✨. 31 : The Red String

103 5 21
                                        

"Takdir menautkan kita dengan luka yang mengalir, air mata yang tak kering, dan darah yang tak berhenti berbisik."

***

Langit senja sudah lama jatuh ke pelukan malam ketika Ata kembali menyusuri jalan yang hanya dia tahu ujungnya. Magic House berdiri seperti biasa, sunyi dan tak berubah, tapi malam ini ia memeluk Ata dengan dingin yang berbeda.

Tanpa bicara pada siapa pun, Ata melangkah masuk dan membiarkan dirinya larut ke dalam Mad Spot—sudut rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka yang menyimpan terlalu banyak suara di dalam kepala mereka sendiri. Rasanya baru tadi siang dia memasuki Joy spot bersama teman-temannya di Magic House, rasanya seperti mimpi karena tiba-tiba saja dia masuk ke Mad Spot, spot yang seharusnya tidak pernah mereka masuki termasuk Ata sendiri.

Di luar, angin malam menari perlahan. Di rumah masing-masing, teman-teman yang lain tahu di mana Ata berada. GPS di ponsel Bintang mengabarkan lokasi itu sejak sore tadi, tapi tidak satu pun dari mereka mendekat. Bintang hanya menatap layar dengan diam, sementara yang lain membaca diamnya sebagai keputusan.

“Mungkin Ata butuh waktu untuk sendiri,” kata Bara, menepuk bahu Bintang dengan lembut. Bintang mengangguk, meski di dadanya ada kegelisahan yang belum bisa ia eja. "Ata bukan tipe orang yang mudah meneteskan air matanya di hadapan orang lain, tapi aku percaya dia akan baik-baik saja," lanjutnya berusaha untuk menghilangkan kekhawatiran Bintang dan yang lain.

Namun waktu terus berjalan. Dan malam makin menebal. Jam dinding menunjukkan angka yang membuat Bintang menelan kegelisahannya dalam-dalam. Ia membuka ponsel lagi, menatap titik merah yang belum juga berpindah sejak sore.

“Apa yang terjadi denganmu hari ini, Ata? Kenapa kamu masih belum beranjak dari Magic House? Ini hampir pukul sepuluh malam.”

Tak bisa lagi duduk diam, Bintang pun bangkit. Ia menyambar jaket, memasukkan satu kotak kecil berisi permen mint ke saku, dan melangkah keluar rumah. Langkahnya cepat, seperti dipanggil oleh sesuatu yang hanya dia yang dengar. Bintang memutuskan untuk menyusul Ata ke sana—Magic House. Tanpa sepengetahuan Ayah, Bunda, dan Bara tentu saja, jika sampai ketahuan mungkin dia akan diomeli habis-habisan, tapi bukan karena marah melainkan karena mereka sangat menyayangi cahaya kecil mereka yang bisa meredup dan menghilang kapan saja dan di mana saja. Beruntungnya, Bintang yang mempunyai otak jenius itu pun berhasil keluar dari rumah tanpa drama sedikit pun.

Dengan perasaan yang diselimuti oleh kekhawatiran, Bintang berjalan lebih cepat agar dia bisa segera sampai ke tempat yang dia tuju, sehingga dia hanya membutuhkan waktu setidaknya dua puluh menit untuk sampai di sana. Kini dia sudah berada tepat di depan Magic House, tapi Bintang tidak datang untuk bertanya. Ia datang untuk mengerti. Pelan-pelan ia mendorong pintu. Langkahnya ringan, tapi dadanya tidak. Dan di sana, di sudut yang paling sunyi, di Mad Spot, ia menemukan Ata. Duduk membungkuk, punggungnya menghadap ke arah Bintang. Tangannya memainkan ujung sweater yang hampir usang, seolah sedang mencari jawaban di antara benang-benang yang terurai.

“Ata,” suara Bintang pelan, tapi cukup untuk memecah kesunyian di antara mereka.

Ata tidak menoleh. Tapi tubuhnya menegang sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan bahwa dia mendengar. Hanya saja, entah dia siap untuk bicara, atau masih bersembunyi dalam pikirannya sendiri. Bintang melangkah lebih dekat. Ia duduk di samping Ata, tapi tak bicara apa-apa. Hanya menghadirkan diri, menghadirkan kehadiran, karena kadang itu satu-satunya hal yang seseorang butuh.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

STARLIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang