Seperti namanya Bintang, dia hanya ingin selalu menyinari orang-orang yang dia sayangi dengan cahaya kebahagiaan. Namun, hal yang tidak terduga datang menghampirinya dan membuat sinarnya perlahan meredup dan akhirnya menghilang.
Starlight
Start :...
“Jangan khawatir, kita bisa melawannya dengan cara kita sendiri, bahkan dengan cara yang tidak terlihat sekalipun."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
"Bagaimana keadaan Bundamu, Ta? Apa ada perkembangan?" tanya Bintang membuka pembicaraan siang ini.
Seminggu telah berlalu, Ata sudah keluar dari rumah sakit, kondisinya pun sudah lebih membaik. Begitu pun dengan Lintar, bahkan Lintar hanya dirawat dua hari saja waktu itu. Sekarang dia sudah bisa bersikap menyebalkan lagi, seperti biasanya.
"Kata Dokter kondisi Bunda membaik dari hari ke hari, tapi Bunda masih belum diperbolehkan pulang. Mungkin sekitar dua atau 3 hari lagi baru Bunda diperbolehkan untuk pulang," jelas Ata dengan santai sambil mengaduk-aduk baso tahu yang dia pesan tadi agar bumbunya tercampur.
"Senang mendengarnya. Tidak penting Bundamu pulang kapan yang terpenting keadaan Bundamu semakin membaik, Ata." Kali ini Bulan yang duduk di samping Bintang yang berbicara.
"Hmm." Ata mengangguk setuju.
"Bagaimana dengan si Monster itu? Apa dia mengganggumu selama seminggu ini tanpa sepengetahuan kita?" tanya Lintar acuh tak acuh sambil menikmati bekal makan siangnya hari ini.
"Tidak, selama seminggu ini semuanya aman-aman saja. Sepertinya dia juga tidak tahu jika aku dan Bunda ada di rumah sakit yang sama dengan Biru. Pasti fokusnya sekarang hanya pada Biru, mungkin saat ini dia sedang gelisah karena hari ini Abbanya Biru akan pulang, bukan begitu?"
"Iya kamu benar, Ata. Mungkin dia sedang sibuk menyiapkan skenario untuk menyambut kedatangan Abbanya Biru, berakting sebaik mungkin agar Abbanya tidak curiga jika dia telah menyakiti Putra yang paling dicintainya itu. Aku benar-benar sudah muak dengan wanita itu." Bintang yang mempunyai hati selembut kapas saja selalu tidak bisa menahan emosinya jika sedang membahas Ibu tiri dari Adiknya itu. Sampai terkadang membuat dadanya terasa sesak.
"Wanita itu sungguh bahaya, kita tidak mungkin membiarkan seorang psikopat berkeliaran di sekitar si Blue. Kalau kita sudah dapat bukti dari kelakuan busuk si Monster itu kita langsung aja serahin ke polisi dan semuanya selesai," Lintar berbicara dengan santainya seolah yang dikatakannya itu bukanlah hal yang sulit.
"Tidak semudah itu, Li. Rumah Biru yang sudah seperti sebuah Istana itu tidak dilengkapi dengan CCTV. Biru sempat cerita kepadaku jika Abbanya dulu sempat akan memasang CCTV agar bisa memantau Biru dari jauh karena Abbanya merasa khawatir, tapi wanita itu melarang, dia berkata kenapa harus repot-repot memasang CCTV jika ada Saya?" Bintang menjelaskan dengan nada yang kesal.
"Benar-benar wanita licik, Monster berdarah dingin. Padahal nyatanya dia melakukan itu karena tidak ingin perbuatan kejinya itu diketahui oleh Abbanya Biru. Sumpah aku kesal sekali," Bulan yang juga kesal itu pun menggebrak meja kantin. Membuat beberapa orang yang ada di sana menatap meja yang di duduki mereka berempat dengan aneh. Tapi dia tidak peduli dengan hal itu.