Deru mesin mobil Clairen perlahan mereda ketika kendaraannya memasuki area parkir basement hotel. Ia menginjak pelan rem, membiarkan mobilnya berhenti dengan lembut sebelum akhirnya mematikan mesin. Mengambil tas kecil miliknya di kursi penumpang, ia menarik napas panjang, lalu membuka pintu dan turun dengan langkah yang sedikit ragu.
Tangannya otomatis merapikan dress putih yang ia kenakan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang entah mengapa terasa lebih kencang dari biasanya. Ia membuang napas kasar, menyadari bahwa pikirannya masih dipenuhi pertemuannya yang tak terduga dengan Wira di jalan tadi.
Jaraknya dengan lift hanya sekitar empat mobil. Clairen melangkah pelan, derap sepatu haknya menggema samar di lantai parkiran yang lengang. Ketika pintu lift terbuka, ia melangkah masuk dan menekan tombol ke lantai delapan, tempat ballroom besar hotel ini berada.
Selama lift bergerak naik, Clairen berusaha menenangkan dirinya dengan terus-menerun mengatur napas. Tapi tetap saja, semakin dekat ia ke ruangan acara, semakin berat langkahnya terasa. Ada sesuatu yang menggangu di hatinya, membuatnya enggan untuk benar-benar menghadapi malam ini.
Ting.
Suara bel lift berbunyi begitu tiba di lantai delapan. Pintu terbuka, memperlihatkan beberapa orang yang tampaknya juga akan menghadiri acara reuni. Beberapa wajah tampak familiar, beberapa tidak. Clairen menarik napas dan melangkah keluar, menelusuri koridor panjang hotel menuju ballroom yang berada di ujung.
Langkahnya terasa lambat, bukan karena dress atau sepatu yang dikenakannya, melainkan karena pikirannya yang berkecamuk. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok Valeryn atau Theo, berharap bisa masuk ke ruangan bersama mereka. Tapi sejauh matanya memandang, tak ada tanda-tanda kehadiran dua sahabatnya itu.
"Gue gak mau masuk sendirian," gumamnya pelan.
Namun, tak ada pilihan lain. Clairen akhirnya sampai di depan pintu ballroom. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia bisa melihat bagaimana ruangan itu dihiasi dengan elegan, dominasi warna putih dan silver menciptakan suasana mewah. Di dalam, sudah banyak alumni yang berkumpul, berbincang dan tertawa, mengenang masa lalu mereka di SMA Nusa Bahasa.
Clairen melangkah masuk dengan ragu. Pandangannya langsung memindai ruangan, mencari keberadaan Valeryn atau Theo di antara keramaian. Baru saja ia akan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi salah satu dari mereka, suara familiar menghentikan langkahnya.
"Clay."
Tubuh Clairen membeku.
Suara itu. Suara yang sudah lama tak ia dengar, tapi masih begitu familiar di telinganya. Perlahan, ia berbalik, dan di sana, tepat di belakangnya, berdiri seseorang yang tentu saja ia kenal.
Wira.
Mata mereka bertemu. Wira berdiri dengan tangan di saku celananya, mengenakan setelan semi formal yang membuatnya terlihat lebih dewasa dibanding terakhir kali Clairen melihatnya. Sejenak, tidak ada yang berbicara. Seolah waktu berhenti di antara mereka.
Clairen berusaha membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tak kunjung keluar. Bibirnya ingin menyapa namun tak ada satu pun suara yang keluar dari mulut Clairen. Ketika pria itu benar-benar berdiri di hadapannya lagi, semuanya terasa begitu sulit.
Wira tersenyum tipis, seolah bisa membaca kegugupan Clairen. "Sudah lama, ya?"
Clairen hanya mengangguk pelan.
"Bagaimana kabarmu?" lanjut Wira, suaranya terdengar lembut.
Clairen menelan ludah, memaksakan senyum. "Baik." Itu kebohongan kecil. Karena faktanya, ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
App-Tastic Love
Romance[Hiatus hingga Desember 2025] Clairen Jaya, gadis periang yang menjalani kehidupan perkuliahan layaknya mahasiswa biasa. Namun, saat libur semester tiba Clairen merasa terjebak dalam rutinitas yang sunyi. Untuk mengusir kebosanan, ia mengunduh seb...
