#Chapter 10

5.2K 307 9
                                        

VIRA POV

"Whoa! Minggu depan kita ulangan mat!" Ujar Miko histeris. Sekarang kita lagi ada di kantin.

"Secara teknis, kita ulangan mat nya itu tiga hari lagi karena sekarang hari Jumat dan ulangannya itu hari Senin. Dan satu minggu itu tujuh hari bukan tiga hari, jadi secara teknis lu salah," ujar gue sambil melahap bakso gue.

"Hehehe, iya maksudnya itu. Kan hari Senin beda minggu sama minggu ini, jadi lebih gampangnya minggu depan," Miko mengacungkan kedua jarinya membentuk tanda 'v'.

Gue memutar mata gue.

"Aduh kalian lucu banget sih! Cocok banget gitu," ujar Laura tiba-tiba. Oh iya gue sampe lupa ada Laura di sini. Sejak gue baekan sama Laura, kita jadi sering ngumpul bareng kayak gini. Kebanyakan gue sama Laura berdua sih, tapi kadang Miko gabung.

"Don't you dare to say that," ujar gue seketus mungkin sambil memelototi Laura. Laura hanya tersenyum takut. Jujur aja gue memang galak sih.

"Vir, berhubung lu yang paling pinter disini, gimana kalo kita-kita belajar di rumah lu?" Tanya Miko sambil memainkan alisnya.

"Bener tuh!" Ujar Laura riang.

Gue hanya menggeleng-gelengkan kepala. Gue gak ngerti, gimana caranya mereka bisa kompak buat ngerjain gue, padahal mereka baru kenal. Gue bener-bener gak habis pikir.

"Ayolah Vi," Laura mengeluarkan muka memelasnya sambil melebarkan matanya. Haha gue gak mempan sama gituan!

"Enggak ah, kalian pasti ngegeratak. Udah gitu kalian pasti ngebully gue terus deh. Gamau ah!"

"Kita janji gak ngegeratak sama ngebully lu deh, janji," ujar Miko dengan muka bersungguh-sungguh.

Gue menggelengkan kepala gue sebagai jawaban. Bukannya apa, tapi Miko itu jago akting, jadi jangan sampe ketipu. Dan gue gak akan ketipu.

"Vi," Laura menarik-narik baju gue.

"Ih kalian ya! Yaudah-yaudah!" Gue memutar mata gue. Pasti selalu gini deh, gue gak bisa nolak permintaan mereka.

"Yey!!" Teriak mereka bersamaan.

Gue hanya tersenyum. Mereka kadang nyebelin, tapi merekalah temen gue, sahabat gue. Mereka yang selalu ada buat gue. Gue bener-bener bersyukur punya temen nyebelin, yang kadang ngerepotin, tapi tulus dan baik, gak yang cuman manfaatin gue.

***

"Hai Tan!" Ujar Laura menggema di rumah gue.

"Eh Laura! Udah lama kamu gak ke sini sayang, kemana aja?" Ujar mama gue sambil menghampiri Laura.

Lauta tersenyum, "Iya nih Tan, belakangan ini sibuk gitu, jadinya gak bisa ke sini deh." Gue tau Laura cuman gamau mama gue tau permasalahan kami. Lagipula itu semua udah lewat, ngapain diinget-inget.

"Oh yaudah, sekarang kamu mau ngapain sayang?" Tanya mama gue. Mama gue memang udah anggep Laura sebagai anak sendiri seperti gue nganggep Laura sebagai saudara gue sendiri.

"Maen aja Tan, masa gak boleh? Sekalian mau belajar bareng juga sih," Laura tersenyum manis. Gue dan Miko cuman ngeliatin mereka ngobrol di belakang. Udah kaya nyamuk aja kita.

"Yaudah belajar gih sana," ujar mama gue sambil berdiri dari duduknya.

"Eh ada Miko, mau belajar juga?" Tambah mama gue.

"Iya Tan," Miko tersenyum manis. Bluwek! Senyum sok alim gitu bener-bener gak cocok di muka orang nyebelin kaya dia. Yang ada gue muntah kali.

"Yaudah, kalo mau makan ambil aja ya, tante udah masak," mama gue berjalan meninggalkan kita.

Secret AdmirerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang