Part 29

29 2 1
                                        


Hi fellas!
Wah.. udah lama banget aku gak update karena kesibukan di rl yang benar-benar padat huhu..

Btw, makasih sudah membaca ceritaku ya.
Kalau kalian menikmati cerita ini, jangan lupa untuk vote dan tinggalkan komentar ya! 🥰
Dukungan kecil dari kalian bisa jadi semangat besar buat aku untuk terus menulis cerita ini sampai akhir. Jangan jadi silent readers, yaa!!

⋅˚₊‧ ୨୧ ‧₊˚ ⋅


Keramaian bandara menjadi latar samar saat tatapan Clairen hanya terpaku pada satu sosok yang berjalan mendekat. Sosok yang sebelumnya hanya hadir lewat layar kecil di ponselnya, kini nyata, nyata sekali. Aron.

Pria itu kini berdiri hanya beberapa meter darinya. Ia juga tampak sedang mencarinya, matanya menyapu kerumunan di sekitar area kedatangan. Saat pandangan mereka akhirnya bertemu, waktu seolah berhenti sesaat.

Clairen berdiri, jantungnya berdetak cepat dan anehnya, tangannya terasa dingin. Senyum canggung tapi tulus terbit di wajahnya. Aron tampak membalas dengan senyum yang sama, lebar, namun terlihat jelas Ia sedang gugup.

Langkah Aron sedikit cepat saat ia menghampiri Clairen. Namun ketika akhirnya mereka berdiri berhadapan, keduanya justru saling terdiam, seolah otak masing-masing masih memproses kenyataan ini.

Aron tertawa pelan, lalu melangkah lebih dekat dan membuka lengannya sedikit, memberi isyarat pelukan. Clairen tersenyum malu-malu, tak dapat dipungkiri jantungnya saat ini benar-benar menggila. 

Berusaha menahan apa yang ia rasakan saat ini, Clairen pun membalas pelukan itu singkat sebelum mereka sama-sama tertawa karena canggungnya terasa jelas.

"Hi," kata Aron akhirnya, sedikit tertawa sambil merapikan posisi ranselnya.

"Hi," jawab Clairen, suaranya hampir tak terdengar.

Beberapa detik hening. Lalu keduanya kembali tertawa kecil, menyadari betapa canggungnya momen ini.

"You're real," ujar Aron sambil mengangguk kecil, mencoba memecah keheningan. Clairen terkekeh pelan melihat tingkah Aron.

"Wow," ujar Aron lagi sambil menatapnya. "You're even more beautiful in person. I mean, you always look good on pictures and our facetime, but this is something else."

Clairen memutar mata pelan. "Stop it. You just landed and already flirting."

"But I mean it," Aron tersenyum lalu mengangkat tangan seolah menyerah. "And... wow, I still can't believe I'm actually here."

"Same, i still can't belive what i see right now," Clairen tersenyum canggung mencoba menutupi rasa gugup yang memenuhinya sejak tadi, jantungnya terus berdegup dengan kencang. 

"You look..." Clairen mengangkat bahunya, tersenyum, "...exactly like this morning's selfie."

Aron tertawa pelan. "Was that good or bad?"

"Definitely good," jawab Clairen cepat, pipinya sedikit merona. "And you taller than I imagined."

Aron tersenyum lembut menatap Clairen, Ia melirik gelas kopi di tangan Clairen. "You already got coffee. That's unfair."

"I was nervous," akuinya jujur. "I needed something to keep me steady."

"Same here," Aron menunjuk ke dadanya. "My heart's been running a marathon since I landed."

Clairen terkekeh mendengar pengakuan Aron. Ia lalu mengajak Aron duduk di bangku dekat kaca besar yang menghadap landasan. Suasana menjadi lebih tenang, meski getaran gugup itu masih tersisa seperti sisa hujan di kaca.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 20, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

App-Tastic LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang