Seperti namanya Bintang, dia hanya ingin selalu menyinari orang-orang yang dia sayangi dengan cahaya kebahagiaan. Namun, hal yang tidak terduga datang menghampirinya dan membuat sinarnya perlahan meredup dan akhirnya menghilang.
Starlight
Start :...
"Kamu bisa menjadikan cahayaku-bintang sebagai kompas dan tanganku sebagai penopang, aku bisa menjadi rumah untukmu, dan kamu juga bisa menjadi rumahku, kita akan saling menjaga dan melindungi sampai kapanpun. "
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Bulan turun dari sebuah taksi, dia melambaikan tangannya kepada Ata yang masih berada di dalam taksi itu sebelum taksinya melaju kembali. Mengetahui rumah Ata yang lebih jauh daripada rumahnya. Bulan berjalan menuju gerbang rumahnya dengan bibirnya yang terus tersenyum. Ternyata menghabiskan waktu bersama Ata tidak seburuk yang dia pikirkan, Ata cukup menyenangkan dan tidak sedingin yang dikatakan Lintar. Namun, Bulan tidak tahu jika ada seseorang yang sedang memperhatikan gerak-geriknya itu dari dalam rumah.
"Assalamualaikum, Bulan pulang," kata Bulan saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," Bukan suara Mbak Sari yang menjawab salamnya kali ini, melainkan Mamanya.
Bulan sedikit kaget sekaligus heran. Tidak biasanya Mamanya ada di rumah apalagi ini masih petang, kalau pun pulang paling pagi di saat Bulan sedang sibuk menjelajahi mimpinya. Ini benar-benar hal yang langka.
"Lho, Mama ada di rumah? Tumben Mama sudah pulang jam segini," ucap Bulan setelah mencium tangan Mamanya.
"Kalau Mama pulang jam segini memangnya kenapa? Bukannya kamu selalu meminta Mama untuk menghabiskan waktu di rumah bersamamu? Tapi malah kamu yang pulangnya telat, padahal Mama sudah pulang dari tadi siang." kata Agni, dengan nada yang terdengar dingin, dia terlihat marah. "Habis dari mana kamu, kenapa jam segini baru pulang?" lanjutnya mulai mengintrogasi Bulan dengan beberapa pertanyaan.
"Maaf, Ma. Aku tidak tahu jika Mama pulang cepat hari ini. Tadi pulang sekolah aku ke toserba dulu, mau beli novel untuk bahan tugas bahasa indonesia, Ma. Makanya aku baru pulang."
"Beli novel untuk mengerjakan tugas atau pacaran dulu? Atau beli novel sekalian pacaran, hmm?" tanya Agni lagi, kali ini nada suaranya sedikit meninggi.
"Pacaran? Maksud Mama apa?"
"Kamu jangan pura-pura tidak mengerti seperti itu. Jelas-jelas barusan Mama lihat kamu keluar dari taksi, kamu terlihat senang sekali sambil melambaikan tangan ke seseorang yang ada di dalam taksi, yang Mama sangat yakin jika itu adalah seorang laki-laki. Siapa dia? Pacar kamu, iya kan?"
"Dia teman baruku Ma, namanya Matahari. Saat di toserba tadi, tidak sengaja kita bertemu dan akhirnya kita memutuskan untuk pulang bersama karena rumah kita searah."
"Jangan hanya karena Mama dan Papa jarang ada di rumah, bukan berarti kamu bisa bergaulan dengan bebas seperti itu, apalagi jika kamu sampai menghabiskan waktu dengan orang yang baru saja kamu kenal. Kamu harus bisa jaga diri kamu dengan baik dong, Bulan. Mama tidak mau ya nasib kamu sama seperti anak-anak di luar sana yang masa depannya hancur karena hamil di luar nikah," ucapan Agni makin ke ngelantur ke mana-mana.