"Love is beautiful but love is scary too. Sometimes it makes lauhing, crying and suffering. The point is love is complicated."
***
Bintang dan Bulan yang sedang berada di taman rumah sakit mendengar keributan dari koridor diikuti dengan suara brankar yang didorong dengan cepat. Mereka pun mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara, mereka melihat beberapa perawat di sana dan seseorang yang sepertinya mereka kenal, melihat dari seragam sekolah yang dipakai orang itu. untuk memastikan rasa penasaran mereka, mereka pun memutuskan untuk mengikuti, sepertinya itu benar-benar hal yang darurat, melihat darah yang bersimbah di pakaian orang yang berada di atas brankar itu. Sambil berpegangan tangan mereka terus mengikuti ke mana para perawat itu membawa brankarnya pergi.
Jantung mereka berdegup semakin kencang, pikiran negatif terus menghantui kepala mereka. Mereka mulai gelisah sekaligus khawatir. Bahkan Bintang mulai kesusahan mengatur nafasnya.
"Apa kamu memikirkan hal yang sama denganku, Bi?"
"Itu bukan Ata kan, Lan? Semoga aku salah lihat."
"Aku juga berharap hal yang sama denganmu, Bi. Tapi -ah kita lihat saja, itu benar-benar Ata atau bukan."
Dan pada akhirnya mereka pun sampai di depan ruang IGD. Dan ternyata itu benar-benar Ata, orang yang mereka lihat itu adalah Ata.
"Bunda! Jangan tinggalkan Ata, Ata mohon, Bundaaa!" Ata manangis meraung, tidak memperdulikan dengan tatapan beberapa orang yang menatapnya dengan iba sekaligus khawatir dengan kondisinya saat ini.
"Ya Allah, Ata. Apa yang terjadi?" tanya Bintang yang sudah berada di hadapan Ata.
Selain merasa khawatir, Bintang dan Bulan dibuat ngeri melihat Ata yang terlihat sangat berantakan, baju seragamnya terlihat compang-camping dan berlumuran dengan darah. Terlihat juga beberapa goresan luka di tangan, serta bagian dadanya. Dia terluka cukup parah. Dalam kepalanya, mereka bertanya-tanya. Apa dia tidak merasa kesakitan?
Bintang yang berada tepat di hadapannya itu bisa melihat dengan jelas luka yang menganga di telapak tangan kanannya.
"Maafin Ata, Kak. Ata gagal menjaga Bunda dengan baik. Pasti Kakak marah dan kecewa sekali."
Bukannya menjawab pertanyaan Bintang, Ata malah meracau kata-katanya.
"Tidak, Kak, jangan berbicara seperti itu. Jika Kakak berbicara seperti itu Ata merasa semakin buruk."
"Bukan salah Kakak, sudah jelas dari awal ini semua salah Ata. Emang dasarnya Ata anak pembawa sial."
"Kenapa Kakak begitu egois? Harusnya Ata saja yang pergi. Bunda lebih membutuhkan Kakak dibanding Ata!"
"Ata hanya menjadi pembawa luka di keluarga ini."
"Ata memang tidak berguna."
"Bisanya hanya menyusahkan."
Ata semakin terisak. Bintang dan Bulan terlihat semakin bingung ketika Ata mulai berbicara sendiri, seolah dia sedang berbicara dengan seseorang yang tidak bisa mereka lihat.
Terlintas pikiran random di kepala mereka saat ini. "Apa dia punya sixth sense? Apa dia bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
STARLIGHT
RomanceSeperti namanya Bintang, dia hanya ingin selalu menyinari orang-orang yang dia sayangi dengan cahaya kebahagiaan. Namun, hal yang tidak terduga datang menghampirinya dan membuat sinarnya perlahan meredup dan akhirnya menghilang. Starlight Start :...
