16. Let Him Be.

102 18 0
                                    

Suara mainan kereta api milik Sheo meramaikan keheningan ruangan. Aku lagi di kamar Sheo, menjaga anak berusia 6 bulan itu duduk sambil berantakin mainan-mainan miliknya yang udah pasti mahal. Kalau nggak salah Mamaku pernah ngasih rekannya wooden train set semacam ini walau aku nggak tau juga apa ini jenis yang sama atau bukan.

"Babababa." Sheo kesulitan mengambil keretanya karena dia belum bisa merangkak, aku memajukan tubuhku sedikit lebih dekat dan membantu Sheo ambil mainannya. "Jangan diberantakin, She, mainnya tuh gini. Liat aunty,"

Sheo tetep aja lemparin mainannya, naro bola ke rel kereta api, nendang-nendang rel kereta apinya, udahlah terserah lu aja Sheo, lagian ini juga mainan lu.

"CEEEO," Navya udah balik dari nyiapin camilan. Dia order kopi dan bikin ubi panggang madu. Camilan yang selalu nyaman dimakan dihari hujan. Kita sama-sama maniak ubi. Ubi bakar, panggang, keripik. Kita suka semua jenis olahan ubi.

Begitu naro nampannya ke meja terdekat, Navya langsung nyamperin anaknya dan cium seluruh mukanya seolah nggak ketemu 1 tahun.

"Pinternya anak Mami nggak nangis, tadi seru ya main sama Aunty Kian?"

Sheo yang pasti nggak paham ucapan Maminya itu cuman bisa ketawa-ketawa ala bayi yang seneng ketemu ibunya lagi setelah ditinggal sebentar.

"Oke, cerita cerita. Ada cerita apa lu sampe kesini lagi setelah seratus purnama nggak ngechat gua, nggak nelfon gua dan nggak datengin gua."

Aku membenarkan posisi duduk. Tadinya aku condong ke Sheo. Sekarang aku bersandar ke lemari baju Sheo, menatap Navya sebentar terus nunduk mainin kuku jari kaki. "Banyak deh. Gue beneran melalui banyak hal. Gue juga udah ke rumah Rama."

"Oh ya? Udah mau menikah lu? Ih jahat banget nggak pernah bilang apa-apa."

"Beluuuum, waktu itu tuh adek— eh maksudnya keponakan dia, ulang tahun. Gue udah kasih kue enak, hadiah hadiah branded, tapi gue kalah sama cewek desa yang ngasih kue coklat bikinan sendiri dan hadiah tas sekolah dan peralatan sekolah murahan. Oh ya, sama ada mainan juga, gua gak inget jelas itu mainan apa tapi kalau gue masih kecil dan dikasih mainan kayak gitu di hari ulang tahun gue, udah pasti langsung gue buang dihadapan orangnya yang ngasih."

"Serius lu hadiah lu kalah sama hadiah remeh gitu??"

"Sumpah. Gue juga nggak habis pikir apa isi kepala bocah itu. Susah kalau dari kecil mindsetnya udah bodoh gitu."

"I know, terus? Does she hate you, then?"

"Maybe. But I don't care. Dia tuh keponakannya Rama yang dari bayi diasuh sama Ibunya Rama itu."

"Iyaa, gua inget."

Aku lanjut menceritakan semua kejadian yang aku alami belakangan ini. Tentang Rama yang akhirnya dapat posisi di Nusafood dan tentang penghinaan Nenekku malam itu. Navya menyimak semuanya, dia terharu pas aku ceritain tentang ucapan Rama sebelum kita pergi dari rumahku.

"He's genuinely gentle."

"I know. Tapi lu tau nggak apa yang ngusik pikiran gue setelah semua itu?"

"Apa?"

"Gue takut ngerepotin dia kalau dia musti lamar gue. Dia pasti mikir bakalan nyiapin sesuatu yang mahal buat itu sedangkan gue tau dia nggak punya uang sebanyak itu. Apa gue aja ya yang lamar dia? Toh udah jelas kalau bakalan menikah. Nggak penting juga tentang siapa yang ngajakin. Nobody cares juga."

Sunshine. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang