23_Official

252 32 2
                                        

"Dia gila"

"Berhentilah. Kamu sudah mengatakan itu ribuan kali. Aku sudah muak"

"Hehe maafkan aku"

Lisa menoleh kearah jennie. Cahaya dimatanya masih sama.

"Bagaimana pendapatmu tentang hanbin?" Tanya jennie pelan.

"Entahlah. Sisiku yang lain berkata aku mengasihininya. Tapi sebagian besar hidupku hancur karena ulah ayahnya" sorot mata lisa menjadi sedih.

Jennie membelai wajah lisa. Dia berusaha menyalurkan kekuatan.

"Jika boleh aku memberi pendapat, menurutku hanbin tidak terlibat disini. Kita sama-sama tahu bukan, hanbin sama sekali tidak tahu bisnis gelap yang dilakukan ayahnya"

"Tapi hanbin juga terlibat atas perginya nayeon kan?" Jennie mengangguk.

"Benar. Tapi semua orang tidak pernah ingin hal buruk itu terjadi. Kamu masih ingatkan?"

"Ya. Selalu ada alasan dibalik suatu kejadian" lisa tersenyum.

"Jadi?"

"Aku sudah menerima takdir itu. Tapi hatiku masih ada yang mengganjal. Aku sudah memaafkan mereka. Hanya saja jika melihat wajah mereka, aku ingin memberikan pukulan yang keras. Sakit hatiku masih belum terbalas"

"Hey" jennie terkekeh. "Kurasa kita harus menghindari hanbin mulai sekarang. Jika tidak, seseorang akan terbaring dirumah sakit"

"Jennie" lisa menggenggam tangan jennie yang masih diwajahnya.

"Iya?"

"Aku ingin bertanya lagi. Apakah masih ada kesempatan untukku?"

Hening cukup lama. Lisa berasumsi, ada keraguan pada diri jennie. Dan itu sangat sulit hilang. Dia berusaha ribuan kali. Keyakinan jennie masih belum dia dapatkan juga.

"Aku belum bisa menjawab" kalimat itu netral. Tapi itu tidak memberi harapan sama sekali.

"Kapan aku bisa menerima jawabanmu?"

"Aku mengerti sekali lisa. Kamu menungguku sudah sangat lama. Pasti itu sangat mengganggumu kan"

"Bukan mengganggu. Aku merasa gelisah saja. Kau tahu, aku belum pernah sekeras ini mendekati seorang wanita" lisa menggaruk telinganya.

"Ya semua orang tahu, sekali jentikan jari saja para wanita akan berbaris didepanmu. Kecuali aku"

"Itu sebabnya aku sangat keras untuk mendapatkanmu. Kamu berbeda"

"Besok... Aku akan memberimu jawaban yang pasti"

"Benarkah" mata lisa berbinar.

"Ya. Aku tidak bisa membuatmu menunggu lebih lama lagi"

"Apa itu berarti 'iya'?"

"Kita lihat besok"

Genggaman tangan mereka terlepas. Jennie keluar dari mobil lalu mengucapkan terima kasih. Lisa hanya tersenyum dan mengangguk.

.....

Semalaman lisa tidak dapat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Tapi kelopak matanya masih ingin terbuka. Jantungnya berdebar-debar.

"Tenanglah lisa. Jika jennie menolakmu, kau masih punya ribuan wanita yang berbaris untukmu"

Lisa bangkit dan pergi ke balkon. Jalanan mulai terlihat sepi. Beberapa kendaraan masih berlalu lalang. Kesibukan kota masih terus berlanjut.

Lisa meminum susu hangatnya. Bukan hal yang bagus meminum kopi selarut ini. Dia berharap dengan meminum susu dia akan segera tertidur.

"Aku tidak tahu tapi aku sangat menginginkan dia. Hatiku mendesak agar segera mendapatkan jennie. Ternyata sesulit ini"

Emerging Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang