[Chasing Idol by SADNESS SECRET]
"Aku Sudah Melangkah Sejauh Ini Untuk Mengejarmu. Hanya Untuk Menyadari Bahwa Hatimu Sudah Tertambat Pada Seseorang Yang Bukan Aku."
...
"Yaudah, semoga aja Evan mikirnya itu ga sengaja."
Mereka berdua berjalan meninggalkan gedung dengan wajah resah. Terutama Aleena. Entah apa kelanjutan dari kisah cintanya setelah ini.
Tiba-tiba ponsel Aleena berdering. Pertanda panggilan masuk. "Evan?" kata Aleena dan Nora kompak.
Aleena buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Setelah ia lihat ternyata itu tak sesuai dengan dugaannya. Panggilan itu berasal dari Ryan.
Ponsel itu Aleena angkat untuk memperlihatkan layar ponselnya pada Nora. "Yah..." gumam Nora, ikut kecewa.
Aleena lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Kenapa?" tanya Aleena ketus.
"Ye, galak amat," sindir Ryan.
"Cepet, kenapa?" rintih Aleena.
"Nih bedak dari Evan, katanya ketinggalan di mobil dia."
"Ouh... okkey, entar aku ambil ke rumah kamu aja."
"Lagian kok bisa si barang kamu di mobil Evan semua."
"Ya namanya juga jatoh. Udah ah, bye," jawab Aleena. Langsung mengakhiri panggilan.
Aleena menghela nafas panjang. Melepaskan semua rasa yang menyatu menjadi satu. Kesal, kecewa, sedih, bercampur jadi satu.
"Gimana?" tanya Nora, penasaran.
"Barang yang aku jatuhin di mobil Evan di titipin ke Ryan," kata Aleena.
Nora menghela nafas panjang. Ikut resah dengan yang Aleena alami. Modus kedua gagal.
"Terus kamu pulangnya gimana?" tanya Nora.
"Naik taxi aja," jawab Aleena.
"Yaudah, hati-hati yah. Bye," pamit Nora.
Aleena masih berdiri di sana. Bahkan belum memesan taxi online karena masih sedih dengan kejadian barusan. Aleena takut jika Evan berpikiran lain terhadap tindakannya. Jika dipikir-pikir lagi, ucapan Nora ada benarnya juga. Kedua kali bukanlah hal yang tidak disengaja.
"Al." Ryan tiba di sebelah Aleena.
Aleena melihat Ryan dengan wajah heran.
"Kok disini?" tanya Ryan.
"Ini kan kampus aku juga," jawab Aleena, jengkel.
Ryan lalu mengeluarkan barang milik Aleena dari dalam tasnya. Bedak yang Aleena tinggalkan di mobil Evan. Ryan memberikan bedak itu dan Aleena mengambilnya tanpa berkata apa-apa.
"Yuk bareng aku," ajak Ryan.
"Kok tau aku ga bawa mobil?" tanya Aleena.
"Banyak nanya!" balas Ryan. "Udah ayo cepet."
Walau kesal, Aleena tetap pulang bersama dengan Ryan. Rencana Aleena sungguh salah sasaran.
Selama perjalanan pulang, Ryan banyak bertanya mengenai alasan Aleena terus berbuat aneh di depan Evan. Awalnya Aleena enggan menjawab. Sampai pertanyaan berulang dan paksaan dari Ryan membuat Aleena muak. Hingga Aleena bilang kalau dia hanya ingin lebih dekat dengan Evan sebagai teman saja.
Ryan tak percaya dengan jawaban Aleena. Jawaban yang tidak masuk akal melihat semua tindakan Aleena selama ini.
"Kamu suka sama Evan?" tanya Ryan, langsung ke intinya.
Aleena hanya diam. Bahkan terlihat pura-pura tak peduli dengan pertanyaan Evan. Ia melihat keluar jendela tanpa bicara satu patah kata pun.
"Terlalu kentara Al. Lagian bukannya kamu maunya di kerja? Kok bisa tiba-tiba berubah gitu?" tanya Ryan lagi.
Pertanyaan itu membuat Aleena kini berbalik menghadap Ryan. "Yan, lebih baik kamu bantuin aku deketin Evan. Gimana?"
Ryan sontak tertawa dengan keras. Akhirnya dapat melihat maksud Aleena yang sejujur-jujurnya.
"Lebih baik kamu mundur sebelum terlambat. Karena Evan udah punya cewek yang dia suka sejak lama." Ryan berbicara dengan suara lantang.
Kening Aleena berkerut, bibirnya menurun, itu sama buruknya dengan punya pacar. Tapi satu tingkat lebih mending. "Kalau belum pacaran bukannya masih bisa..." gumam Aleena.
"Aku sahabatan sama Evan itu udah lama. Udah tau sikap dia itu kayak gimana. Udah banyak cewek yang deketin dia. Bahkan lebih cantik dari kamu," jelas Ryan.
"Apaan sih," rintih Aleena.
"Tapi ga ada satupun yang berhasil. Kenapa? Karena Evan udah punya cewek yang dia suka itu. Setia banget dia," ucap Ryan.
"Kamu tau siapa cewek itu?" tanya Aleena.
"Sejauh ini sih belum. Tapi Evan pernah singgung dikit. Katanya dia suka sejak pertama kali lihat cewek itu, dia pinter, tegas dan lucu," kata Ryan sambil tertawa. "Baru pertama kali liat Evan senyum malu gitu pas denger dia cerita," lanjut Ryan.
Tubuh Aleena melemas. Cinta yang tak bisa diutarakan, tak bisa didekati, dan tak bisa memiliki walau belum berjuang, adalah cinta yang susah lekang oleh waktu.
Lebih baik disakiti ketika cintamu tak diterima, dari pada terus menyimpannya sendiri. Karena jika kau sakit, setidaknya kau mungkin akan berhenti untuk mencintainya. Tetapi ketika kau terus menyimpan cinta itu sendiri untuk dirimu, itu akan terus ada karena kau hanya merasakan kenyamanan akan rasa itu, tanpa mengenal sakitnya.
"Gimana sekarang...."
***
"Udah jangan nangis terus."
Tisu berserakan di lantai kamar Aleena. Di atas sofa ada Aleena yang sedang duduk dengan derai air mata yang tak kunjung reda.
Nora sudah berusaha menenangkan Aleena selama lebih dari satu jam. Tetapi Aleena tak kunjung berhenti menangis. Mata lebam dan merah, wajah Aleena terlihat jauh lebih menyedihkan daripada ketika ia menangis saat tak diizinkan untuk kuliah di luar negeri.
Satu persatu tisu keluar dari wadahnya. Diambil oleh Aleena untuk menghapus air mata dan ingus yang terus keluar tanpa henti. Lalu dibuang sembarang ke lantai.
Nora menghela nafas panjang, ia sudah resah dan bingung. Sambil mengelus punggung Aleena dan mencoba menenangkan sahabatnya, Nora berusaha memikirkan cara untuk membuat Aleena berhenti menangis.
"Dari pada nangis karena galau, mending kita nyanyi aja. Lebih asyik. Lagu galau gapapa deh. Gimana?" saran Nora, penuh harap.
Aleena kemudian mengangguk sambil mengusap matanya dengan tangan.
Kemudian Nora menyalakan tv yang ada di kamar itu, memutar lagu galau yang relate dengan kondisi Aleena saat ini. Tak lupa juga Nora mengambil dua buah mig yang ada di laci meja.
Lagu yang di putar berjudul, Tentang Rasa yang dinyanyikan oleh Astrid.
~Aku tersesat menuju hatimu. Beri aku jalan yang indah. Izinkan kulepas penatku. 'Tuk sejenak lelap di bahumu~
Aleena dan Nora bernyanyi dengan penuh perasaan. Apalagi Aleena yang penuh penghayatan yang begitu dalam. Larut dalam tiap lirik yang ia nyanyikan, dan nada yang berayun dengan indah.
Tiga jam berlalu dari lagu pertama di nyanyikan. Kedua wanita itu sudah tak sanggup untuk bernyanyi lagi. Hingga duduk lemas bersandar pada sofa.
"Ternyata galau bikin capek juga yah...," gumam Aleena, lesu.
"Pertama kali dalam hidup aku ngerasain galau juga. Galau emang bisa nular yah?" balas Nora.
"Ga pernah denger. Tapi kayaknya iya. Jangan kapok yah, ga enak galau sendirian," jawab Aleena.
"Besok kelas bareng Evan, ada rencana ga?" tanya Nora.
"Selama masih bisaditikung, MARI KITA TIKUNG!" sorak Aleena, menggunakan tenaga terakhir yang iamiliki.
TO BE CONTINUE
KAMU SEDANG MEMBACA
Chasing Idol [END]
Romansa[Mencintai dan Mengejermu Secara Ugal-ugalan] . Aleena Balleza adalah sosok yang sempurna, cantik, pintar, dan berpendirian kuat. Prestasinya yang gemilang dan pesonanya membuat banyak pria terpikat, hingga ia menetapkan satu prinsip: pria yang meng...
![Chasing Idol [END]](https://img.wattpad.com/cover/377969069-64-k619068.jpg)