AUTHOR POV
"Tan gimana keadaan Miko tan, gimana?" Tanya Vira histeris sambil berlari ke arah mamanya Miko.
Tante Nata, mamanya Miko, memeluk Vira sambil menangis kecil. "Dia masih belum sadar Vir, dia masih belum sadar."
Vira balas memeluk Tante Nata dan menangis dalam pelukannya. Entah kenapa hal ini membuatnya lebih tenang.
"Sabar ya nak, tante yakin Miko gak akan apa-apa. Kita harus positive thinking," Tante Nata mengusap kepala Vira perlahan-lahan.
Tiba-tiba dokter keluar dari ruang rawat Miko.
"Dok gimana keadaan anak saya dok?" Tanya Tante Nata khawatir sambil menghampiri Miko.
"Penyakitnya kambuh lagi. Gak banyak yang bisa saya lakukan. Tapi saya dan yang lainnya akan melakukan yang terbaik," ujar dokter panjang lebar.
"Apa Miko udah sadar dok? Apa kita udah boleh jenguk dia dok?" Giliran Vira yang bertanya.
"Untuk saat ini belom. Lebih baik kita beri waktu buat dia istirahat dulu. Nanti setelah dia sadar baru kalian boleh jenguk."
"Baik dok, makasih buat bantuannya dok," ujar papa Miko.
"Sama-sama."
"Yang sabar ya sayang," ujar papa Miko sambil memeluk Tante Nata dan berusaha untuk menenangkannya.
Vira berjalan ke arah kaca besar yang berada di sebelah pintu. Vira melihat ke dalam kamar UGD tersebut. Miko berbaring lemas tak sadarkan diri. Hatinya sakit melihat keadaan Miko. Andaikan saja Vira yang berada di sana, apakah semuanya akan lebih mudah?
Entah kenapa Vira merasa keganjalan dalam hatinya. Hatinya seakan berbicara bahwa waktu Miko di dunia ini sudah tak lama lagi.
Vira menggeleng-gelengkan kepalanya. Gue gak boleh mikir kaya gini, gue gak boleh buat Miko sedih di dalem sana.
***
Vira berjalan-jalan tanpa arah di taman rumah sakit. Cuaca sekarang mendung, namun tak dihiraukannya. Vira hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Dia hanya butuh waktu untuk berfikir.
Vira duduk di bangku taman lalu melihat keadaan sekelilingnya. Sepi. Seperti perasaannya sekarang. Cuaca mendung. Sangat mewakili perasaannya. Mungkin kalau ada Miko disini, dia pasti sudah berusaha menghibur Vira dengan lelucon garingnya, namun justru sekarang Miko-lah alasannya begini.
Vira menundukan kepalanya. Tak terasa butiran air jatuh dari matanya bersamaan dengan jatuhnya air hujan. Vira tak menggerakan badannya sama sekali. Dia masih bergeming.
Gimana kalo Miko udah gak ada di dunia ini? Artinya gue udah gak punya orang yang bisa ngehibur gue lagi? Gaada orang yang leluconnya garing tapi bisa bikin gue ketawa? Memang gue ada Laura, tapi kesannya tetep aja berbeda. Dan yang pasti, gaada Miko yang selalu ada di samping gue gimanapun keadaan gue, baik disaat gue seneng mau sedih?
"Udah nangisnya?" Ujar seseorang tiba-tiba sambil memayungi Vira.
"Kak Reno? Kak Reno ngapain disini?" Tanya Vira kaget lalu mengusap air matanya.
"Udah puas nangisnya?" Kak Reno menghela nafas. "Lu tau Vir, nangis bukan penyelesaian dari suatu masalah. Apalagi nangis di tengah hujan deras gini. Gue tau lu sedih, tapi kalo misalnya lu nangis di tengah hujan gini, yang ada lu malah sakit, dan gue yakin Miko bakal sedih kalo lu sakit dan itu malah bakal menambah pikiran Miko, yang justru akan berakibat ke penyakitnya Miko. Lu gamau terjadi apa-apa sama Miko kan?"
Vira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi darimana Kak Reno tau tentang Miko? Terus ngapain Kak Reno disini?"
"Gue denger tentang penyakit Miko dari Laura. Trus tentang ngapain gue disini, gue lagi nengokin temen gue yang masuk rumah sakit, trus karna bosen gue jalan-jalan ke bawah, trus yang gue liat malah cewek yang memilih nangis di tengah hujan disaat yang lain memilih buat ngehindari hujan itu. Ya makanya gue samperin."
Tak ada jawaban dari Vira. Vira memilih untuk diam dan terlarut dalam pikirannya sendiri.
"Jadi, lu masih tetep mau disini? Hujan-hujanan trus sakit, trus akhirnya buat Miko khawatir, trus akhir-"
"Iya-iya aku balik, udah stop," potong Vira cepat karena tidak mau mendengar kelanjutan dari perkataan Kak Reno.
"Yaudah lu mendingan balik ke kamar Miko. Nanti gue ambilin anduk sama baju dulu, kebetulan temen gue yang sakit itu cewe, nanti gue pinjem dia dulu."
"Makasih ya Kak, buat bantuannya," Vira berusaha tersenyum.
"Sama-sama, gue udah anggep lu kaya Laura, jadi gue gamau terjadi sesuatu sama lu," Kak Reno mengacak-ngacak rambut Vira.
***
"Kak Reno, ini handuknya aku bawa pulang aja ya aku cuci dulu," ujar Vira setelah selesai mandi di kamar rawat Miko.
"Eh gausah, katanya temen gue gak usah, dia gak bawa handuk lagi soalnya," ujar Kak Reno buru-buru.
"Yah Kak. Yaudah deh gini aja, aku pulang dulu aja ya, trus nanti aku bawain handuk buat gantiin temennya Kak Reno, nah nanti handuknya temennya Kak Reno ini aku cuci dulu."
"Aduh gausah Vir, gausah gapapa kok, nanti ngerepotin lu," Kak Reno berusaha mencegah.
"Kak beneran gak ngerepotin deh, justru aku yang ngerepotin Kak Reno ama temennya Kak Reno. Udah ini handuknya aku bawa pulang."
"Yaudah deh," Kak Reno mengangguk lalu tersenyum.
***
Vira berjalan memasuki kamar rawat Reno, masih dengan seragam sekolah melekat di badannya.
"Hai Mik, gimana keadaan lu? Udah dua hari loh lu gak sadarin diri. Udah dua hari juga lu gak masuk sekolah. Sekolah jadi sepiiiii banget. Gak ada yang leluconnya garing lagi, dan...," Vira menyeka air matanya yang mula berjatuhan. "Gak ada yang bisa buat gue dag dig dug lagi."
"Lu gak capek tidur trus Mik? Lu kangen gak sama gue? Gue kangen banget loh sama lu. Gue janji, kalo misalnya lu udah bangun nanti, gue bakal ngelayanin lu, gue bakal bawain lu makanan, gue bakal bawain lu minum, pokoknya gue bakalan jadi asisten pribadi lu, tapi lu janji ya lu bakal sadar, temenin gue lagi, ketawa bareng lagi," ujar Vira sambil menyeka air matanya yang terus-menerus berjatuhan.
Vira melihat jam tangannya, "Mik, gue pulang dulu ya, udah sore, nanti nyokap gue nyariin. Besok gue balik lagi kok, gue janji. Jangan kangenin gue ya," Vira tersenyum parau. "Bye."
__________
AN:
Update lagi yey! Maaf ya part ini dikit gitu. Bingung mau tulis apa nih di author note hehehe.
Ohya jangan lupa ninggalin jejak ya di cerita ini dengan meninggalkan vote atau comment.
THANKS♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Admirer
Teen FictionApa yang kamu lakukan jika ada seseorang yang menyukaimu diam-diam? Bagaimana jika dia memberimu puji-pujian setiap hari? Atau mengirimkan sms-sms manis yang bisa membuat siapa saja terharu. Bagaimana jika dia memberimu barang-barang lucu secara ter...
