"Ngeselin banget" Celoteh skylar dengan bola basket di tangannya. Gugun sontak melihat ke arahnya, ia paham dengan satu kalimat yang terucap dari mulut skylar. Gugun pun meraih pundak skylar berusaha untuk menarik kembali pikirannya yang buruk untuk bersenang-senang di timezone.
"Masukin bolanya cepet, kita ke timezone kan mau refreshing ler. Jangan mikir aneh-aneh" Skylar melirik singkat gugun, senyum tipis mulai terukir di wajahnya. Suasana mencekam tadi dapat ditepis dengan rasa aman dan nyaman di sekeliling mereka, melihat reaksi skylar-gugun pun menghela nafas lega dan mulai membanggakan dirinya karena mampu menenangkan bayi singa di sampingnya.
Skylar mulai melempar bola masuk ke dalam ring, sesekali ia berbuat curang, meraih ring tersebut dengan bola dan menggunakan tangannya yang cukup panjang untuk memasukkan bola tersebut dengan sangat mudah.
"Gua mau main mesin capit ya ler" Mendengarnya mata skylar berbinar, ia menaruh basketnya dan mulai berlari mengikuti gugun dari belakangnya. Banyak aneka ragam prizepool menarik disana, namun atensi skylar tertuju pada teddy bear bewarna coklat yang sangat lucu menurutnya.
"Gua yang ini ya gun" Gugun mengangguk mantap dan kembali mencari ragam prizepool yang mampu menarik pandangannya. Koin pertama skylar ia jatuhkan ke dalam mesin, pencapit tersebut mulai bergerak namun kini hanya mengenai bagian telinga teddy bear tanpa mengubah posisinya.
Dengan asa yang membara skylar kembali memasukkan koinnya, alat pencapitnya mulai bergerak mengenai kepala teddy bear tersebut. Akhirnya teddy bear coklat incarannya mulai naik dengan alat pencapit yang ia arahkan, namun karena tak bisa mengangkat lebih lama lagi, alat capit itu melepaskan bonekanya di sela sela lubang permainan.
"Argh anjing" Skylar mendesis dan memasukkan koin ketiganya, usaha dan asa di dalam dirinya tak sia-sia. Teddy bear yang ia gadang-gadangkan sebagai teman tidurnya akhirnya berada di pelukan skylar. Dengan hati yang gembira skylar membawa teddy bear miliknya dan mulai mencari-cari gugun yang hilang dari pandangannya.
Berbagai macam arcade sudah ia temui, namun batang hidung gugun masih tak ia temukan. Dirinya menatap sekeliling timezone untuk mencari keberadaan sahabatnya, namun nihil-atensi nya masih tak melihat gugun di sekitaran timezone.
Skylar memilih untuk keluar dari timezone dan mencari tempat duduk. Ia membuka ponselnya dan menelfon kontak gugun yang sejak lama ia pin, Tak membutuhkan waktu yang lama gugun mengangkat telfon tersebut, skylar dengan keadaan panik mulai bertanya pada gugun.
"Eh lu dimana anjing, gua sendirian di depan timezone"
"Hehehehe gua lagi nyari tempat makanan enak, tadinya gua mau ajak lu cuman lu malah kompe main mesin capit"
"Lah emang lu ga main gun?"
"Gua ga ngerti cara mainnya, lagian gua juga laper. Udahlah lu tunggu disitu aja, biar gua jemput" Telfon mereka terputus, skylar mendecih malas dan kembali mengantongi ponselnya. Sesekali ia melirik sekitar kala menjaga teddy bear nya dari pencuri kesiangan.
"Loh? aeron? sama siapa dia, sze ya?" Skylar dengan gelagat petantang petenteng membawa teddy bear miliknya, ia berjalan menghampiri kedua anak muda yang masih menggunakan almameter sekolanya sedang asik berduaan dan memilih beraneka ragam roti.
Namun, saat skylar mendekati keduanya. Mental nya serasa lenyap seketika, ia tak berani mengeluarkan suara bahkan memegang belakang punggung aeron yang sedang mengantri di depannya. Dengan modus yang pasaran skylar malah berdehem kencang untuk mendapat respon aeron-namun aksinya tak membuahkan hasil, aeron masih asik berdiskusi dengan sze tentang roti yang akan mereka pesan.
Emosinya serasa dipermainkan oleh aeron, akhirnya skylar menendang belakang lutut aeron hingga sang empu sedikit sempoyongan. Sontak dengan urat di pelipisnya aeron berbalik badan, ia mendapat wajah tak bersalah skylar sedang menatap tajam dirinya. Sze hanya bingung dengan keduanya, ia memilih diam karena sama sekali sze tak tau apapun soal mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival ! (Aeron x Skylar)
Fiksi PenggemarKetika dua berandalan yang mulai jatuh hati satu sama lain, from enemy to lovers. Itulah yang mereka rasakan, sudah berkali kali genk mereka bertengkar, bertaruhan bahkan mengancam satu sama lain. Namun, di sela sela pertengkaran mereka, ada salah s...
