“Aku Sangat menyayanginya, apapun akan aku berikan kepadanya, termasuk nyawaku sendiri.”
***
Tanpa memperdulikan seseorang yang berada di sampingnya, Bulan tetap menangis, berharap dengan menangis akan meringankan sedikit beban yang hinggap di dadanya. Giginya mulai bergemeletuk, dia kedinginan. Melihat hal ini, pemuda jangkung yang duduk di samping Bulan itu pun segera melepas jaket oversize yang dia kenakan dan tanpa aba-aba dia langsung memakaikannya di tubuh Bulan yang sedang menggigil itu. Bulan yang kaget dengan tindakan yang dilakukan oleh pemuda di sampingnya itu pun hanya bisa menatapnya dengan bingung, seolah dia sedang berkata, “Apa yang kamu lakukan? Bahkan kita tidak saling kenal.”
Dia yang sepertinya mengerti dengan tatapan Bulan itu pun berucap, “tidak apa-apa, kamu pakai saja jaketnya. Aku masih memakai baju panjang dan mempunyai payung, masih amanlah. Kamu lebih membutuhkan jaket itu daripada aku."
Sambil menghapus air matanya, Bulan mengangguk kikuk, “Thanks."
“Hmm,” dengan wajah datarnya pemuda itu juga mengangguk. “Sebelumnya aku ingin meminta maaf, aku tidak bermaksud untuk menguping apa yang kamu katakan tadi, aku hanya tidak sengaja lewat. Tapi, kamu harus selalu ingat satu hal. Semua manusia di dunia ini berhak mendapatkan kehidupan, dengan batas waktu yang berbeda-beda. Jika kamu ingin memberikan kehidupanmu untuk orang lain, itu berarti kamu akan mati dan orang itu akan tetap hidup? Apa kamu berpikir jika orang itu akan senang dan bersykur atas hal itu? Jika kamu berpikir seperti itu maka kamu salah besar. Alih-alih merasa seperti itu dia akan merasa menjadi seorang pembunuh karena telah menerima kehidupan dari orang lain. Hidup dengan perasaan bersalah itu sungguh menyakitkan dan tidak bahagia. Tolong pikirkan kembali niatmu itu," katanya panjang lebar kepada Bulan.
Bulan tentu saja mendengar semua yang dikatakan olehnya, tanpa berniat ingin menanggapinya karena apa yang dikatakannya itu memang benar. Niat Bulan itu memang baik, tapi itu bukan jalan keluarnya.
“Jika kamu tidak memikirkan tentang dirimu, setidaknya kamu pikirkan orang itu. Pikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Jika dia akan sembuh dan selamat sementara kamu akan menghilang, mungkin bisa saja dia depresi dan akan berakhir mengakhiri hidupnya sendiri, dan semua pengorbananmu akan menjadi sia-sia."
Mendengar itu Bulan sedikit terpancing saja emosinya. “Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu kepadaku? Seolah kita sudah saling mengenal dan kamu tahu semua tentangku. Kamu jangan sok tahu seperti itu, seolah kamu mengerti dan sudah pernah melaluinya. Situasi ini terlalu sulit, kamu tidak akan mengerti," kata Bulan dengan nada yang tidak santai.
Pemuda itu tersenyum miring, dia merasa diremehkan dengan kata-kata Bulan itu. “Bukannya sok tahu, aku berbicara seperti itu bukan karena tanpa alasan. Aku tidak mungkin berbicara omong kosong saja, apalagi kepada seseorang yang baru saja aku temui. Aku hanya tidak ingin dia bernasib sama sepertiku. Aku hanya berniat baik."
Mendengar itu Bulan terdiam, entah apa yang terjadi tetapi tiba-tiba saja dia merasa bersalah.
“Seseorang pernah berkata seperti ini kepadaku, hidup itu hanya sekali dan sangat berharga jadi jangan pernah menyia-nyiakannya, sekalipun hidup kita menyedihkan, payah, buruk dan menyakitkan. Aku sangat berterima kasih kepadanya karena dia telah menyelamatkan hidupku."
“Apa orang ini benar-benar pernah mengalami hal yang sama denganku? Jika iya, haruskah aku meminta maaf?'''
“Sorry, seharusnya aku tidak mengganggumu dan menyeretmu ke sini. Mungkin akan lebih baik jika aku pergi sekarang. Permisi!" Membuka payungnya, dia pun beranjak dari duduknya lalu berlalu dari hadapan Bulan setelah meminta maaf.
KAMU SEDANG MEMBACA
STARLIGHT
RomanceSeperti namanya Bintang, dia hanya ingin selalu menyinari orang-orang yang dia sayangi dengan cahaya kebahagiaan. Namun, hal yang tidak terduga datang menghampirinya dan membuat sinarnya perlahan meredup dan akhirnya menghilang. Starlight Start :...
