✨. 16 : Tough Time!

149 14 35
                                        

“Bukan karena Allah tidak tahu rasa sakitmu, tapi Allah tahu kamu kuat!”

 

***


Kara menangis sambil melempar apa saja yang berada di dekatnya.

 
“Sialan! Kurang ajar! Bangsat?! Bajingan!”

Selama Tara hidup bersama Kara, baru kali ini dia melihat Kara yang begitu marah sampai mengeluarkan kata-kata yang kasar. Wanita yang ada di hadapannya ini benar-benar terlihat asing, dia tidak seperti Kara-nya yang sangat penyayang dan lemah lembut.

Tara yang sudah menyaksikan kejadian ini sekitar 10 menit yang lalu itu pun mulai kewalahan menghadapi sikap istrinya yang sedang diselimuti amarah ini. Dengan langkah yang tenang, Tara memeluk tubuh Sang Istri agar berhenti berontak dan membuat kekacauan di dalam kamar mereka.

Istighfar, Sayang, istighfar! Kamu tenang dulu, kita harus menghadapi masalah ini dengan kepala yang dingin, okay!”

Mendengar itu Kara melepaskan pelukan Tara dengan kasar. Kedua matanya yang sembab, merah, dan berair itu menatap tajam Tara.

“Bagaimana aku bisa tenang di saat bajingan itu melakukan hal ini kepada kita? Setelah apa yang kita lakukan kepadanya selama ini, kita menolong anaknya dari kematian dan memberikannya pekerjaan, inikah balasannya untuk kita? Di saat kita sudah menyelamatkan nyawa anaknya, dia malah ingin membunuh anak kita secara perlahan, begitu? Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya? Dia benar-benar tidak punya hati dan otak! Arghhhh!”

Pranggg!

Kara melempar vas bunga yang ada di dekatnya, membuatnya pecah dan berhamburan di atas lantai kamar mereka.

“Di saat kita sudah kerja keras mati-matian untuk biaya pengobatan Bintang ke luar negeri, dengan tidak tahu malunya dia menggelapkan uang perusahaan kita? Dan dengan tidak malunya dia kabur dan membawa uang itu? Dia benar-benar bajingan!”

“Dari awal aku sudah memiliki perasaan yang tidak enak dengan bajingan itu, tapi kamu kekeh untuk tetap menolongnya karena dia terlihat seperti orang yang baik. Dan sekarang kamu lihat!! APA ITU ORANG YANG KAMU ANGGAP BAIK, HAH?”

Kara berteriak tepat di depan wajah Tara sambil menangis.

“Maafkan aku, Kara. Aku tidak pernah berpikir jika dia seorang penipu. Jika hari buruk ada di dalam kalender, mungkin aku bisa menggagalkan rencana busuknya itu dan hal ini tidak akan terjadi! Tolong maafkan aku Kara. Aku juga sama sakitnya denganmu, tapi tolong jangan seperti ini! Apa yang akan terjadi jika Bintang melihat dan tahu tentang hal ini?”

Tidak ingin menyerah, Tara pun memeluk tubuh Kara sekali lagi. Dan beruntungnya kali ini Kara tidak berontak, dia membalas pelukan Tara dengan erat.

“Maaf, seharusnya aku tidak bertindak kekanakan seperti ini. Aku hanya merasa hancur, kecewa, marah, sedih atas kejadian yang harus kita hadapi saat ini. Berapa tahun kita mengumpulkan uang itu? Uang dari hasil kerja keras kita selama ini, yang selalu kita tabung untuk pengobatan Bintang di luar negeri, agar dia mendapatkan pengobatan yang terbaik harus lenyap dalam waktu kurang dari seminggu. Uang yang dibawa kabur bajingan itu hampir dua kali lipat dari tabungan pengobatan Bintang yang kita punya. Ya Allah, apa salah kami? Sampai-sampai memberikan cobaan yang begitu berat seperti ini? Hamba tidak sanggup!”

Kara menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Tara, saat ini dia benar-benar merasa rapuh dan tidak berdaya. Dia merasa seperti seorang Ibu yang tidak berguna, yang tidak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan Putra yang paling dia cintai agar tetap hidup. Kali ini dia benar-benar marah, kesabaran yang selama ini dia tanamkan di dalam hatinya itu mendadak sirna begitu saja.

STARLIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang