“Life is all about
balancing, letting go
and holding on."
***
Bulan sudah langsung diperbolehkan pulang setelah menghabiskan satu infusan. Bulan tidak langsung pulang ke rumah, katanya dia ingin jalan-jalan dulu untuk melupakan sejenak tentang kenyataan pahit yang terjadi kepadanya hari ini. Ata yang merasa khawatir itu pun memutuskan untuk menemaninya.
Saat ini mereka sedang duduk di taman yang tidak jauh dari rumah sakit yang tadi. Mereka tidak melakukan apa-apa, mereka hanya duduk di bangku yang ada di taman itu sambil menatap lurus ke depan, melihat beberapa anak kecil yang masih bermain di sana. padahal hari sudah mulai sore.
Untuk beberapa saat Bulan tersenyum, melihat anak-anak yang sedang bermain itu membuatnya merasa kembali ke masa itu, masa di mana dirinya dan Bintang yang selalu bermain bersama dengan penuh suka cita di taman saat mereka masih kecil. Rasanya Bulan ingin kembali lagi ke masa itu. Namun, sayangnya itu adalah hal yang sangat mustahil dan hanya akan menjadi sebuah kenangan indah yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
“Kenapa kamu ingin merahasiakan hal ini dari Bintang dan semua orang?" tanya Ata membuka pembicaraan.
“Aku tidak bermaksud untuk merahasiakannya dari siapapun, aku hanya belum siap dan akan mencari waktu yang tepat."
“Aku mengerti, tapi Jika kamu tidak pernah menemukan waktu yang tepat bagaimana? Bukan kah lebih baik jika kamu mengatakannya sekarang?*
“I want him to know but I don't want to tell him. I don't want to hurt him."
“Tapi akan lebih menyakitkan lagi jika dia tahu dari orang lain, Bulan. Bintang dan yang lainnya harus tahu darimu langsung."
“I know, i just need a time."
Ata mengangukkan kepalanya. “Terserah kamu saja. Setidaknya aku sudah memberimu saran. Dan tolong jangan melakukan hal bodoh yang kamu katakan saat di halte bus waktu itu. Itu hanya akan membuat Bintang menderita. Semua manusia mempunyai batas waktu hidupnya masing-masing, kamu harus ingat tentang hal itu, Bulan."
“Tapi jika aku yang pergi lebih dulu, tidak ada salahnya kan, jika aku membantunya untuk sembuh?"
Ata dibuat kesal dengan sifat pesimis yang dimiliki Bulan ini. “Jangan berkata seolah kamu ini tidak akan sembuh! Takdir manusia itu tidak pernah bisa ditebak, Bulan. Yang sakit bisa sembuh yang sehat bisa tiba-tiba sakit lalu pergi. Penyakit kamu masih bisa ditangani. Kamu hanya harus percaya dan yakin jika kamu akan sembuh."
“Aku harap kamu segera memberitahu semua orang terutama kedua orang tua kamu. If you want to be trusted, be honest!"
Bulan menatap Ata yang duduk di sampingnya, kedua mata mereka bertemu. Di hadapannya ada sosok Matahari yang terlihat kuat dan dewasa, tetapi di matanya dia melihat kesedihan yang teramat sangat, Bulan tidak tahu apa yang membuatnya sakit sampai matanya bisa terlihat seperti itu, sangat redup dan tidak berbinar. Bulan penasaran, Bulan ingin tahu, seperti apa sosok Matahari yang sebenarnya. Orang seperti Ata memang tipe orang yang seru untuk diulik.
“Be honest." Katanya lagi kepada Bulan.
“And you have to be honest too, Matahari," kali ini Bulan membalikan ucapan Ata tersebut. “Apa yang terjadi denganmu tadi malam? Kenapa kamu bisa terluka?"
KAMU SEDANG MEMBACA
STARLIGHT
RomansaSeperti namanya Bintang, dia hanya ingin selalu menyinari orang-orang yang dia sayangi dengan cahaya kebahagiaan. Namun, hal yang tidak terduga datang menghampirinya dan membuat sinarnya perlahan meredup dan akhirnya menghilang. Starlight Start :...
