✨. 19 : Galaxy Squad🌌

111 8 31
                                        

"Sama seperti air yang tenang dan bisa menjadi buas di waktu tertentu, maka dari itu dia harus selalu diwaspadai dan dikhawatirkan. He's a little bit dangerous—but in the good way of course. He just like me."

***

Seminggu berlalu, 2 hari yang lalu Bintang sudah pulang dari rumah sakit, dan Senin besok dia akan mulai masuk sekolah lagi seperti biasanya.

Pagi ini tepatnya pukul 10 pagi, Bara sudah siap untuk pulang ke Jakarta karena dia akan mulai ospek kuliah besok, dan tentu saja hal ini membuat Bintang sedih karena dia harus jauh kembali dengan Kakak yang paling dia sayangi itu, Kakak yang selalu dia katakan sebagai penyembuhnya. Tapi, kali ini Bintang tidak akan keras kepala, dia akan membiarkan Kakaknya itu pergi.

20 menit yang lalu, supir pribadi keluarga Bara sudah datang untuk menjemput, tapi Bara tidak bisa langsung pulang karena Bintang masih setia menempel kepadanya. Iya, Bintang memang memperbolehkan Kakaknya itu pulang, tapi inner childnya terasa begitu berat melepaskan Kakaknya pergi.

"Bi, udah dong. Itu kasihan Pak Adi udah nungguin dari tadi," karena Bulan dan Lintar sudah kewalahan menghadapi Bintang yang sudah seperti lumut yang menempel di tubuh Bara, akhirnya Kara pun turun tangan. Dia berusaha untuk melepaskan pelukan Bintang dari tubuh Bara.

"Bisakah kalian membiarkan Adik Kakak ini saling memberikan kekuatan dan kasih sayang satu sama lain selama beberapa menit ke depan sebelum berpisah? Just give us 5 minutes! And I'm gonna let him go." tanggap Bintang sambil mengeratkan pelukannya.

Bara yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum  lebar sambil memberi tanda, "Ngga apa-apa, biarin Adek peluk aku sepuas yang dia mau!"

Terdengar hembusan nafas lelah dari ketiganya.

"Benar-benar seperti lumut yang menempel di dinding," gumam Lintar dengan wajah datarnya.

"Lumut aja minder kayaknya, Li," tanggap Bulan dengan wajah yang tidak kalah datar dengan Lintar.

Benar saja, 5 menit berlalu tanpa diminta Bintang pun akhirnya melepaskan pelukannya dari tubuh Bara.

"Abang pulangnya hati-hati ya, nanti kalau udah nyampe rumah, jangan lupa kasih tahu aku!" kata Bintang dengan cerewetnya.

Bara yang sudah sangat gemas pun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit kedua pipi Adiknya yang kecil itu. "Iya, iya. Nanti aku pasti kabari kok kalau udah nyampe rumah. Aku tidak akan lupa, kamu sudah mengatakan itu berkali-kali pagi ini. Bagaimana aku bisa lupa," katanya dengan nada yang gemas.

"Bagus kalau Abang ingat! Oh iya, aku juga sudah memasang alarm di smartwatch Abang. 3 waktu dalam satu hari biar Abang bisa makan tepat waktu!"

"Ya Allah iya Dek, iya. Kenapa kamu ini cerewet sekali?" tanggap Bara yang kali ini mencubit gemas hidung Bintang, meninggalkan semburat merah di sana. "Aku juga sudah memasang alarm di smartwatch mu. Biar kamu bisa minum obatnya tepat waktu! Dan kita impas," lanjutnya.

Bintang memutar kedua bola matanya. "Abang pasti bakalan sibuk banget kalau sudah masuk kuliah. Tapi jangan sampai putus koneksi ya, Bang."

"Tentu saja tidak akan, kamu ini bicara apa? Abang akan mengabarimu setiap hari!"

"Tapi kalau Abang pulang lewat dari jam 10 malam, Abang ngga perlu ngabarin aku, langsung istirahat saja. Besoknya baru kabari aku. Okay?"

Bara tidak pernah pegal untuk selalu menarik kedua ujung bibirnya jika sedang berinteraksi dengan Bintang. Bahkan dia tidak memikirkan Lintar, Bulan, dan Kara yang ada di sana juga. "Okay. So, can I go now?"

STARLIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang