[Mencintai dan Mengejermu Secara Ugal-ugalan]
.
Aleena Balleza adalah sosok yang sempurna, cantik, pintar, dan berpendirian kuat. Prestasinya yang gemilang dan pesonanya membuat banyak pria terpikat, hingga ia menetapkan satu prinsip: pria yang meng...
"Aku Tak Ingin Memaksa, Hanya Berharap Kamu Melihat. Karena Setiap Perjuanganku Ini, Hanyalah Caraku Untuk Menyampaikan Bahwa Hatiku Telah Lama Memilihmu."
...
Aleena mengikuti Evan yang menggandengan tangannya hingga keluar dari bioskop. Bahkan lumayan jauh dari dari sana. Ketika berhenti, Evan langsung melepaskan tangan Aleena dengan canggung dan meminta maaf jika lancang.
Balasan Aleena tentu saja ia tak masalah dengan itu. Jika bisa diungkapkan maka Aleena akan berkata jika ia justru bahagia karena Evan menggenggam tangannya dengan sadar.
Mereka berdua kemudian sepakat untuk langsung pulang. Karena mobil Evan masih di kampus jadi Aleena mengantar Evan ke kampus. Sebelum ia pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Aleena bertemu dengan mamanya yang sedang memasak untuk makan malam. "Sayang udah pulang," kata Dina.
"Iya, Aleena mau mandi dulu baru turun makan," ucap Aleena.
"Tadi Ryan ke sini tanyain kamu udah pulang atau belum. Pas mama bilang belum pulang dia bilang kamu pergi bareng Evan katanya. Evan yang pernah kamu ajak makan di sini itu yah? Kalian pergi kemana?" tanya Dina.
Di dalam hatinya, Aleena sudah mengatakan kata-kata umpatan untuk Ryan. Dia sungguh berani mengadukan Aleena yang pergi bersama Evan. Ryan pasti menduga itu karena ia mendesak Nora untuk jujur. Karena tak akan bisa bohong jika sudah di pojokan.
"Iya mah, Evan yang itu. Kita cuma nonton kok. Soalnya Aleena punya tiket lebih," jelas Aleena.
"Kenapa ga ajak Ryan juga? Kasian loh dia cariin kamu," balas Dina.
"Dia kan ga suka horror mah," jawab Aleena. "Aleena kegerahan. Mau mandi," lanjut Aleena. Ia segera pergi dari sana untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.
Setelah mandi, rasanya seperti terlahir kembali. Segar, sejuk dan membuat semua hal jadi lebih enak dikerjakan. Tetapi Aleena tiba-tiba malah merasa ingin makan makanan pedas. Jika dipikir-pikir, Aleena sudah lama tak makan makanan kesukaannya yaitu ceker mercon.
Karena Aleena tiba-tiba ngidam ceker pedas, jadinya Aleena tak makan malam di rumah. Aleena pergi ke warung ceker langganannya. Saat SMA, Aleena pasti setiap minggu makan di sana. Penjual ceker sampai sudah akrab dengan Aleena.
Aleena tiba di warung ceker setelah berjalan kaki selama lima belas menit. Walau warung itu terletak di luar perumahan, tapi sangat mepet dengan gerbang masuk perumahan. "Malam mang ucup," sapa Aleena saat masuk ke dalam warung.
"Eh ada neng Aleena. Udah lama ga keliatan," ujar mang ucup. Karena mang ucup adalah orang yang ceria jadi Aleena selalu terbawa ikut ceria setiap berbincang dengannya.
"Iya nih, sibuk kuliah mang," balas Aleena.
"Kirain udah ga suka makan ceker lagi," ucap mang ucup.
"Ga mungkin," balas Aleena sambil tertawa.
"Kayak biasa kan?" tanya mang ucup.
"Iya dong."
"Beres." Mang ucup segera menghidangkan pesanan yang biasanya Aleena pesan. Paket A yang berisi 5 buah ceker ayam dengan nasi dan 1 porsi pentol mercon.
Aleena menunggu dengan tak sabar. Sudah lama sejak terakhir kali ia makan. Padahal makan ceker adalah bagian dari hidup Aleena.
Tak sampai sepuluh menit, mang ucup datang dengan pesanan Aleena. Pesanan Aleena diberikan dengan candaan dengan mang Ucup yang berkata, Aleena sekali-kali diminta untuk datang bersama dengan pacarnya. Jangan makan sendirian terus.
Karena Nora tak bisa makan pedas. Jadi Aleena tak pernah mengajak Nora untuk makan di sana.
Aleena makan dengan lahap. Melepas rindu dengan makanan favorite memang yang terbaik. Di sela-sela makan, Aleena mendapatkan pesan dari Nora. Pesan yang mengagetkan Aleena hingga ia tercengang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berita itu buru-buru Aleena lihat. Bahkan Aleena membesarkan foto yang di upload oleh akun manfess milik kampusnya. Untuk memastikan jika itu benar wajah Evan. Padahal walau tidak di zoom, sudah jelas bahwa itu adalah wajah Evan.
Rasanya Aleena tak bisa bernafas. Dadanya sesak, hatinya pilu, ternyata sosok yang Evan sukai selama ini adalah Anggun Farena. Wanita yang di kenal cantik, anggun, dan kaya. Setelah menunggu sekian lama akhirnya sosoknya muncul.
Entah mengapa Aleena yang awalnya percaya diri bahwa ia memiliki semua kriteria Evan jadi ciut. Jika saingannya adalah Anggun Farena, Aleena rela jika kalah. Karena wanita itu memang cantik bagaikan boneka hidup.
"Aleena kamu kalah," gumam Aleena.
Aleena menggigit bibir bagian bawahnya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Aleena tak bisa untuk makan lagi. Jadi ia menyudahi makannya dan segera pulang ke rumah. Aleena tak ingin menangis di tempat umum.
Kala berjalan memecah gelapnya malam. Aleena tetap saja kepikiran dengan berita itu. Banyak yang mempercayai kebenaran berita itu karena sering melihat Evan bersama dengan Anggun. Walaupun banyak komen yang mengatakan bahwa mereka sakit hati karena Evan dan Anggun pacaran. Mereka berdua memang banyak digilai oleh wanita dan pria. Tetapi banyak juga yang mendukung hubungan mereka.
Satu komentar yang paling teringat oleh Aleena adalah, cowok ganteng memang harus sama cewek cantik. Seneng deh kalau sama-sama goodlooking gini. Jangan ada yang ganggu mereka plisss. Kawal sampai official.
Jika banyak yang merestui hubungan mereka, akan lebih susah untuk mendapatkan hati Evan.
Pemikiran itu membuat air mata Aleena menetes walau sudah berusaha ia tahan. Ternyata begini rasanya patah hati, ternyata begini rasanya kecewa, dan ternyata begini rasanya hancur hingga tak bersisa. Rasanya jauh lebih sakit daripada diselingkuhi.
Cinta bertepuk sebelah tangan pertama yang Aleena alami dalam hidupnya berakhir menyakitkan. Sepertinya tak ada lagi Aleena yang akan menggunakan segala macam trik untuk mendekati Evan. Karena semuanya telah sirna, harapan, semangat dan semuanya.
"Aleena," panggil Ryan. Ryan berlari menghampiri Aleena di jalan sepi itu.
Tak ada satupun orang yang melintas di sana. Tak ada suara, hanya ada kesunyian yang menemani malam. Karena rumah mereka memang di dalam perumahan dan bukan di jalan raya, jadi tak ada suara bising kendaraan di sana.
Ketika Ryan tiba di tempat Aleena, Aleena terlihat sangat sedih. Bibirnya cemberut, matanya merah dengan air mata yang terus menetes dan wajahnya nampak tertekan. Aleena memperlihatkan dengan jelas wajah sedihnya kepada Ryan.
"Lo gapapa?" tanya Ryan, panik.
Aleena menggelengkan kepalanya.
Ryan lalu memeluk Aleena dengan erat. Pelukan itu membuat tangisnya Aleena pecah. Suara tangisan menggema di jalan sepi tanpa orang lain itu. Dekapan Ryan semakin erat kala suara tangis Aleena semakin kencang.
"Udah jangan nangis. Evan belum punya pacar kok," bujuk Ryan sambil mengelus kepala Aleena.
"Serius?" tanya Aleena, mengusap wajahnya yang penuh air mata dan ingus.
"Iya," jawab Ryan terlihat meyakinkan. "Mau aku telepon Evannya sekarang?" lanjut Ryan.
"Mau."Aleena mengangguk kencang dengan wajah yang masih cemberut.