Malam puncak reuni sudah lebih dari seminggu yang lalu.
Sore itu, Clairen menikmati waktunya di mini library miliknya. Aroma buku memenuhi ruangan kecil yang tertata rapi dengan rak-rak berisi koleksi pribadinya. Ia berjalan perlahan ke arah jendela yang berada di salah satu sisi ruangan, lalu membuka daun jendela lebar-lebar.
Udara sore yang sejuk menyambutnya, mengusap lembut wajahnya. Langit masih cerah meski sudah pukul empat sore. Warna biru lembut membentang luas dengan beberapa gumpalan awan tipis yang melayang tanpa arah.
Tatapan Clairen terhenti pada sekelompok anak kecil yang sedang bermain di bawah sana. Mereka tertawa riang, berlarian mengejar satu sama lain, tanpa beban, tanpa perlu memikirkan hal-hal yang membingungkan seperti dirinya saat ini.
Sesaat, pikirannya melayang kembali ke malam puncak reuni. Sejak saat itu, ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya, sesuatu yang berusaha ia abaikan tetapi tetap muncul di sudut pikirannya.
Ucapan Wira.
"Kita perlu bicara."
Sederhana, tetapi cukup untuk menimbulkan rasa penasaran yang sulit ia enyahkan. Setiap kali mengingatnya, ia selalu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ingin dikatakan Wira? Apa hal yang masih perlu dibahas setelah semua waktu yang telah berlalu?
Namun, ia terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah sesuatu yang penting. Wira adalah bagian dari masa lalu. Tidak ada alasan baginya untuk membiarkan perasaan atau kata-kata itu kembali mengganggu dirinya yang sekarang.
Namun, tetap beberapa saat yang lalu Wira mengirim sebuah pesan melalui Instagram.
Clairen menghela napas pelan, jari-jarinya masih menggenggam ponsel dengan erat. Notifikasi pesan dari Wira masih terpampang di layar, menunggu untuk dibuka. Pikirannya terus berputar, bertanya-tanya apa yang sebenarnya diinginkan pria itu setelah dua tahun berlalu tanpa satu pun kata yang terucap di antara mereka.
Jemarinya bergerak, hampir saja menyentuh notifikasi itu sebelum ia menarik tangannya kembali. Ia menatap layar ponselnya, lalu mengarahkan pandangan ke luar jendela lagi. Anak-anak di bawah sana masih bermain riang, suara tawa mereka mengisi udara sore yang tenang. Seandainya pikirannya bisa selega dan semudah itu, tanpa harus dipusingkan oleh bayangan masa lalu yang tiba-tiba kembali menghampiri.
Clairen mengingat dengan jelas kejadian itu, betapa hatinya hancur saat mengetahui Wira dan Nadine. Bukan sesuatu yang terjadi tanpa sengaja. Tentu saja mereka sadar atas perbuatannya. Tak ada alasan, tak ada pembenaran. Hanya pengkhianatan yang nyata.
Jadi, apa lagi yang perlu dijelaskan? Apa lagi yang bisa diungkapkan Wira yang akan mengubah kenyataan itu?
Clairen menghela napas panjang, matanya masih terpaku pada notifikasi pesan dari Wira.
"Hi, Clay. Malam ini lo sibuk ga?."
Clairen menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang. Ia tahu, membalas pesan itu akan membuka celah bagi Wira untuk kembali masuk ke kehidupannya—sesuatu yang selama ini ia hindari. Namun, ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada bagian kecil dalam dirinya yang masih dihantui pertanyaan, kenapa Wira mengkhianatinya? kenapa harus pengkhianatan yang menjadi alasan hubungan mereka berakhir.
Ia kembali menatap langit. Langit sore masih cerah.
Tangannya terangkat, menutup jendela perlahan. Angin sore yang masuk tadi terasa terlalu dingin untuk suasana hatinya saat ini. Ia kembali duduk di kursi baca favoritnya, matanya melirik ponsel yang masih menampilkan notifikasi pesan dari Wira.
KAMU SEDANG MEMBACA
App-Tastic Love
Romance[Hiatus hingga Desember 2025] Clairen Jaya, gadis periang yang menjalani kehidupan perkuliahan layaknya mahasiswa biasa. Namun, saat libur semester tiba Clairen merasa terjebak dalam rutinitas yang sunyi. Untuk mengusir kebosanan, ia mengunduh seb...
