Old Story

784 79 13
                                        

Rose membuka matanya ketika terik matahari mulai menyusup melalui celah tirai kamarnya. Ia hendak memeluk pria di sampingnya, namun kosong, tak ada sosok Julian di sana, kemana gerangan pria itu?

"Selamat pagi.. Sudah bangun sayang?" Julian masuk dengan apron yang melekat di tubuhnya.

"Kau memasak?" tanya Rose seraya mengerutkan keningnya.

Pria itu mengangguk kemudian mendekat dan memberi ciuman selamat pagi.

"Pergilah mandi, kenakan pakaian terbaikmu, kita akan pergi berjalan-jalan." ucap pria itu.

"Berjalan-jalan? Kemana?"

"Sudah ayo bersiaplah, jangan lupa siapkan pakaianku juga, sementara ku selesaikan masakanku untuk sarapan." pria itu kembali melenggang keluar kamar membuat Rose bertanya-tanya kemana mereka akan pergi.

"Baiklah, sesuai perintah." Rose bicara pada dirinya kemudian bangkit dan segera berlari ke kamar mandi.

**

Isyana membulatkan mata ketika Julian dengan terang-terangan menyertakan bukti perselingkuhan dirinya bersama Vince. Foto dimana keduanya tengah berlibur itu sontak menghebohkan dunia perbisnisan, bahkan Vince dengan sangat marah menuntut Isyana untuk segera mendesak Julian agar menarik foto yang telah beredar di internet itu.

'minta dia untuk menghapusnya, atau kerjasama di batalkan.'

Sebuah pesan yang Ia dapatkan dari Vince, tentu bukan hal mudah membuat Julian untuk menarik kembali hal yang telah dia lakukan.

"Kau melakukan hal yang terlalu jauh hanya untuk mendesakku." ucap Isyana pada Julian di telepon.

'bukankah sudah ku katakan jika akan ku lakukan? kau pikir aku hanya mengancam tanpa berani bertindak? oh satu hal, jangan memintaku untuk menarik kembali skandal tentangmu, meski kau mendesakku tak akan ku lakukan. Dan aku tak peduli tentang surat perceraian kita, tandatangani kapanpun kau mau, aku tak memaksa.'

Pria itu menutup teleponnya tanpa mengizinkan Isyana bicara lebih dulu.

"Sial! Brengsek kau Julian!" Isyana terus mengumpat seraya masih mencoba menghubungi Julian kembali, namun pria itu sama sekali tak meresponnya.

"Kurang ajar!" Isyana melangkahkan kakinya menuju mobil, hendak menghampiri pria itu di kantornya.

*


"Mengambil cuti?"

"Ya Nyonya, tidakkah dia pergi bersama Nyonya?" tanya salah satu sekretaris Julian.

"Eh ya?" Isyana tampak kesulitan menjawab, hendak berbohong dan mengiyakan tapi sangat jelas jika dirinya tak tahu.

Tiba-tiba rekannya mendekat dan membisikkan sesuatu, seolah memberi tahu jika Tuan Julian pergi dengan orang lain, atau tidakkah dia membaca berita pagi ini tentang Nyonya Isyana?

"Mengapa berbisik di hadapanku?? Cepat katakan dimana Julian sekarang??" teriak Isyana dengan kesal.

"Tuan Julian meminta di pesankan tiket pesawat menuju Auckland untuk pagi ini."

"Auckland?"

"Ya Nyonya, Tuan memesan dua tiket sekaligus, saya pikir satunya lagi untuk Nyonya Isyana."

Mendengar penjelasan sekretaris Julian, Isyana tersenyum kecut, bisa-bisanya di saat begini pria itu berlibur bersama wanita simpanannya, sementara dia mendapat tekanan dari berbagai pihak.

Wanita KeduaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang