tamu, seharusnya kau menghormati tamu mu!" balasnya.
"Kau bukan tamuku, selebihnya malah pengganggu bagiku. Jadi cepat katakan apa maksud tujuanmu datang kemari, karena aku sibuk!"
Cavuer terkekeh mendengar itu, ia lantas berdiri, pria itu menatap remeh Nevan.
"Lepaskan Sena, biar aku yang akan merawatnya!" ujar Cavuer tenang.
Bug
"Brengsek, apa kau tidak salah dengan perkataanmu itu hah!" maki Nevan, setelah melayangkan pukulannya di pipi Cavuer.
Cavuer tidak membalas pukulan dari Nevan. "Sama sekali tidak, aku bahkan kesini meminta dengan baik-baik padamu!" sahutnya datar, sembari mengusap darah yang ada disudut bibirnya.
"Dalam mimpimu, karena Sena sampai kapanpun tidak akan ku lepaskan!"
Cavuer berdecih sinis mendengar itu. "Kau tidak usah serakah brengsek, aku tau kalau kau juga berhubungan dengan office girls mu itu. Jadi lebih baik lepaskan Sena!"
Mata Nevan berkilat tajam. "Omong kosong apa yang kau katakan hah, sampai kapanpun yang sudah menjadi milikku akan selamanya tetap milikku!"
"Camkan itu!"
Mendengar itu Cavuer mengepalkan kedua tangannya erat, ia tak menjawab. Pria itu memilih pergi meninggalkan Nevan.
Nevan menatap kepergian Cavuer dengan tatapan yang sulit di artikan, pria itu beberapa kali menghela nafas guna meredamkan emosinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SENANDUNG
AcakSenandung Rengganis adalah sosok karakter figuran dalam novel yang sangat menyedihkan, ia digambarkan dengan wajah yang buruk rupa serta sifatnya yang lemah mudah ditindas. Sosok tersebut juga selalu menjadi rasa pelampiasan amarah karakter protagon...
