19. Her Birthday.

115 20 5
                                    

"Sayang, kamu inget kan senin besok tante Maya ulang tahun? Jangan nggak dateng lagi ya, Kak, kaya pas anniversary Angel dan Suaminya." Dari seberang sana Mama menyampaikan pesan. Aku yang lagi ngeringin rambut pakai handuk cuman bisa ngangguk.

"Kiann??" Panggil Mama sekali lagi. Aku deketin bibir ke Hp yang tergeletak di meja rias dan bilang "Iya, Ma, aku abis mandi tadi, lagi ngeringin rambut."

"Oooh. Oh iya, sayang! Ibunya Rama hubungin Mama kemarin, katanya Rama udah lamar kamu ya? Aaaa I'm so happy to know that. Ibunya Rama itu temen yang baik buat Mama. Kamu pasti tau kan since you met her already. So how? Kapan menikahnya?" Suara Mama 100% mendadak lebih antusias daripada percakapan kita sebelumnya. Aku ikut seneng dengernya. Tapi...

"Ma?"

"Yaa?"

"Menurut Mama Rama beneran worth nggak?"

"Worth gimana sayang? Dia ada gerak gerik yang bikin kamu malas sama dia?"

"Nggak, bukan gitu. Tapi, gimana kalau seluruh keluarga nggak suka sama Rama? Kan kasihan ke dia juga. Apa aku nikah sama orang lain yang mungkin disukai keluarga kita aja ya, Ma? Yang mungkin bikin Oma bangga maybe, since aku juga nggak bisa apa-apa dan bukan apa-apa walau udah sedewasa ini."

"Who is him, Kak? Siapa yang kira-kira bakalan disukai sama keluarga kita? You know someone else? I can understand your worry if you think you are not in love with Rama. Pernikahan ga boleh dipaksain. Mau Mama suka sama Rama, kan tetep yang jalanin semuanya nanti kamu. And also, mau semua orang suka sama 'dia' yang entah itu siapa, kan yang jalanin juga tetap kamu nantinya."

Aku masih diam. Sebenernya aku juga nggak yakin apa aku harus cerita ke Mama soal apa yang dibilang Angel. Soalnya, kadang Angel itu cuman orang gila yang gak pake mikir dalam melakukan sesuatu. Dia jadi kesayangan oma juga baru-baru ini.

Aku bukannya dibenci dari awal ya, sebaliknya, aku sebenernya cukup paling dominan dalam segi apapun diantara cucu cucu Oma. Tapi, karena akhir-akhir ini hidupku berantakan aja, makanya semuanya jadi gitu.

"Nggak ada sih, Ma. Just wondering."

"Ada ada aja kamu. Yaudah Mama tutup dulu telfonnya ya, Kian."

"Iya, Ma."

Huft, aku kepikiran apa sih? Setelah telepon tertutup aku segera naik ke ranjang dan tidur.

⛈️

Hari pesta Tante Maya tiba. Pestanya diselenggarakan di salah satu hotel bintang lima milik relasi keluarga kita. Ballroom hotelnya emang besar, megah dan makanan disana juga juara. Buat makan di restonya aja harus reservasi, alias nggak semua orang bisa makan disana buat menjaga keesklusifannya. Tapi buat keluarga kita, itu jelas gampang banget buat nyewa ballroom atau seluruh hotel sekalipun.

Aku pakai gaun sleeveless satin model A-line dengan slit di bagian kiri yang mengespos pahaku. Warna dressku hari ini nggak mencolok banget. Aku gatau kenapa tapi aku mood milih warna blush pink dari awal. Udah kepikiran aja gitu kalau mau pakai baju ini. Ditambah aku punya pendant necklace pink shapphire yang cocok banget dipakai sama dress ini.



Memasuki lift yang letaknya nyaris berhadapan dengan pintu apartku, aku baru sadar kalau cincin Rama belum jadi aku ambil. Sialan, kalau aku cari sekarang pasti nanti aku sampe sananya telat dan bikin Oma marah.

Huh.

Mana Rama itu sekarang udah jadi Manager, bukan karyawan pabrik biasa. Harusnya dia juga jadi salah satu orang yang siapin pesta buat Tante mengingat beberapa hari ini kita gak ketemu dan dia cuman telfon aku sebentar di sela-sela kesibukannya—yang nggak aku tanyain kesibukan apa itu.

Sunshine. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang