✨.28 : Between Zero And One

115 9 29
                                        


 

“Anggap saja jika aku adalah orang nomor satu yang peduli dan menyayangimu. Tapi, jika kamu menyembunyikan rahasia dariku. Akan kupastikan jika aku akan menjadi orang pertama yang membencimu.”

 

***


Bintang tidak pernah melepaskan pandangannya dari Bulan yang sedang tertidur di atas pangkuannya. Wajah yang selalu terlihat cantik di matanya itu kini terlihat pucat dan sedikit terlihat kekuningan. Bintang baru menyadari, jika pipi sahabat  cantiknya itu terlihat semakin tirus. Dia diam, tak bersuara, tetapi kepalanya saat ini tengah sibuk dan berisik dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia lontarkan kepala Bulan.

"Kamu kenapa?"

"Apa yang terjadi denganmu?"

"Aku tahu ada yang kamu sembunyikan dariku."

"Apa kamu menyembunyikan ini dari semua orang?"

"Atau hanya dariku?"

"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, Bulan."

"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Kapan kamu akan membaginya denganku?"

"Diamnya aku, bukan berarti aku tidak berbuat apa-apa dan tidak memperhatikanmu, Bulan."

"Aku memperhatikanmu setiap hari."

"Aku sudah mencari tahu atas semua sikap anehmu itu, dan aku menemukan satu fakta yang jujur saja membuatku takut atau mungkin bisa membuat penyakit sialanku ini kambuh karena saking takutnya."

"Tapi aku selalu menepis hal itu dan berusaha untuk selalu berpikir positif."

"Selama kamu belum memberitahuku, itu hanya akan menjadi dugaanku saja."

"Aku berharap semua yang aku pikirkan itu salah."

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku jika apa yang aku pikirkan itu benar."

"Mungkin duniaku tidak akan lagi sama. Duniaku akan runtuh."

"Terlepas dari hal itu, mungkin aku akan membencimu karena ngga jujur sama aku."

Kepalanya benar-benar sesibuk dan seramai itu.

"Shhh!" Di sela-sela tidurnya, Bulan meringis. Hal itu berhasil membuat Bintang tersadar lagi dari alam bawah sadarnya.

Bintang yang menyadari hal itu pun langsung menggenggam kedua tangan Bulan, berharap dengan begitu Bulan bisa membagi rasa sakitnya dengan Bintang. Perlahan, Bulan mulai tenang dan tidur dengan nyaman kembali.

Dada Bintang seketika terasa sakit dan sesak, seperti ada yang mencakarnya dari dalam. "Shhh," kali ini dia yang meringis kecil.

Pak Harun yang sedang fokus mengemudi itu pun menyadari hal itu dari kaca spion. "Den Bintang, kenapa? Sakitnya kambuh lagi?" tanya Pak Harun pelan, ada kekhawatiran di dalamnya.

Bintang menggelengkan kepalanya. Karena Bintang yakin, dadanya sakit bukan karena penyakitnya kambuh. Ini karena Bulan, karena dia melihat seseorang yang dia sayangi kesakitan di depan mata kepalanya sendiri. Ini kejadiannya sama seperti yang terjadi kepada Bintang saat tahu jika Ambara selama ini kesakitan dan menyembunyikannya darinya. Dan kali ini, Bulan yang melakukannya kepada Bintang.

"Nggak kok, Pak. Aku baik-baik saja. Sepertinya aku hanya kelelahan," jawab Bintang yang sedang berusaha untuk mengatur nafasnya yang sedikit tidak beraturan.

"Nanti Bapak antar Den Bintang dulu ya pulangnya." Seolah tidak percaya dengan ucapan Bintang, Pak Harun pun berkata demikian.

"Ngga usah, Pak. Aku bisa pulang sendiri kok. Nanti langsung ke rumah Bulan saja. Aku yang akan mengantarnya sampai kamar. Kasihan kalo Bapak yang harus gendong Bulan. Pinggang sama punggung Bapak bisa sakit, dan aku ngga mau Bapak kesakitan," tanggap Bintang sambil tersenyum ke arah spion, karena Bintang yakin Pak Harun akan melihatnya, sehingga beliau bisa percaya jika Bintang tidak bohong.

STARLIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang