[Chasing Idol by SADNESS SECRET]
"Kadang Aku Bodoh, Melakukan Hal-Hal Kecil Untuk Menarik Perhatiannya. Tapi Entah Kenapa, Aku Tetap Berharap Setiap Kali Dia Tersenyum, Senyuman Itu Untukku."
...
"Intinya jangan di ulangi lagi," kata David.
Setelah memastikan Aleena, Ryan, Evan dan Nora tidak memiliki kelas lagi, kedua dosen itu menyuruh mereka semua untuk pulang.
Ryan dan Aleena pergi bersama dengan papah mereka masing-masing. Ryan pulang sendiri setelah di pastikan pulang oleh Adam. Sementara Aleena pulang dengan dianterkan oleh David.
Semenjak kejadian itu Aleena memutuskan untuk kembali membawa mobil sendiri. Ia berpikir untuk mengganti strateginya. Lagipula tak mungkin menjadikan mobil rusak sebagai alasan untuk pulang bersama Evan. Rumah mereka juga tak searah.
***
"Aduh besok rabu..., minggu ini full kuis," keluh Aleena.
"Biasanya semangat kalau lagi mau ujian? Katanya seru bikin deg-degan," balas Nora.
"Iyaaa... tapi aku jadi harus fokus ke ujian. Ga bisa fokus ke Evan lagi," balas Aleena dengan suara lesu dan wajah cemberut.
"Cuma beberapa hari doang," sindir Nora sambil tertawa kecil.
Aleena menghela nafas panjang sambil mengerang kesal. Nora dibuat tertawa karena tingkah lucu Aleena.
Tak ada yang bisa mengeluarkan Aleena dari sifat ambisius. Keteguhannya dalam belajar sudah mendarah daging. Minggu ujian ini sungguh Aleena gunakan untuk fokus belajar. Tak ada hal lain yang Aleena pikirkan.
Sesekali Aleena berkunjung ke rumah Ryan untuk meminjam buku. Selebihnya Aleena menggunakan waktunya untuk belajar selama berjam-jam di kamar.
Hingga minggu berat terlewati. Terasa berat bukan karena ujiannya, tetapi karena tak bertemu dengan Evan. Aleena sudah tak sabar ingin melihat Evan lagi. Oleh karena itu di hari sabtu ini, Aleena sudah menyiapkan rencana untuk merayakan pertemuan kembali dengan Evan.
"Dia dateng jam berapa hari ini...," gumam Aleena penuh semangat. Bahkan angin yang ia rasakan di balkon terasa lebih sejuk dan nikmat, lebih dari biasanya.
Kala menunggu, Aleena melihat pohon-pohon yang bergerak mengikuti arah angin yang berhembus pelan, burung-burung yang berterbangan dengan semangat, dan matahari yang bersinar dengan cerahnya.
Rasa tak sabar yang berkecamuk hebat, membuat perut terasa tergelitik. Senyum simpul yang terus menghiasi wajah Aleena. Harapan itu terus membesar setiap detiknya. Harapan akan kehadiran seseorang yang kau rindukan.
Walau telah menunggu selama beberapa jam, waktu yang berlalu itu tak terasa untuk Aleena. Hingga sosok yang ditunggu tiba. Evan keluar dari mobilnya. Sosoknya yang terus indah, membuat Aleena terpukau dan terus terpaku padanya. Setiap detik mata Aleena menangkap sosok Evan, setiap detik itu pula rasa senang menyelimuti.
"Evan..., aku kangen." Aleena tersenyum lembut dalam balutan rindu.
Aleena yang begitu bersemangat berlari meninggalkan balkon kamar. Dengan wajah sumringah yang tak pudar sedikitpun.
Aleena tiba di dapur. Dengan antusias yang tinggi, Aleena membuka beberapa panci yang ada di atas kompor. Aroma masakan yang begitu nikmat membuat semangat Aleena meningkat.
"Semangat banget," ucap Dina yang baru saja tiba di dapur.
"Mah, masakan Aleena beneran enak?" tanya Aleena penuh harap.
"Iyaaa, enak kok," jawab Dina dengan senyum lebar.
"Yesss!." Aleena senyum dengan gembira. "Aleena ke rumah Ryan dulu ya mah," lanjut Aleena.
Perjalanan yang Aleena lakukan dengan senyuman yang terus menghiasi wajah. Ketika tiba di rumah Ryan, Aleena menghampiri Mala yang sedang menonton tv di ruang tengah.
"Hallo tante," sapa Aleena.
"Eh ada Aleena."
"Tante, Ryan mana?" tanya Aleena.
"Ada di kamarnya. Ada Evan juga," jawab Mala.
"Ouhh..."
"Kamu jadi mau ajak mereka makan siang di rumah kamu?" tanya Mala.
"Jadi dong tante," balas Aleena.
"Tumben kamu masak. Ada apa nih?" tanya Mala.
"Aleena iseng-iseng aja. Jadi mau minta Ryan cobain. Dia kan paling jago roasting Aleena. Jadi kalau ga enak dia pasti ngomong jujur."
"Emang gitu anaknya. Jangan dengerin kalau dia ngomong yang engga-engga. Bila perlu lapor ke tante biar tante marahin."
Aleena tertawa dengan lepas. Mala memang selalu perhatian kepala Aleena sejak kecil. Bahkan sikap jail Ryan kepadanya selalu di balas oleh Mala.
"Kalau gitu Aleena ke Ryan dulu ya tante."
"Iya ke sana aja."
Lalu Aleena menghampiri kamar Ryan. Aleena mengetuk kentu sekali dan memanggil nama Ryan. Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh sang pemilik kamar. Aleena mengintip ke dalam sana. Mengecek apakah Evan ada di dalam sana.
"Kenapa?" tanya Ryan.
"Boleh masuk ga?" tanya Aleena.
"Kayak ga pernah masuk aja," balas Ryan.
"Kali aja udah nganggap aku cewek sekarang," kata Aleena sambil berjalan masuk.
Aleena telah masuk ke dalam kamar. Sosok yang Aleena cari akhirnya ada di depannya. Senyuman indah dan manis langsung Aleena berikan kepada Evan ketika mata mereka bertemu.
"Hi," sapa Aleena.
"Hi," balas Evan.
Entah mengapa kala itu Aleena merasa sedikit canggung. Padahal hanya tidak bertemu beberapa hari saja. Meski rasanya seperti telah berlalu selama lebih dari sebulan.
Evan sedang membaca buku di sofa. Ryan juga kembali duduk di sofa. Sementara Aleena masih berdiri di dekat sana. Ia bingung harus duduk bergabung dengan Ryan dan Evan atau bagaimana. Sepertinya jiwa cegil milik Aleena sedikit pudar.
"Mau ngapain sih sebenarnya?" tanya Ryan.
"Jadi aku kesini karena mau ngajak kalian makan siang di rumah aku. Aku yang masak," jelas Aleena.
"Masak? Kamu? Ga percaya." Ryan tertawa dengan puas.
"Serius, ih." Aleena menatap tajam Ryan yang meremehkannya. "Pokoknya kalian harus ke rumah aku. Aku udah bilang ke tante Mala, jadi tante Mala ga masak deh siang ini."
"Kalau ga enak traktir gue makan steak," balas Ryan.
"Enak aja, ogah." Wajah Aleena begitu kesal dibuat Ryan
"Ada acara apa tiba-tiba ngajak kita makan bareng di rumah kamu?" tanya Evan.
"Ga ada acara khusus. Cuma mau ngajak makan aja," jawab Aleena dengan suara lembut. Berbanding 180 derajat saat bicara dengan Ryan tadi.
"Okey, entar aku ke sana. Bareng Ryan juga," kata Evan.
"Dateng sendiri juga gapapa kok," ucap Aleena.
"What?" oceh Ryan.
Aleena menaikan satu alisnya. Memberikan isyarat bahwa ucapannya serius dan tak peduli dengan protesan Ryan. Setelah itu Aleena pergi dari sana. Ia sudah mengutarakan niatnya, jadi tak perlu berlama-lama di sana. Aleena juga memiliki hal yang harus ia kerjakan.
Ketika di rumah, Aleena menyiapkan segala perlengkapan makan di atas meja. Juga menghidangkan makanan yang telah ia masukan ke wadah di atas meja. Aleena begitu percaya diri dengan masakannya. Jadi Aleena begitu bersemangat untuk melihat reaksi Evan ketika mencoba masakannya.
"Saatnya beraksi," gumam Aleena.
TO BE CONTINUE
KAMU SEDANG MEMBACA
Chasing Idol [END]
Romansa[Mencintai dan Mengejermu Secara Ugal-ugalan] . Aleena Balleza adalah sosok yang sempurna, cantik, pintar, dan berpendirian kuat. Prestasinya yang gemilang dan pesonanya membuat banyak pria terpikat, hingga ia menetapkan satu prinsip: pria yang meng...
![Chasing Idol [END]](https://img.wattpad.com/cover/377969069-64-k619068.jpg)