Part 17

81 38 5
                                        


Clairen menggeliat malas di atas tempat tidurnya. Matanya masih terasa berat, tapi suara dering ponsel yang terus-terusan berbunyi memaksanya bangun. Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya. Nama Theo dan Valeryn berkedip di layar—panggilan grup.

Dengan malas, Clairen menggeser ikon hijau di layar sambil menguap kecil.
"Halo... ada apa, sih?" gumamnya lemas, suara serak khas orang baru bangun tidur.

"Clay! Lo baru bangun, ya? Lo nggak balas chat dari tadi! Gue sama Theo udah spam loh," suara Valeryn terdengar nyaring dari seberang, membuat Clairen spontan menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Hah? Gue tidur, Ve. Capek banget balik dari pantai tadi" jawab Clairen dengan nada setengah sadar sambil meraih bantal untuk menyangga punggungnya. "Jadi, ini nelfon ada apa?"

"Gue aja deh yang jelasin," suara Theo masuk, terdengar lebih santai tapi tetap bersemangat. "Ve heboh banget dari tadi, padahal berita ini nggak bakal basi."

"Gue nggak heboh, Theo! Gue cuma mau make sure Clay tahu ini, ngerti?" potong Ve dengan nada protes.

Clairen terkekeh kecil, meski rasa kantuknya belum hilang sepenuhnya. "Oke, sekarang gue tahu. Jadi, apaan nih kabar penting banget sampai lo bikin gue kebangun?"

"Okay, jadi...SMA kita, Nusa Bahana, bakal ngadain reuni akbar."

"Hah? Reuni akbar?" Tanya Clairen.

"Iya, reuni akbar, Clay! Ini nggak main-main. Reuninya buat 12 angkatan, mulai dari alumni 12 tahun lalu sampai yang baru lulus. Bakal ada beberapa rangkaian acara, mulai dari kegiatan amal, donor darah, jalan santai, perayaan ulang tahun sekolah, terus ditutup sama malam puncak reuni di hotel ."

Clairen mendengus pelan. "Wih, fancy amat. Tapi kenapa lo harus nelpon gue segitu buru-burunya? Acaranya kapan sih?"

"Dua minggu lagi," jawab Theo santai. "Tapi persiapannya udah dari tiga bulan lalu, makanya ini udah heboh banget di grup-grup alumni."

"Iya, Clay," sambung Valeryn. "Dan gue nggak bakal dateng kalau lo sama Theo nggak dateng."

Clairen tertawa kecil sambil mengacak rambutnya yang berantakan. "Kan bakal banyak teman seangkatan kita, Ve."

"Tetep aja. Gue nggak deket sama banyak orang selain lo berdua."

"Gue sih tetap datang, teman gue yang cowok kan juga banyak," Theo menimpali dengan nada santai.

Clairen menghela napas panjang, berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, "Oke, gue ikut deh. Tapi lo pada jangan tiba-tiba batal."

"Yes!  Ve bersorak dari seberang. "Oke, mulai sekarang gue bakal cari outfit yang pas. Gue mau tampil keren di malam reuni!"

"Ve, chill. Acaranya masih dua minggu lagi," potong Theo sambil tertawa kecil. "Lo santai dulu, jangan keburu lebay."

"Bodo amat, gue harus tampil perfect!" balas Ve sambil terkekeh. "Tapi serius, gue seneng banget !"

"Iya, iya, Ve. Lo sesenang itu ya?" jawab Clairen sambil tersenyum kecil. "Yang penting, kita udah sepakat buat dateng. Nanti soal detail acaranya kita omongin lagi." 

.

.

Setelah obrolan di panggilan grup berakhir, Clairen meletakkan ponselnya di meja. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba mencerna keputusan yang baru saja diambil. Reuni akbar. Kedengarannya seru, kan? Namun, di balik semangat nostalgia yang coba ia rasakan, ada perasaan tak nyaman yang perlahan menyelinap.

App-Tastic LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang