Skylar yang menahan penat di sandaran pundak kekar aeron kini menghela nafas berat, ayolah sebenarnya ini mengerikan. Skylar seperti di hantui oleh psycho aneh yang terus mengintainya, namun bagaimana pun juga ia sudah terbuai dalam ramuan cinta yang dimiliki aeron. Sesekali ia berfikir untuk menghapus memori tentang aeron agar tak semakin banyak darah yang berkorban karenanya, tetapi ini tak semudah yang ia bayangkan––melupakan aeron rasanya sangat berat bagi skylar.
"Janji sama aku kalau mereka yang terakhir" Skylar mulai duduk tegap dengan tatapan kosong. "Huh?" Aeron berdehem pelan menganggap omong kosong yang baru saja ia dengar dari mulut skylar. "Maksudku, jangan pernah ngulang kejadian ini lagi." Skylar menunduk pasrah tanpa mendengar jawaban yang akan keluar dari alibi aeron. Suasana hening memenuhi ruangan, skylar menatap aeron intens dengan matanya yang sayu.
"Iya, aku janji" Aeron menangkup pipi skylar yang lembut, sesekali tangannya mengelus permukaan pipi milik sang empu. Tentunya skylar tersenyum lega mendengar perjanjian yang baru saja mereka buat dengan kesepakatan bersama. Setelahnya, wanita dengan pakaian serba putih tersebut datang menghampiri kedua pemuda yang asik memamerkan kebucinan mereka di kursi ruang tunggu.
"Baik, setelah kami memeriksa lebih lanjut, keempat pasien tak memiliki luka yang cukup parah. Luka tersebut akan sembuh sekitar dua sampai empat minggu kemudian" Skylar mengangguk pelan, ia berdiri dan menundukkan kepalanya sebagai penghormatan pada dokter yang memberikan pelayanan yang baik kepadanya "Makasih dok".
"Kalau gitu saya duluan ya kak, mari" Setelah sang dokter meninggalkan kedua pemuda tersebut, aeron berjalan sembari memegang pergelangan tangan skylar untuk megeluari rumah sakit. Sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, aeron membayar biaya pengobatan keempat korbannya dengan lunas.
"Terus? kita gabisa pulang ron. Kita kesini naik mobil si dokter pribadi kamu itu"
"Makanya ada sistem yang namanya gocar"
Aeron merogoh ponselnya, ia sekaligus memesan dua driver yang entah apa tujuannya. Skylar mendengus kesal, apakah aeron tak ingin satu mobil dengannya? "Kamu mau berduaan ya sama si driver, kok mesen mobilnya dua sih" Dengan langkah berat skylar berjalan menuju kursi taman yang tepat berada di depan rumah sakit.
"Marah aja sih, gemes soalnya" Ucap aeron yang ikut mengambil posisi di samping tempat duduk skylar. Angin sepoi-sepoi meniup surai lembut kedua pemuda tersebut, suasana hening yang tenang membuat skylar ingin sekali tidur disana juga untuk melepaskan penatnya saat ini.
"Tidur aja, nanti gua bangunin kalau drivernya udah datang" Ujar aeron menarik lembut kepala skylar untuk bersandar di bahu kekar miliknya. "Apasih, gaada yang ngantuk juga" Skylar berontak, ia kembali duduk dengan tegap tanpa sadar matanya sudah sangat memerah dan juga sayu.
Terlihat dengan jelas bahwa aeron tertawa kecil menatap lelaki di sampingnya, matanya sangat tulus mengagumi setiap inci wajah skylar. Hampir enam menit mereka menunggu tanpa adanya bahan obrolan, akhirnya dua driver datang secara bersamaan di depan gerbong rumah sakit.
Aeron pun melirik skylar yang tertidur pulas di kursi taman, ia menggendongnya perlahan dan menghampiri 1 driver di singgah sana. "Masnya boleh pindah ke mobil driver yang itu ga? biar mobil yang ini saya aja yang bawa" Tentunya sang driver merasa bingung, disatu sisi pula ia takut ini adalah modus belaka guna mencuri mobil pribadinya.
"Maaf mas, saya takutnya-" Belum sempat sang driver menyelesaikan ucapannya, aeron memberi sepuluh lembar uang merah yang ia pegang tepat di depan mata driver tersebut. "Bagi dua sama driver yang itu, masnya suruh intilin aja saya pulang ke apart. Nanti kalau udah sampai bawa lagi mobilnya" Perlahan sang driver turun dari mobil tanpa mencabut kuncinya, ia tersenyum tipis dan berjalan menuju gocar yang aeron pesan sejak tadinya.
Akhirnya sisa mereka berdua, aeron meletakkan skylar dengan penuh hati-hati di bangku kursi sebelahnya, aeron mulai bernafas lega dan menyalakan mobilnya.
Perlahan hari mulai terang, di tengah perjalanan sesekali aeron melirik bahkan menciumi bagian wajah skylar yang dianggap cukup manis. Dan setelah beberapa menit jarak tempuh, akhirnya dua sejoli tersebut sudah sampai di apartemen aeron. Skylar yang sedari tadi tertidur pulas kini mulai membuka kedua matanya perlahan.
"Pas banget bangunnya, baru mau aku gendong tadi" Ucap aeron yang melepas seatbelt miliknya dan juga skylar. "Ini mobil siapa?" Skylar mengusap pelan matanya, ia meraba sekitarnya karena merasa asing.
"Gocar, udahlah yuk keluar" Aeron pun mengeluari mobil dan menemui sang driver, sedangkan skylar yang sempoyongan kini berjalan lemas memasuki apartemen aeron. Skylar kembali bertemu dengan pondok kecil tempat dimana keempat pemuda kemarin masuk kedalam perangkap kejam aeron, dirinya benar benar ketakutan, entah sampai kapan ia harus mengikuti tuturan aeron yang membuatnya ikut menyembunyikan perlakuan kejinya.
"Huff, gua bingung kalau harus nampungin bebannya sendiri" Ucap skylar pelan, namun tak lama setelahnya aeron datang merangkul tubuh skylar dengan tatapan yang dianggap cukup mengerikan baginya. "Beban apa sih sayang?" Aeron menghirup bagian ceruk leher skylar dan sesekali mengecupnya singkat.
"Ugh, jangan" Tangan skylar yang letih kini sedikit menghempas tubuh aeron dengan sisa sisa energinya. "Aku tau kok kamu mulai ketakutan sama aku" Aeron mengambil jarak, ia mendahului skylar guna membuka pintu apartemen pribadinya.
Skylar hanya mematung tanpa sepatah kata pun, "Habis ini aku serahin diri ke polisi, kamu ga perlu khawatir tentang kejadian ini" Sambung aeron, skylar yang mendengarnya kini mulai membelalak, bukan ini yang dia inginkan. "Ronn, jangan gini ahhh.. sogok aja polisinya, apapun asal kamu jangan sampai masuk penjara" Skylar memegang pergelangan tangan aeron, ia mulai merabanya dengan halus.
"Aku tau dari gerak gerikmu sky, kamu ketakutan. Dengan aku menyerahkan diri ke polisi udah jelas bisa meringankan bebanmu kan?" Skylar tertegun, tangan aeron kini bergerak mengelus surai hitam skylar perlahan. "Tapi ron..." Belum selesai skylar berbicara, aeron membungkam mulut skylar dengan tangannya. "Sttt, kamu jaga diri ya selama aku di sel.." Aeron mengecup singkat pipi skylar kemudian meninggalkan sang empu sendiri di ruang tengah.
'Giliran pengen bucin bucinnya, ada aja yang ganggu. Aeron, maafin aku.."
>>>>>
lupa punya wp wkwk
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival ! (Aeron x Skylar)
FanfictionKetika dua berandalan yang mulai jatuh hati satu sama lain, from enemy to lovers. Itulah yang mereka rasakan, sudah berkali kali genk mereka bertengkar, bertaruhan bahkan mengancam satu sama lain. Namun, di sela sela pertengkaran mereka, ada salah s...
