"Sepertinya kita harus menang, Clay."
Clairen hanya menoleh, namun enggan memberikan respons. Wira melanjutkan dengan nada lebih ringan, "Kita harus menang, biar bisa naik bareng pas ambil hadiahnya."
Kali ini, Clairen hanya menatapnya datar tanpa sepatah kata pun.
Permainan pun dimulai.
Clairen berdiri di samping Wira, berusaha menekan perasaan tidak nyaman yang merayap di dadanya. Ia bisa merasakan tatapan teman-temannya, terutama Valeryn yang jelas-jelas menahan tawa melihat situasi ini, sedangkan Theo memasang ekspersi tidak senang. Sementara itu, Wira tampak santai, bahkan masih sempat menyunggingkan senyum tipis seolah menikmati kebetulan ini.
Pembawa acara akhirnya menjelaskan aturan permainan sekali lagi. Permainan kali ini cukup sederhana mengingat para alumni mengenakan pakaian formal—sebuah permainan keseimbangan, di mana setiap pasangan harus menjaga sebuah balon tetap berada di antara tubuh mereka tanpa menggunakan tangan. Pasangan yang paling lama bertahan tanpa menjatuhkan balon akan keluar sebagai pemenang.
Clairen menahan napas. Ia melirik ke arah Valeryn yang tampak antusias bersama Andri, lalu ke arah Theo yang sudah bersiap dengan pasangan timnya. Kemudian, tanpa bisa dihindari, ia menoleh ke Wira. Mantan kekasihnya itu masih dengan ekspresi percaya diri, dan dengan tenang ia mengambil balon dari panitia sebelum menyerahkannya pada Clairen.
"Siap?" Wira bertanya, suaranya terdengar ringan namun ada sedikit nada menggoda di sana.
Clairen mendesis pelan. "Gue bener-bener gak pengen ngelakuin ini dengan lo."
Wira hanya terkekeh pelan. "Tapi kita tetap harus menang."
Clairen memutar bola matanya. Ia tahu Wira, dan ia tahu betapa kompetitifnya lelaki itu. Jika sudah ikut permainan, Wira tidak akan membiarkan dirinya kalah begitu saja. Sementara itu, Clairen hanya ingin permainan ini segera berakhir.
"Baiklah, semua tim sudah siap?" suara pembawa acara terdengar lantang.
Semua peserta mengangguk.
"Satu... dua... tiga!"
Suara sorakan dan tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Clairen dan Wira dengan cepat menempatkan balon di antara mereka, tepat di jidat mereka. Clairen berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, tetapi tetap harus menekan balon agar tidak jatuh. Wira, di sisi lain, tampak begitu santai seolah permainan ini bukan sesuatu yang sulit.
Beberapa pasangan mulai kesulitan menjaga keseimbangan, dan beberapa balon sudah jatuh hanya dalam hitungan detik. Clairen menghela napas dalam. Ini ternyata lebih sulit dari yang ia kira, bukan karena permainan itu sendiri, tetapi karena dirinya harus berada sedekat ini dengan Wira lagi setelah sekian lama.
Wira, yang menyadari Clairen tampak canggung, berbisik pelan, "Kalau lo tegang begini, kita bakal kalah, Clay."
Clairen menghela napas, mencoba mengabaikan Wira dan fokus pada permainan. Namun, semakin lama, semakin sulit baginya untuk berpura-pura bahwa situasi ini tidak memengaruhinya. Bagaimana tidak? Wira, orang yang dulu pernah mengisi hari-harinya, kini berdiri begitu dekat, dengan senyum yang dulu pernah ia kagumi, dengan tatapan yang pernah membuatnya merasa istimewa.
"Tinggal lima pasangan lagi!" seru pembawa acara.
Clairen melirik ke sekitar. Ternyata mereka termasuk pasangan yang masih bertahan. Di sudut matanya, ia menangkap Valeryn yang memberikan tatapan, seolah berkata, Kamu bisa, Clay!
Namun Wira tiba-tiba bergerak sedikit ke depan, membuat Clairen refleks mundur. Balon mereka hampir jatuh, tetapi dengan cepat Wira menyesuaikan posisi dan kembali menekan balon dengan tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
App-Tastic Love
Romance[Hiatus hingga Desember 2025] Clairen Jaya, gadis periang yang menjalani kehidupan perkuliahan layaknya mahasiswa biasa. Namun, saat libur semester tiba Clairen merasa terjebak dalam rutinitas yang sunyi. Untuk mengusir kebosanan, ia mengunduh seb...
