19| Banyak Hal Yang Dimulai Darinya

12 7 0
                                        

[Chasing Idol by SADNESS SECRET]

"Kadang Aku Merasa Terlalu Sering Mencari Perhatian, Membuat Candaan Yang Seharusnya Tidak Kukatakan, Atau Berdiri Sedikit Lebih Dekat. Tapi Kalau Bukan Begitu, Bagaimana Dia Akan Tahu Aku Ada?"

...

"Guys, aku harus balik sekarang," kata Evan melihat ke arah Aleena dan Ryan.

Aleena merasa sedikit heran dengan Evan yang tiba-tiba berpamitan pulang. Tapi Aleena tak bertanya lebih lanjut. "Oke, aku anterian ke depan yah," ucap Aleena.

"Hati-hari Van," kata Ryan.

Aleena dan Evan lalu keluar bersama-sama. Sementara Ryan tetap dengan tontonannya. Evan nampak begitu terburu-buru. Bahkan Evan tak mengucapkan apa-apa kepada Aleena saat ia hendak pergi.

Aleena tetap berada di sana hingga mobil Evan hilang dari pandangannya. Entah kenapa Aleena merasa ada kegelisahaan yang menyelimuti hatinya. Tapi Aleena tak tau apa itu. Bahkan tak mengerti.

Kemudian Aleena masuk kembali ke dalam rumah. Duduk di sofa, di sebelah Ryan yang tak berpaling dari tv.

"Yan, kamu tau ga Evan lagi punya masalah apa gitu?" tanya Aleena.

"Masalah gimana?" tanya balik Ryan.

"Ya masalah. Atau mungkin dia aneh belakangan ini?" jelas Aleena.

"Dia baik-baik aja kok. Tapi anaknya emang tertutup banget. Ga suka curhat," balas Ryan

Ucapan Ryan membuat Aleena sedikit kepikiran. Jika Evan tidak suka curhat mengenai isi hatinya, bisa saja ia menyimpan sebuah luka, entah kecil atau besar. Luka kecil bisa membesar, dan luka besar bisa menjadi lebih besar. Jadi seperti apapun luka itu, luka tetap saja luka. Perlu diobati.

Mungkin pikiran Aleena terasa berlebihan. Tetapi kekhawatiran pasti akan tetap ada. Apalagi menyangkut seseorang yang kau sayangi. Perasaan akan jauh lebih sensitif dari biasanya.

***

Ketika matahari telah tenggelam. Dan hanya bulan dan bintang yang melihat dari atas sana. Aleena sedang memegang ponselnya dengan erat. Ada kegelisahan yang mengalir kecil di tubuhnya.

Di layar ponsel Aleena terlihat sebuah foto yang pernah Aleena ambil saat pertandingan bola yang ia saksikan bersama Evan. Foto itu Aleena ambil secara diam-diam. Jadi hanya kaki Aleena dan Evan yang tertangkap kamera.

Ada sedikit keraguan pada diri Aleena karena ia ingin mengupload foto itu di story whatsapp.

Aleena lalu menarik nafas panjang. Lalu membuang nafas bersamaan dengan senyuman. Caption yang Aleena berikan untuk foto itu adalah, kenangan yang membekas.

Story telah Aleena buat. Sekarang tinggal menunggu respon dari seseorang yang ada di dalamnya. Aleena begitu penasaran, apakah Evan menyadari bahwa dia ada di dalam foto itu?

"Kok belum ada suara chat masuk sih," gumam Aleena setelah melempar ponselnya ke jarak yang cukup jauh di atas ranjang tempat ia juga duduk.

Secara berulang Aleena mengintip layar ponselnya yang masih saja berwarna hitam. Itu membuat Aleena terus menggerutu. Ia lalu berbaring di atas ranjang. Harapan semakin pupus.

Tetapi walau tak ada pesan masuk sama sekali untuknya, Aleena mengambil ponsel miliknya itu. Membuka story yang ia unggah tadi. Aleena ingin melihat apakah Evan sudah melihat atau belum. Jika sudah berarti percuma menunggunya untuk membalas unggahan itu. Jika belum maka masih ada harapan.

"Huftttttt..." hembusan nafas kencang yang Aleena keluarkan.

Aleena memiringkan wajahnya, menutup satu mata, dan mengintip dengan mata yang lain ke arah layar ponsel. Ia telah membuka halaman yang memuat orang-orang yang telah melihat unggahannya. Pada nama-nama paling atas tak ada nama Evan. Jari Aleena bergerak menggeser hingga ke bawah. Hingga nama Evan terlihat di sana.

"PERTAMA?!!!" teriak Aleena. Ia melempar ponselnya dengan keras keranjang, lalu membungkam mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.

Pencapaian yang luar biasa. Walau tak di reply setidaknya menjadi penonton pertama adalah sebuah hal besar. Aleena yang dikuasai rasa senang melompat-lompat di atas kasur sambil berteriak. Tertawa dengan lepas seperti tak memiliki beban.

***

Sebelum matahari tampak dari timur. Aleena sudah siap dengan pakaian olahraga. Pagi itu Aleena menggunakan kaos putih, jaket dan celana olahraga berwarna biru dan rambut kuncir kuda. Karena bersemangat Aleena hanya sarapan dengan satu gelas susu. Dina sampai bingung dengan Aleena yang hari ini tiba-tiba ingin olahraga di taman kota.

Aleena pergi dengan menggunakan mobil kesayangan. Selama perjalanan hanya satu hal yang Aleena pikirkan, apakah Evan sudah ada di sana?

Ketika sampai, Aleena memarkirkan mobil di tempat yang telah di sediakan. Taman itu sudah ramai walau matahari belum terbit. Ternyata bukan hanya Aleena yang bersemangat hari ini.

Mata Aleena terus mencari ke sana ke mari, di antara banyaknya orang yang sedang berolahraga. Karena tak kunjung terlihat dari jarak Aleena berdiri, Aleena kemudian masuk ke jalur lari. Tak menunggu lama, Aleena sudah menemukan Evan yang juga sedang berlari di depannya.

Langkah Aleena semakin cepat, menyusul Evan yang berada di depan. "Evan," panggil Aleena yang sudah selaras dengan Evan.

"Aleena? Kok bisa di sini?" tanya Evan.

"Lagi olahraga," jawab Aleena.

"Keliatan sih," balas Evan sambil tersenyum lebar.

Lagi-lagi senyum yang membuat Aleena tertegun. Hingga tak bisa berkata-kata.

"Sendirian?" tanya Evan.

"Iya, Ryan pemales, ga bisa di ajak produktif," jawab Aleena.

"Nora?" tanya Evan.

"Dia sukanya yoga," kata Aleena.

Mereka kembali melempar senyum sesaat. Hingga kembali fokus pada apa yang sedang mereka lakukan saat ini.

Beberapa putaran sudah dilewati. Sudah dua jam mereka berdua berlari di lintasan. Energi Aleena sudah terkuras habis. Energi Evan terlalu besar, tak sanggup Aleena imbangi.

Akhirnya Aleena berakhir di kursi karena sudah tak sanggup berlari lagi. Nafasnya sudah terengah-engah, keringat bercucuran deras, dan matanya sudah tak bisa fokus lagi. Bodohnya lagi, Aleena lupa membawa air minum.

"Buat kamu," kata Evan saat memberikan botol air minum kemasan kepada Aleena.

Aleena mengangkat wajahnya melihat ke arah Evan. "Itu kan punya kamu," kata Aleena.

"Kamu lebih butuh dari pada aku," jawab Evan. Matahari yang baru-baru terbit tepat di belakang Evan membuat sosok Evan begitu bercahaya, indah, dan membuat Aleena terpana. Rasanya hanyut dalam keindahan yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata.

"Al?" panggil Aleena.

Panggilan itu membuat Aleena tersadar kembali. "Makasih," jawab Aleena setelah mengambil botol air minum.

Minuman itu Aleena minum dengan memalingkan wajahnya dari Evan. "Bisa-bisanya aku terhipnotis," batin Aleena ketika minum.

Aleena telah selesai dengan kehausannya. "Nanti aku ganti airnya," ucap Aleena.

"Udah makan?" tanya Evan.

"Belum," jawab Aleena pelan.

"Mau makan bareng?" kata Evan. "Aku tau tempat makan yang enak deket sini," lanjutnya.

"Mau," jawab Aleena. Ia berusaha menahan senyum dan teriakan yang ingin keluar dengan lantang. "Modus apa yah yang manjur," batin Aleena.

Mereka berdua kemudian berjalan bersama ke tempat yang Evan rekomendasikan. Aleena rela makanan apapun itu, termasuk sayuran hijau yang tak ia sukai. Asalkan makan bersama Evan, semua makanan akan menjadi nikmat.


TO BE CONTINUE

Chasing Idol [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang