Part 20

77 36 0
                                        


Clairen masih tenggelam dalam pikirannya, jemarinya sibuk menggulir layar ponsel tanpa arah. Theo yang duduk tepat di sampingnya memperhatikan dengan seksama. Sorot matanya menelusuri wajah Clairen yang tampak kosong, jauh dari biasanya. 

Theo mengalihkan pandangannya ke sekeliling kafe, mencoba mencari topik pembicaraan yang mungkin bisa mencairkan suasana. Namun, sebelum ia sempat bicara, Noura bersuara.

"Kak Clay, kita pulang aja, ya? Noa ngantuk," ujarnya sambil menguap kecil. Reynar yang duduk di sampingnya mengangguk setuju, tampak malas-malasan. Clairen hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.



⋅˚₊‧ ୨୧ ‧₊˚ ⋅


Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Reynar dan Noura sudah terlelap, kepala mereka bersandar dengan posisi yang tidak terlalu nyaman. Theo yang duduk di belakang kemudi memegang setir dengan kedua tangannya, sesekali melirik ke arah Clairen.  Sementara itu, Clairen yang duduk di kursi depan bersamanya, pandangannya lurus keluar jendela, menatap gedung-gedung yang dilewati.

Theo menghela napas pelan. Sudah dua tahun, bahkan lebih, sejak kejadian itu. Theo mengira Clairen sudah melupakan kejadian gila yang juga ikut ia saksikan saat itu. Namun, melihat reaksi Clairen ketika tahu ada kemungkinan ia bertemu dengan Wira, mantan kekasihnya, membuat Theo  merasa bahwa Clairen masih belum sepenuhnya pulih. 

Hubungan pertamanya dengan Wira memang meninggalkan luka. Theo tahu betul bagaimana Clairen menutup diri setelah itu. Bahkan ketika ada yang mencoba mendekatinya, Clairen tetap menjaga jarak. Lulus di salah satu universitas ternama yang jauh dari kota asal mereka, seolah menjadi cara dunia mendukung perpisahan Clairen dan Wira saat itu.

Kehadiran seseorang yang baru dari aplikasi kencan awalnya membuat Theo mengira Clairen sudah melupakan Wira. Ia mengira mungkin Clairen sudah mulai membuka diri. Meski sedikit ekstrem menurutnya—mengenal seseorang dari aplikasi kencan terlebih orang tersebut berasal dari belahan bumi lain. Namun, melihat Clairen yang kembali tenggelam dalam diam seperti ini, Theo mulai meragukan pemikirannya sendiri.

"Clay," Theo akhirnya memanggil dengan pelan. "Kalau lo ada yang mau diceritain, gue bakal dengerin."

Clairen menoleh sebentar, mata mereka bertemu. "Hahah thanks, Theo." Clairen terkekeh pelan, senyumnya muncul lagi, kecil namun tulus, sebelum ia kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Theo ingin mengatakan lebih banyak. Tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi, ia memilih untuk diam, membiarkan keheningan menemani perjalanan mereka.

Setibanya di rumah, Theo memarkirkan mobil Clairen di tempat semula. Clairen membangunkan Reynar dan Noura dengan lembut. Noura mengusap matanya yang masih setengah terpejam, sementara Reynar bergumam tidak jelas sebelum akhirnya turun dari mobil.

"Makasih ya udah gabung hari ini," kata Clairen sambil mengambil tasnya.

Setelah mereka semua masuk ke rumah, Theo berjalan ke arah mobilnya. Ia duduk sejenak di kursi kemudi, memikirkan Clairen. Theo menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil, menghela napas panjang sambil memandang pintu rumah Clairen yang sudah tertutup. mencoba mengalihkan pikirannya, tetapi pikirannya tetap tak bisa lepas dari Clairen. Gadis itu mungkin terlihat ceria di depan orang lain, tapi Theo tahu betul, ada banyak hal yang disimpannya sendiri.

"Clairen... apa lo masih belum benar-benar ngelupain Wira" gumam Theo pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Setelah beberapa menit terdiam, Theo memutuskan untuk mengirim pesan ke Valeryn.

App-Tastic LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang