Di tengah gelapnya malam, tepatnya di koridor yg di penuhi oleh cahaya lampu. beberapa orang terlihat sedang mendorong sebuah brankar, dengan air mata yg sesekali menetes. meskipun begitu, orang itu tetap mencoba tegar dan mendorong brankar dengan sekuat tenaganya.
hingga tak lama kemudian, mereka sampai tepat di hadapan sebuah ruangan, ruangan bernuansa putih dan berbau obat-obatan
"mohon tunggu di luar ya" ucap seorang suster sambil menahan kedua orang yg hendak ingin masuk ke dalam ruangan
"baik sus" ucap seorang lelaki paruh baya, lalu memijat hidungnya
Susterpun mengangguk, ada beberapa dokter yg memasuki ruangan itu juga. setelah dokter sudah masuk, suster mulai menutup pintu dan sedikit membungkuk. lelaki paruh baya itu memejamkan matanya sejenak, dia menatap ke arah putrinya yg sedang menunduk sambil memainkan jari-jarinya sendiri, bahkan air matanya menetes seidikit demi sedikit
"sayang, are u okay?" tanya nya
"no, im not okay" balas putrinya
"sedihhhh" ucapnya dengan nada sedikit merengek, ia memegang kepalanya lalu memanyunkan bibirnya
Lelaki paruh baya itu menggeleng pelan, lalu berjalan mendekati putrinya yg sedang terduduk lemas. lelaki itu mengusap rambut panjang putrinya yg terurai
"kamu tenang ya sayang, zee gapapa ko" ucap lelaki itu
"gamungkin piiii, tadikan papi liat sendiri kalau zee di tabrak sama truk besar. mana brutal banget lagi nabraknya, zee kan sampai kepental" balasnya
"iya marsha sayang, papi liat ko. kamu gausah khawatir gitu ya? zee itu anak kuat, kita tunggu kabar dari dokter ya? ga usah sedih sedih lagi" ucap lelaki paruh baya yg tak lain adalah ayah dari marsha
"iya pii" marsha mengangguk, arkhava tersenyum lalu mulai menghapus jejak air mata yg berada pada pipi gembul marsha
"oh iya, kamu kasi tau ke adiknya zee deh tentang kabar ini" suruh arkhava
"eh iya" ucap marsha, dirinya hampir lupa tentang hal itu
Marsha merogoh tasnya lalu mengeluarkan handphonenya, tak lama setelah itu ia langsung menelpon christiyan. handphonenya mulai berbunyi, marsha menggigit kukunya sendiri guna menghilangkan rasa gugupnya. hingga tak lama setelah itu
"halo sha? kamu kenapa telpon malam-malam begini?" terdengar suara serak dari seberang sana, yg tak lain adalah suara christiyan
"tiyan tolong kamu ke RS ya sekarang, zee kecelakaan" ucap marsha dengan nada panik sedikit
duarr
Bagaikan di sambar oleh petir pada siang hari, christiyan terdiam tak percaya. dengan cepat christiyan berlari keluar dari kamar, christiyan mengecek kamar zareev. memastikan bahwa apa yg di katakan oleh Marsha tadi benar
ceklek
Dan benar saja, kamar zareev kosong. christiyan tak melihat batang hidung zareev sedikitpun
"lokasinya udah aku share di wa" ucap marsha
Christiyan melempar handphone miliknya, lalu mulai mengambil jaket dan berlari keluar dari rumah menuju bagasi. tak peduli dengan waktu yg sudah menunjukkan pukul 22.21, christiyan menelusuri jalan ibu kota yg lumayan sepi itu. tak membutuhkan waktu lama, christiyan sampai pada RS yg menjadi tempat tujuannya
Christiyan memarkirkan motornya lalu berlari, hingga langkahnya terdiam tepat di hadapan marsha dan arkhava yg sedang duduk pada kursi panjang khusus untuk menunggu pasien
"zoya mana?" tanya christiyan dengan nafas yg ngos-ngosan
"di dalam, lagi di tangani sama dokter. kamu duduk dulu sini" ucap arkhava. christiyan mengangguk lalu duduk di samping marsha, christiyan mengatur nafasnya terlebih dahulu lalu bersandar pada dinding putih di belakangnya
KAMU SEDANG MEMBACA
si culun || zeesha
De Todo"kalau kamu ga suka sama aku, aku bakalan nunggu sampai kamu suka sama aku sha" zareev fiksi 100%
