Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, memberikan semburat jingga yang indah di langit, udara segar menyambut Clairen yang sudah berdiri di depan rumah sambil memeriksa barang bawaan mereka. Pagi itu, rumah Clairen dipenuhi hiruk pikuk persiapan perjalanan ke pantai. Di sebelahnya, Valeryn sibuk dengan ponselnya.
"Clay, lo gak mau bawa kamera polaroid? Lucu tau kalau foto pakai itu" tanya Valeryn tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Clairen mengangguk sambil menepuk tasnya. "Bawa kok. Lo tenang aja. Semua aman."
Tak lama kemudian, suara klakson terdengar dari mobil berwarna hitam, Theo sudah berada di kursi pengemudi. Raynar melambai dari jendela depan, wajahnya terlihat penuh semangat.
"Ayo naik!," teriak Raynar dengan penuh semangat.
Clairen hanya menggeleng, sedikit geli melihat adiknya yang terlalu antusias. Ia dan Valeryn masuk ke kursi tengah, sementara Noura, yang membawa bantal kecil favoritnya, langsung duduk di bangku belakang.
Theo menoleh ke belakang, mengenakan kacamata hitamnya dengan gaya dramatis. "Semua sudah siap? Kalau gitu, mari kita mulai perjalanan penuh keajaiban ini!"
"Keajaiban apaan? Ini pantai, bukan negeri dongeng," balas Valeryn sambil tertawa kecil.
"Eh, siapa tahu kita ketemu putri duyung atau harta karun di pasir," timpal Theo dengan santai, membuat Raynar langsung berkomentar, "Kalau ada harta karun, kita harus ambil! Lalu di jual deh biar kaya"
Mobil melaju perlahan keluar dari area perumahan, menuju jalan raya yang masih cukup lengang. "Aku jadi navigator, ya!" seru Raynar sambil membuka aplikasi peta di ponselnya.
"Makasih loh, tapi gak usah ya, Rey! Gue tau kok jalannya" sahut Theo yang membuat Raynar memanyunkan bibirnya soalah sedang kesal. Noura di belakang tampak asik memandangi pemandangan luar sambil menikmati cemilan yang ia bawa.
"Enak banget duduk sendirian di belakang " goda Clairen, menoleh ke adiknya.
Noura hanya tersenyum lebar. "Iya, Kak. Di sini bisa selonjoran!" jawabnya sambil memeluk bantal kecil yang ia bawa.
Perjalanan terasa hangat dengan candaan ringan yang terus mengalir. Theo, yang memang jago mencairkan suasana, tak henti-hentinya melontarkan lelucon konyol.
"Bahaya, bahaya! Ada polisi tidur. Jangan sampai kita ditangkap," katanya dengan nada serius.
"Polisi tidur mah enggak bakal nangkep, Theo," balas Valeryn sambil menggeleng, membuat semua orang di mobil tertawa.
Saat mobil memasuki jalan dengan pepohonan rindang di kedua sisinya, Raynar membuka kaca jendela sedikit, membiarkan angin pagi masuk. Ia menoleh ke Theo. "Kak Theo, kalau aku yang nyetir, pasti lebih keren dari Kak Theo."
Theo mengangkat alis, pura-pura tersinggung. "Oh ya? Keren gimana? Gue kan sopir handal yang bikin perjalanan ini aman dan menyenangkan."
"Handal apanya? Tadi aja hampir salah belok," sahut Valeryn cepat, membuat Theo terkekeh.
"Nanti kalau ada lampu merah, gue kasih Raynar pegang setir, deh," balas Theo santai.
"Jangan coba-coba!" seru Clairen dari belakang. "Gue gak mau perjalanan kita berakhir di bengkel."
Mobil kembali dipenuhi tawa. Di tengah kegaduhan kecil itu, Clairen sempat melirik ponselnya yang tergeletak di pangkuan. Ada notifikasi baru dari Aron. Ia membuka pesan itu dengan senyum kecil.
Aron:
Good morning, Clairen! Have you left for the beach yet?
Clairen mengetik balasan singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
App-Tastic Love
Romantik[Hiatus hingga Desember 2025] Clairen Jaya, gadis periang yang menjalani kehidupan perkuliahan layaknya mahasiswa biasa. Namun, saat libur semester tiba Clairen merasa terjebak dalam rutinitas yang sunyi. Untuk mengusir kebosanan, ia mengunduh seb...
