✨. 14 : The Sun Without Shine

170 10 42
                                        


(WARNING ⚠️ ⚠️ ⚠️. CHAPTER INI BERISI KONTEN YANG SENSITIF 💉🩸🔪☠️💀 KATA-KATA YANG KASAR , TOLONG DIBACA SECARA CERMAT, TIDAK UNTUK DITIRU! AMBIL POSITIFNYA SAJA KARENA INI HANYA FIKSI. THANK YOU)

***

"Jika kita mengumpamakan matahari bersinar di saat bahagia, dan meredup di saat sedih. Aku mengumpamakan diriku sebagai matahari tanpa sinar karena kebahagiaannya  telah hilang!"

***

"Apa dia sedang berusaha untuk menjadi keren? Dia tenang sekali."

"Keren katamu? Aku malah berpikir jika dia bisu. Dia hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan satu katapun."

"Apa yang kamu pikirkan? Dasar bodoh. Jika dia bisu, dia tidak akan mendaftar sekolah di sini."

"Mungkin dia memang seperti itu orangnya, tidak banyak bicara sepertimu."

"Hmm, bisa jadi."

"Coba lihat ke arah sana. Orang yang paling tinggi itu sangat lucu dan tampan."

"Iya, kau benar. Tapi sepertinya dia membenci manusia."

"Kenapa begitu?"

"Lihat saja earphone yang menggantung di lehernya. Bukannya orang yang memakai earphone sama dengan tidak ingin diganggu? Dalam artian dia tidak suka keramaian."

"Apa iya?"

"Iya, terutama dari orang yang berisik sepertimu!"

"Haish kamu ini."

"Berhentilah berbicara atau kita akan dimarahi atau lebih buruknya dihukum oleh Kakak OSIS."

"Apa dia yang berada di depan itu baik-baik saja? Bukannya dia terlalu kurus untuk postur tubuhnya yang tinggi menjulang itu?"

"Kenapa kamu sibuk sekali memikirkan orang lain? Pikirkan saja dirimu sendiri. Tapi kalo dipikir-pikir, bukankah kamu ingin menurunkan berat badanmu? Mungkin kamu bisa meminta tips kurus kepadanya."

"Sialan, kenapa kamu jadi mengejekku begitu? Mungkin dia sakit, makanya fisiknya seperti itu."

Dari arah belakang, Matahari mendengar  beberapa orang berbicara, dia merasa jika ucapan-ucapan itu mengarah kepadanya, dalam artian orang-orang itu sedang membicarakannya, baik Siswa ataupun Siswi, tapi sungguh mau sampai mulut mereka keluar busa karena membicarakannya sekalipun, dia tidak peduli. Karena yang benar-benar tahu tentang dia hanya dirinya sendiri. Mungkin dia memang tidak suka keramaian, tapi bukan berarti dia membenci manusia.

"Kakak OSIS yang cantik itu menyuruh kita udah memilih satu anggota di kelompok kita untuk dijadikan ketua," teman satu kelompoknya tiba-tiba berkata seperti itu, membuatnya tersadar dari lamunannya.

"Bisa mengikuti hari pertama MOS saja sudah alhamdulillah dan sudah melelahkan. Tentu aku tidak ingin menjadi ketua kelompok karena pasti itu akan menguras tenagaku, jadi yang lain saja," tanggap teman yang lain.

Satu kelompok berisi 6 orang yang terdiri dari 3 perempuan dan 3 laki-laki, serta campuran antara anak IPA dan IPS. dan di kelompoknya hanya ada 2 orang yang mengambil jurusan IPA, orang itu adalah dia dan satu teman perempuannya. Ameera Aisyah, itu adalah name tag yang tertera di seragamnya.

"Pasti di kegiatan selanjutnya akan menggunakan kerja sama dan juga kinerja otak. Mungkin akan lebih baik jika yang menjadi ketua di kelompok kita anak IPA saja," salah satu teman laki-lakinya, memberikan usul.

"Nah, iya, setuju aku!"

"Gimana kalau kamu saja?" Teman perempuannya yang berkuncir dua, menunjuk ke arahnya secara spontan. Namanya pelangi.

STARLIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang