Part 23

42 16 0
                                        


Clairen's POV

Udara pagi yang sejuk menyambut langkahku saat aku, Valeryn, dan Theo berjalan menuju gerbang sekolah. Jalan sehat pagi ini diikuti oleh banyak alumni dari berbagai angkatan, menciptakan suasana penuh nostalgia dan kehangatan. Beberapa wajah yang sudah lama tak kulihat menyapa dengan senyum lebar, sementara yang lain tampak sibuk bercengkerama, mengenang masa-masa sekolah dulu.

Theo dan Valeryn berjalan di sampingku. Theo terlihat santai dengan hoodie hitamnya, sementara Valeryn, seperti biasa, tampil modis dengan kaos oversized dan legging. Kami bertiga menyatu dengan kerumunan alumni yang siap memulai perjalanan.

"Siap olahraga pagi, Nona-nona?" tanya Theo sambil meregangkan tangannya.

Aku terkekeh. "Dihh udah berasa paling sehat aja lo."

Valeryn menyenggol lenganku. "Lo jarang ikut acara semacam ini, kan? Maunya lari sendiri doang. Lari dari kenyataan ye?"

Aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum.

Saat langkah kaki mulai bergerak serempak, aku berbincang dengan beberapa teman SMA yang sudah lama tak kutemui. Ada Kenan yang dulu sering bertukar catatan denganku, Livia yang selalu menjadi bintang ekskul teater, dan Rafi yang kini bekerja sebagai desainer interior. Kami saling bertukar cerita, tertawa mengingat kejadian-kejadian konyol di masa sekolah.

"Gue masih ingat waktu lo terlambat masuk kelas karena ketiduran di perpustakaan, Clairen!" seru Livia sambil tertawa.

Aku menghela napas dramatis. "Gue juga gak bakal lupa sih, syukurnya Pak Lana lagi berbaik hati." Percakapan ringan terus bergulir diselingi tawa.

Jalan sehat ini dimulai dari gerbang sekolah, mengelilingi area sekitar, melewati taman kota yang dulu sering kami jadikan tempat berkumpul, sebelum akhirnya kembali ke titik awal. Meskipun cukup melelahkan, aku merasa senang bisa kembali ke lingkungan yang penuh kenangan ini.

Saat aku mengambil air mineral dari stan panitia, seorang teman laki-laki Theo-Gibran, kalau aku tidak salah ingat-mendekat dan menepuk bahunya. "Bro, lu liat Wira nggak?"

Aku yang sedang meneguk air nyaris tersedak.

Theo melirikku sekilas sebelum menjawab santai, "Nggak, emangnya dia datang?"

Gibran mengangguk. "Tadi aku lihat dia di dekat lapangan sebelum jalan sehat dimulai."

Aku terdiam. Wira ada di sini? Tapi kenapa aku sama sekali tidak melihatnya? Entah ini keberuntungan atau justru tanda bahwa kami benar-benar tak lagi memiliki benang takdir yang sama.

Aku menenangkan diri, berusaha tak membiarkan pikiranku dipenuhi spekulasi. Kalau memang tak bertemu, bukankah itu lebih baik?


⋅˚₊‧ ୨୧ ‧₊˚ ⋅


Author's POV

Sore menjelang dengan langit yang mulai berwarna jingga. Di dalam kamar, Clairen sedang memilah pakaian yang akan dikenakannya untuk malam puncak reuni. Tema warna putih untuk perempuan membuatnya memilih dress putih sederhana dengan potongan yang elegan. Gaun itu jatuh dengan lembut di tubuhnya, memberi kesan anggun namun tetap nyaman.

Di layar ponselnya, panggilan video dengan Aron masih berlangsung. Pria itu, yang baru saja selesai sarapan, tampak santai dengan hoodie abu-abunya.

"So, this is what you'll be wearing tonight?" Aron bertanya dengan nada tertarik saat Clairen mengangkat dress putih itu ke arah kamera.

App-Tastic LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang