E n a m b e l a s

402 25 2
                                        


-

-

-

-





Hembusan deru nafas yang begitu pelan mengiringi setiap detik waktu berjalan . Dentingan jarum jam yang berbunyi setiap detiknya membuat nya sesekali menguap menahan kantuk yang menyerang . Tidak hanya suara dentingan jam . Suara tetesan air yang jatuh setiap beberapa detik sekali bahkan mampu membuat rasa bersalah itu begitu menghujamkan dadanya .

Saga menatap dalam wajah damai putra bungsunya yang kini terpejam damai . Wajah ceria itu lagi lagi harus menerima sakit untuk ke sekalian kalinya dan berakhir seperti ini . Hembusan nafas yang sedikit berat tapi pelan membuat sungkup berwarna hijau transparan yang terpasang menutup mulut juga hidung putranya mampu menimbulkan embun tipis di sekitarnya . Tatapannya beralih , menatap nanar telapak tangan yang dibungkus rapi dengan kain kasa sedikit tebal . Luka di telapak tangan anaknya memang tidak besar , tapi cukup dalam di beberapa bagian . Saga tidak bisa membayangkan betapa perihnya luka itu jika anaknya sudah bangun nanti .

Setelah pertikaian hanya karena masalah sepele ,  adiknya Emeli bahkan sampai membuat anaknya down dan berakhir tidak sadarkan diri seperti ini . Adiknya itu bahkan tidak sama sekali menemuinya setelah pertikaian tadi , dan Saga juga tidak berniat untuk menemui adiknya . Saga takut kelepasan jika melihat Emeli karena tidaknya emosinya belum mereda jika ia bertemu dengan Emeli . Daripada memperpanjang masalah , Saga memutuskan untuk tidak menemui  adiknya terlebih dahulu .

Keberuntungan masih berpihak pada anaknya . Gio datang di waktu yang tepat sebelum ia membawa anaknya ke rumah sakit . Dia tidak punya banyak waktu juga untuk membawa anaknya ke rumah sakit . Untungnya Saga sengaja membeli peralatan lengkap untuk Khala jika sewaktu waktu dalam keadaan seperti ini . Dan pada akhirnya Khala mendapat penanganan di rumah . Gio yang tadinya berniat untuk memberi Khala stroberi karena istrinya baru saja pergi ke bandung ia urungkan niatnya , dan berakhir menjalankan tugasnya untuk menangani pasien kecilnya .

Saga melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar anaknya untuk membasuh wajah karena kantuk terus menyerangnya . Saga kembali dengan wajah yang segar . Di depan ranjang Khala , Neo Natha juga Raffa sudah terlelap . Padahal Saga sudah menyuruhnya untuk tidur di kamar masing masing , tapi mereka dengan kompak menolak . Saga menyunggingkan senyumnya saat kaki Neo tiba tiba mendarat tepat di wajah Raffa , anak dari adiknya tidak terusik sama sekali masih terlelap dengan damai . Tidak lama setelahnya Raffa memeluk tubuh Natha yang tertidur di sebelah nya . Ah , anak sulung nya memang yang paling tenang di antara ketiga nya .

Saga kembali duduk di sisi ranjang milik Khala . Ini sudah hampir lima jam setelah Khala tidak sadarkan diri . Sebenarnya Gio tadi juga memberi obat tidur agar Khala bisa sekalian istirahat , tapi tetap saja Saga tidak tenang . Dia takut Khala tiba tiba terbangun tengah malam , dan terjaga sampai pagi . Apalagi tekanan darah anaknya sedikit rendah .

Saga meraih tangan anaknya . Bengkak akibat infus beberapa hari lalu bahkan belum sepenuhnya mereda , Kini tangan itu harus kembali merasakan kembali sakitnya tusukan jarum infus yang menancap di tangan kecil milik putra bungsunya , menembus kulit putih mulus tersebut . Tangan anaknya yang tadi begitu dingin kini berangsur menghangat . Telapak tangannya sedikit basah , meskipun tidak banyak tapi membuat Saga bisa merasakan hawa dingin dan panas yang menjadi satu saat tangannya memengang tangan anaknya .

" Terimakasih udah selalu berjuang demi ayah kakak sama Abang " lirih Saga pelan .

Saga tersenyum getir saat tidak ada sahutan yang ia dapatkan . Mata anaknya masih terpejam damai . Berkali kali saga mengucapkan terimakasih kepada Khala yang selalu mau berjuang demi kesembuhan nya . Meskipun transplantasi sudah dilakukan , tetap saja Khala tidak bisa pulih sepenuhnya .

LUKA KHALA  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang