Seperti namanya Bintang, dia hanya ingin selalu menyinari orang-orang yang dia sayangi dengan cahaya kebahagiaan. Namun, hal yang tidak terduga datang menghampirinya dan membuat sinarnya perlahan meredup dan akhirnya menghilang.
Starlight
Start :...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
“Non, Den, ada yang ingin Bapak tanyakan kepada kalian," kata Pak Harun membuka pembicaraan pagi ini sambil terus fokus mengendarai mobilnya.
“Ada apa, Pak? Tanyakan saja, sepertinya serius sekali," jawab Bintang mewakili Bulan yang sedang sibuk merapikan rambutnya.
“Maaf sebelumnya jika pertanyaan Bapak ini agak sedikit mengganggu, tapi sepertinya Bapak harus menanyakannya karena Bapak khawatir," kata Pak Harun lagi dengan sangat hati-hati.
Bulan yang mendengar itu pun langsung penasaran. “Ada apa sih, Pak? Tidak biasanya Bapak seperti ini. Tanyakan saja apa yang ingin Bapak tanyakan. To the point saja!"
“Apa selain punggung tangan dan dahinya, apa ada luka lain yang didapat oleh Den Biru?"
“Setahu aku sih tidak ada Pak, hanya itu. Kenapa Bapak bertanya seperti itu? Apa Bapak melihat sesuatu?" jawab Bintang yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan untuk Pak Harun.
“Seperti biasa, setiap pagi sebelum Bapak mengantarkan kalian berangkat sekolah, Bapak selalu membersihkan mobilnya terlebih dahulu kan, dan di saat membersihkan kursi bagian belakang tidak sengaja Bapak melihat bercak darah, mungkin jika dalam posisi duduk bercak darah itu tepat di bagian kepala. Makanya Bapak tanya, takut darah itu dari luka yang ada di kepala Den Biru. Bapak juga tidak ingat siapa yang duduk di kursi itu tadi malam. Bapak sudah terlalu tua untuk mengingat beberapa hal," jelas Pak Harun yang membuat Bulan dan Bintang kaget.
“Apa kursi yang Bapak maksud adalah kursi yang sedang aku dudukki sekarang?" tanya Bulan.
Pak Harun yang melihat keadaan di belakang sana dari kaca spion pun menggelengkan kepalanya. “Bukan Non, kursi yang satunya lagi, yang diduduki Den Bintang."
“Aku dan Biru semalam duduk di sini, jika kepala Biru benar-benar terluka dan berdarah mungkin darahnya akan mengenai tanganku karena aku memeluknya. Tapi jika yang Bapak maksud adalah kursi yang di dudukki Bintang, berarti—“
“Astagfirullah!” Bintang kaget bukan main. “Ata."
“Ah iya, Bi. It must be him."
“Ata? Yang Bapak antar pulang semalam itu, ya?"
“Iya, Pak, benar. Saat dia turun dari mobil, apa Bapak melihat keadaannya?" Bintang kembali mengajukan pertanyaan.
“Bapak tidak bisa melihatnya dengan jelas karena kondisinya yang cukup gelap. Tapi yang Bapak ingat wajahnya pucat dan dia terlihat pusing. Bapak sempat menawarkan untuk mengantarkannya sampai ke depan pintu rumahnya tapi dia menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan. Dia anak yang sangat baik dan sopan, dia tidak masuk ke dalam rumahnya sampai mobil yang dikendarai oleh Bapak melaju kembali."