12. Disidang

74 13 0
                                    

Ramalio's POV
————————

Selama aku hidup, aku selalu berusaha berbuat baik. Nggak pernah ada dibayanganku sebelumnya kalau aku akan menghadiri sebuah persidangan kayak gini.

Tante Nindy sebagai Hakim dan Kianna sebagai korban, pengacara untuk dirinya sendiri sekaligus Jaksa. Bahkan sebelum sidang dimulai, aku udah tau aku kalah.

"Tante nggak nyangka loh, Rama, kalau kamu sedang menjalin hubungan sama perempuan lain."

"Enggak Tante—" Belum juga aku sempet jelasin, Kianna motong ucapanku.

"Secantik apa sih dia?"

"Dia—"

"Kalau gini ceritanya mending kalian nggak usah bareng lagi aja. Maaf ya Rama, Tante nggak mau anak Tante disakiti. Walau iya Tante tau Kian bukan orang yang sangat baik, tapi sebagai Ibu, jelas kan, kalau saya nggak terima anak saya disakiti orang lain?"

"Tante saya boleh—"

"Resign aja sekalian kalo bisa. Cari uang dari tempat lain. Lu dari awal cuman mau manfaatin gue aja kan sebenernya, Ram? Gue tau."

Sebelum suasana makin buruk dan aku makin dipojokkan, aku naikin nada bicaraku sambil berdiri. "BOLEH NGGAK SAYA JELASIN DULU?"

Mata dua perempuan di ruangan ini membulat seolah nggak nyangka kalau aku bisa berbuat kayak gini. Ah, aku nggak enak banget sebenernya berperilaku nggak sopan kayak gini.

Tapi.. karena udah gini, lanjut aja ngejelasinnya. "Ini karena Kian langsung ninggalin saya abis ciuman pertama kita, Tante. Saya nggak tau Kian kenapa, dia nggak bilang apa-apa, nggak menghubungi saya juga. Saya galau banget, saya nyoba chat temen cewek saya buat nanyain ini. Tapi karena saya kurang konsentrasi jadinya saya salah kirim. Saya nggak menjalin hubungan sama siapapun. Saya juga nggak manfaatin Kianna demi Nusafood, demi pekerjaan atau demi uang. Saya cinta sama dia. Makanya itu saya bingung. Ah, soal resign, saya bersedia kok. Saya beneran bukan deket sama Kian demi Nusafood."

They're all speechless. Aku juga. Aku pasti gila banget udah bilang kayak gitu barusan. Dengan sopan aku duduk lagi, menunduk sambil minta maaf dengan suara pelan karena udah ngomong pakai nada tinggi.

Tante Nindy sekarang natap anaknya sambil senyum. "Siapa yang cium duluan?"

"Aku. Tapi dipaksa dia." Kian menjadikan aku kambing hitam. Aku menaikkan alisku penuh pertanyaan. Tapi Tante Nindy senyum girang.

"Kenapa kamu ninggalin dia abis ciuman?"

"Karena— ah udahlah. Yang penting Rama nggak lagi ada hubungan sama cewek lain, kan? Jadi masalah udah beres. Udah sana kerja. Nanti bilang aja abis ada urusan sama gue."

"Iya, Nak, nanti Mama bilangin juga ke kantor kamu."

🌥️



Ibu seperti biasa selalu ngirim pesan setiap hari. Nanyain apa aku udah makan apa belum, nanyain gimana pekerjaanku dan nanyain apa aku kekurangan uang. Padahal kalau iya, Ibu juga nggak bisa ngirim uang. Ibu makin tua makin banyak khawatir. Dan kadang itu malah jadi motivasiku buat semakin semangat kerja memperbaiki garis nasib keluargaku.

Freya mau ulang tahun awal bulan depan, beliau berharap aku bisa pulang karena Freya udah dari lama minta pesta ulang tahun yang ada kuenya. Meskipun belum tau kedepannya gimana, aku berusaha menyanggupi.

Ibu juga cerita kalau dia baru dapet beberapa perabotan baru dari keluarga Kianna. Aku yang denger itu bukannya merasa seneng malah merasa sedikit nggak enak, mungkin aku bisa bilang ke Kianna sekaligus orang tuanya supaya nggak usah kirim-kirim barang-barang lagi ke rumah Ibu.

Sunshine. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang