✨. 30 : The Place We Heal

153 10 31
                                        

“It’s not magic that heals us, but the people who choose to stay when we’re at our worst.”

***

Siang itu, kantin sekolah dipenuhi suara ramai siswa yang saling bercengkerama, tapi di salah satu sudut meja, suasananya justru terasa lebih berat dari biasanya. Bintang, Bulan, Matahari, dan Lintar duduk bersama, nampak tenggelam dalam percakapan yang tidak seperti biasanya.

"Jadi, kamu benar-benar melihat pelaku yang mencuri uang perusahaan Ayahku, Li?" tanya Bintang, membuka pembicaraan sambil menatap Lintar dengan sorot serius.

Mulut Lintar masih penuh dengan makanan. Ia buru-buru mengunyah dan menelan sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Iya, aku lihat.Dia terlihat masih muda, bahkan sepertinya dia lebih muda dari Papa dan Om Tara," jawabnya, sedikit ragu, seperti tak percaya dengan apa yang ia saksikan tadi malam.

Bintang menghela napas pelan. "Ya, dia memang lebih muda dari Ayah. Bahkan, Ayah sudah menganggapnya seperti Adiknya sendiri. Tapi balasannya malah seperti ini, sungguh di luar dugaan. Plot twist. Wajar jika waktu itu Bunda sampai marah seperti orang yang kesurupan.”

Bulan yang sejak tadi hanya menyimak, tiba-tiba duduk lebih tegak, ekspresinya terkejut. “Jangan bilang kalau pelakunya Om Adit?” suaranya meninggi, nyaris tak percaya. “Om Adit yang anaknya jadi korban tabrak lari itu? Yang harus operasi tapi nggak punya uang, Ayah yang waktu itu tidak sengaja mendengar pembicaraanya dengan Dokter pun menawarkan diri untuk membantu. Saat itu kita akan pulang setelah selesai mengantar kamu check up,” lanjutnya dengan nada suara yang menggebu-gebu.

Bintang mengangguk pelan. “Aku juga berharap jika pelakunya bukan Om adit, Lan. tapi sayangnya orang itu benar-benar Om Adit, orang kepercayaan Ayah di perusahaan,” terlihat jelas raut kekecewaan di wajah Bintang yang pucat.

 “Gila.” Bulan menggeleng-gelengkan kepala, matanya membulat. Masih terkejut dengan fakta yang baru saja dia ketahui beberapa menit yang lalu. “Om Adit sakit jiwa sih. Bisa-bisanya dia nusuk Ayah kamu dari belakang seperti itu. Padahal kan Ayah sudah menolongnya. Ngga cuma itu, Ayah juga memberikannya pekerjakan yang layak dengan gaji yang menjajikan. Aku tidak habis pikir, kenapa dia bisa bertindak sejauh itu? Jika dia memang sedang butuh uang, kan bisa ngomong baik-baik sama Ayah, aku yakin ayah pasti akan membantunya, bukannya malah mengambil jalan pintas seperti ini,” Bulan benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Wajahnya pun memerah.

Lintar yang ada di sampingnya pun mengusap pungungnya, berusaha untuk menenangkan sahabatnya yang cantik itu. “Itulah manusia, selalu tidak merasa cukup dengan apa yang mereka punya, yang pada akhirnya melakukan tindakan bodoh dalam satu kali berpikir, sehingga mereka tidak tahu tindakan bodoh mereka itu bisa merugikan hidupnya sendiri bahkan orang lain. Manusia zaman sekarang pikiran dan tindakannya sama-sama ngeri,” kata Lintar penuh dengan penekanan, wajahnya yang selalu terlihat pucat itu kali ini terlihat serius. “Dan Om Adit salah satu dari manusia itu, padahal kalau dilihat dari wajah dan penampilannya, dia terlihat seperti orang baik. Sehingga sangat mengejutkan jika dia melakukan tindak kriminal seperti itu. Masih baik dia tidak sampai menyakitimu dan juga kedua orang tuamu, Bi.” Lanjutnya.

“Yang terlihat baik belum tentu baik, dan yang terlihat buruk belum tentu buruk. Kita tidak pernah bisa melihat isi hati manusia, Li. Kita hanya bisa berhati-hati dan jangan mudah percaya kepada orang lain. Apalagi orang itu adalah orang yang baru kita kenal,” komentar Ata yang baru membuka suaranya setelah sedari tadi hanya diam dan mendengarkan.

“Iya, kalau masalah itu aku juga tahu kali, Zen. Maka dari itu, aku juga harus berhati-hati denganmu, bukankah begitu?” balas Lintar yang lebih terdengar seperti ingin memancing perdebatan dengan Ata.

STARLIGHTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang