Part 15

95 40 16
                                        


Malam itu, rumah Clairen terasa begitu hidup. Tawa dan obrolan ringan menghiasi ruang tengah. Setelah makan malam selesai dan semua piring telah rapi di tempatnya, jam dinding menunjukkan pukul 19.30. Clairen, Valeryn, dan Theo memutuskan untuk melanjutkan malam mereka dengan bermain bersama. Ruang tengah, dengan karpet lembut yang hangat dan meja kecil di tengahnya, menjadi tempat sempurna untuk berkumpul.

 Ruang tengah, dengan karpet lembut yang hangat dan meja kecil di tengahnya, menjadi tempat sempurna untuk berkumpul

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Raynar dan Noura, yang tak mau ketinggalan, langsung bergabung dengan mereka. Raynar sibuk membantu Theo mengocok kartu remi, sedangkan Noura duduk manis di antara Clairen dan Raynar, memperhatikan dengan penuh semangat.

"Jadi, apa kita main serius atau sekadar asal main?" tanya Valeryn dengan nada menggoda sambil menumpuk kartu di tangannya.

Theo menyeringai. "Main serius lah. Pakai strategi, tentu saja! Ini bukan cuma soal keberuntungan. Raynar, dengar ini, permainan kartu juga melatih analisis dan strategi," ucap Theo dengan wajah serius.

Raynar mengangguk, meskipun jelas ia lebih bersemangat untuk menang ketimbang menganalisis apa pun. Clairen hanya tertawa kecil melihat semangat adiknya itu.

Mereka memutuskan bermain dengan empat pemain, yaitu Clairen, Valeryn, Theo, dan Raynar. Sementara itu, Noura tetap setia duduk di samping Clairen, mengamati setiap kartu yang dimainkan. Sesekali, ia menunjuk kartu di tangan Clairen sambil berbisik pelan, "Kak, kok kartunya dibuang?" yang hanya membuat Clairen terkekeh.

Tepat di belakang mereka, Mama dan Papa Clairen duduk di sofa, menonton televisi. Namun, perhatian mereka lebih banyak tertuju pada anak-anak mereka yang sedang bermain. Sesekali, mereka tertawa mendengar candaan yang dilontarkan Clairen dan Valeryn atau melihat ekspresi serius Theo, serta Raynar yang juga tak mau kalah.

Permainan berlangsung seru. Raynar, yang biasanya ceria, tiba-tiba memasang wajah serius saat hampir menang. "Awas saja, aku akan mengalahkan kalian semua!" katanya penuh percaya diri.

"Jangan terlalu percaya diri, Ray," balas Theo sambil memainkan kartunya dengan dramatis.

Noura tertawa kecil, "Hati-hati, Kak Ray! Jangan sampai kalah dari Kak Theo."

Permainan diiringi dengan tawa dan komentar konyol, membuat suasana makin ramai. Ketika akhirnya Theo memenangkan putaran pertama, ia merentangkan tangan dengan gaya penuh kemenangan. "Lihatlah, strategi selalu menang!"

Namun, sebelum mereka memulai putaran berikutnya, Clairen mengingatkan sesuatu. "Oh iya, Ve, Theo, kita kan besok pagi mau ke pantai. Harus minta izin dulu ke Mama Papa."

Valeryn dan Theo mengangguk. Clairen pun menoleh ke arah sofa yang di duduki oleh Mama dan Papa-nya. "Ma, Pa, besok pagi aku, Ve, dan Theo mau ke pantai. Boleh, kan?"

Papa Clairen mengangguk dengan senyum lebar. "Boleh, sayang. Tapi ingat, jangan terlalu lama ya, gak usah sampai siang."

"Iya, Pa," jawab Clairen sambil tertawa kecil.

App-Tastic LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang