"Bagaimana??" Norah berlari menghampiri seorang pria utusannya yang baru saja tiba.
"Maaf Nyonya, sudah kami cari di setiap penjuru, Nyonya Isyana tetap tak dapat kami temukan." ujarnya membuat Norah menggenggam tangannya yang gemetar, rasa khawatir terus menyelimutinya, ini sudah tengah malam dan Isyana masih belum juga kembali ke rumah.
"Kami akan kembali mencarinya." pria utusannya itu pergi dari hadapan.
"Ya Tuhan.. Kemana dia pergi.." rintihnya.
Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada Julian, haruskah Ia meminta bantuan pria itu untuk mencari dimana keberadaan Isyana. Norah tahu jika Isyana bersikap bodoh karena perbuatan Julian padanya, pria itu menyerang bisnis serta harga diri Isyana, bahkan mungkin berhasil melumpuhkan kepercayaan dirinya juga. Norah begitu takut jika Isyana akan melakukan hal-hal yang cukup nekat.
-
-
Rose terjaga ketika mendengar ponsel Julian yang bergetar, sudah beberapa kali dan ponsel itu tak juga diam, sehingga Rose berpikir jika mungkin itu adalah panggilan penting.
Ia melepaskan pelukan Julian di pinggangnya, menyadari betapa Ia merasa engap karena Julian tak mau memisahkan diri darinya, sementara ibu hamil biasanya membutuhkan lebih banyak ruang.
"Hmmm.." Julian menggumam tak jelas, seolah protes karena Rose menyingkirkan tangannya.
"Ponselmu terus bergetar, mungkin itu panggilan penting, kau harus menerimanya." ucap Rose mendudukkan diri dan memutar tubuhnya seraya mencoba membangunkan Julian dengan begitu lembut.
Julian tampak menghela nafas panjang, kemudian mendudukkan dirinya, meraih ponsel yang Ia letakkan di nakas. Sementara Rose kembali membaringkan diri.
"Ya Bu??" suara Julian terdengar parau karena sisa-sisa kantuknya.
'Julian? Isyana belum juga pulang.' terdengar suara kekhawatiran dari sebrang sana.
"Ya? Bu, aku tidak tahu dimana dia, jadi berhentilah menghubungiku."
'Kami semua tidak tahu dimana dia berada, bahkan nomornya juga tidak aktif. Ibu sangat khawatir padanya, bisakah kau tolong carikan dia??'
Julian terdengar menghela nafas, "Bu, bagaimana bisa aku mencarinya jika aku sedang tidak di Australia."
'Tapi Nak, kau pasti punya cara untuk mencari dimana keberadaan Isyana saat ini, tolong Ibu kali ini, Ibu sangat khawatir padanya, mengingat masalah yang sedang Ia hadapi, Ibu takut jika dia mampu melakukan hal-hal nekat.'
Julian turun dari kasur, berjalan menuju jendela dengan pemandangan lampu-lampu di bawah sana. Rose yang merasakan pria itu beranjak, menyangga tubuhnya dengan sikunya, seolah mencari tahu dengan siapa pria itu bicara.
"Sudah coba cari dia?" tanya Julian.
...
Meski Rose tak dapat mendengar dengan siapa Julian bicara, tapi Rose tebak jika panggilan itu cukup serius.
"Hmm.. Baiklah, akan ku minta orangku untuk mencarinya. Ibu tak perlu khawatir."
...
"Ku tutup teleponnya." ucap Julian mengakhiri panggilan dan kembali menghubungi seseorang. Suara pria itu cukup lirih namun terdengar berat ketika berbicara pada lawan bicaranya di telepon. Hanya sebentar dan Ia sudah mematikan teleponnya.
Sejenak pria itu memandang ke luar, seolah tengah berpikir, kemudian kembali ke kasur. Sementara Rose sudah menunggu penjelasannya dengan rasa penasaran.
"Ada apa?" tanya Rose.
"Isyana belum pulang dan nomornya tidak aktif."
"Lalu siapa yang menghubungimu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanita Kedua
FanfictionBermain-main dengan wanita sudah menjadi hal biasa untuk pria seperti Julian Smith, dan Ia tak pernah menganggapnya sebagai hubungan yang serius. Segalanya berubah perlahan ketika gadis bernama Roselle Myer masuk dalam hidupnya, kesabarannya menghad...
