Note : tolong tinggalkan vote dan komentar sebagai apresiasi ya teman-teman. Biar aku lebih semangat lagi nulisnya. Terima kasih! Satu komentar kalian aja udah jadi hadiah buat aku :)
***
"Apa tidak terlalu serakah jika aku ingin memiliki waktu yang lebih lama lagi untuk terus menghabiskan waktu dengan orang-orang yang aku sayangi?"
***
Satu bulan kemudian..
Lintar dan Bintang sedang beristirahat di pinggir lapangan. Karena mereka baru saja selesai bermain voli. Walaupun mereka tidak mengikuti permainan sampai selesai karena kondisi mereka yang sangat rentan drop jika terlalu kelelahan. Beruntungnya Sang Guru yang sudah tahu tentang kondisi mereka itu pun mengerti dan tidak mempermasalahkannya.
Dua puluh menit berlalu, suara bel istirahat pun berbunyi, disusul oleh teriakan para siswa yang sudah sangat lelah dan siap untuk menyerbu kantin.
Di saat semua temannya berlari meninggalkan area lapangan, Lintar dan Bintang masih berada di tempatnya. Duduk di pinggir lapangan sambil meneguk air mineral yang mereka beli sebelum olahraga tadi.
Sambil menatap kosong ke arah kantin yang dekat dengan lapangan, Bintang menghela nafas panjang. Dia terlihat kelelahan begitupun dengan Lintar.
"Did you take your medicine today?" Lintar memutuskan untuk membuka pembicaraan. Kedua mata besarnya yang terlihat sayu menatap penuh Bintang yang duduk di sampingnya.
Bintang mengangguk. "Bukannya tadi aku meminumnya tepat di depanmu? Bahkan kamu yang menyuruhnya sebelum kita pergi ke lapangan tadi!"
Mendengar itu Lintar langsung menepuk dahinya hingga menimbulkan bunyi. 'plak'
"Eh iya, lupa. Apa bertahan hidup dari hasil menjarah darah orang lain membuat fungsi otakku terganggu, ya? Jadi pelupa begini aku," katanya dengan polosnya.
Bintang yang mendengarnya terkekeh kecil, terkadang seorang Lintar memang suka berpikir random, terkadang juga tidak masuk akal. Dan lucunya, hal itu juga terjadi kepada Bintang. Banyak waktu yang telah mereka lalui bersama, membuat mereka seperti memiliki ikatan, sehingga tanpa mereka sadari perilaku mereka menjadi mirip.
"Apa yang kamu pikirkan, Lintar? Itu sama sekali tidak ada hubungannya. Manusia itu tempatnya salah, tempatnya lupa. Wajar lah kalau kamu lupa, aku juga kadang gitu, kan. Sering lupa dengan hal-hal kecil. Contohnya meminum obatku tepat waktu, mungkin aku akan lupa jika kamu dan Bulan tidak mengingatkanku. Terkadang aku memang ingin mencoba untuk skip meminumnya, tapi sialnya hanya obat yang menjadi sumber kekuatanku selama ini selain cincin yang melekat di jantungku," kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir seorang Bintang.
Plak!
Tiba-tiba saja Lintar mendaratkan satu pukulan di bahu kanan Bintang, cukup keras, Bintang sampai mengaduh dibuatnya. Lintar terlihat sangat kesal. "Heh! Kamu ini sedang menyindirku atau apa?"
Bintang mengelus bahunya yang dipukul Lintar tadi. Dengan wajah judesnya Bintang menjawab, "Dih, siapa juga yang nyindir kamu? Orang aku lagi ngomongin diri sendiri kok. Geer banget jadi orang!"
"Pokoknya tiap ada yang mention obat tuh aku selalu merasa tersindir!" Tentu saja Lintar tidak ingin kalah dalam perdebatan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
STARLIGHT
Roman d'amourSeperti namanya Bintang, dia hanya ingin selalu menyinari orang-orang yang dia sayangi dengan cahaya kebahagiaan. Namun, hal yang tidak terduga datang menghampirinya dan membuat sinarnya perlahan meredup dan akhirnya menghilang. Starlight Start :...
