[Pukul 02.17]
Skylar yang sedari tadi tertidur lelap kini terbangun karena suara aneh yang tercipta dari balik kamar mandi. Suara erangan atau entah apapun itu, intinya skylar tak melihat aeron di samping nya. Guyuran air terdengar begitu nyaring, untuk berdiri dari kasurnya skylar bahkan tak berani karena lampu yang mati dapat menjadi jebakan yang besar.
"Aeron.." Lirih skylar memeluk erat guling di sampingnya, tangan kiri miliknya bergerak mengambil selimut untuk bersembunyi sebagai persiapan dari marabahaya yang mungkin mengincarnya.
Lama-kelamaan suara keran air memudar hingga menyisakan erangan pria yang mungkin bukan satu jumlahnya. Sekali lagi skylar memanggil nama aeron, kali ini ia sedikit menaikkan intonasinya. "Ronn, kamu dimana" Merasa tak ada satupun yang menggubris skylar, akhirnya ia nekat beranjak pergi dari kasurnya untuk langsung melihat apa yang terjadi di kamar mandi malam ini.
Srett..
Baru saja skylar membuka pintu kamar mandi, ia menemukan keempat lelaki yang bersimbah darah, salah satu dari keempatnya adalah frince. Sorot mata skylar membulat melihat wajah aeron dengan bekas cucuran darah di pipi serta baju kaosnya. Mata skylar menangkap benda tajam yang digunakan aeron untuk menyayat keempat lelaki tersebut, hanya sebuah pisau dapur. Namun, terlihat jelas bekas sayatan di area kaki dan juga tangan pada keempat lelaki yang semalam menggoda skylar.
"Yah.. gajadi surprise" Kaki skylar gemetaran melihat wajah aeron yang kini tampak mengerikan, singkat sorot matanya melirik frince dan ketiga pemuda lainnya yang sedang diikat satu sama lain dengan menggunakan tali tambang. Mulut keempatnya di bungkam dengan sebuah kain sehingga membuat suara erangan yang sedari tadi skylar dengar.
"A-aeron?" Skylar melangkah mundur, sejak tadi tatapan mata skylar tak pernah kedip melihat kesadisan yang tak sengaja ia lihat. "Jangan pura-pura kaget skylar, gua cuman turutin kemauan lu untuk bunuh mereka, sebagai pelindung mu kan hehehe..?" Aeron menyeringai canggung, skylar kembali melihat frince yang nampak sayu menatap dirinya, sepertinya keempat pemuda tersebut akan mati kehabisan darah karena bekas sayatan yang terus mengalirkan darah.
"Aku bercanda aeron, kamu gila?" Tanpa mendengar penjelasan aeron, skylar sontak menutup rapat pintu kamar mandi. Ia berlari menuju kamar aeron dan dengan sigap mengunci kamar tersebut.
"Skylar, aku ga akan nyakitin kamu. Aku ngelakuin ini semua cuman untuk jagain kamu dari laki-laki brengsek itu" Aeron mengetuk pintu dengan pelan berusaha meyakinkan skylar. "Kamu psycho, aeron.." Setelahnya skylar tak lagi mendengar ucapan aeron hingga dirinya memutuskan untuk mencari pertolongan dari gugun ketika menyadari aeron yang nampak seperti orang mabuk, namun lama kelamaan aeron mencoba mendobrak pintu hingga membuat skylar tersentak di dalamnya.
Skylar memutar otak mencari barang yang akan ia gunakan untuk menjanggal pintu tersebut, Namun nihil, aeron terlebih dulu membuka pintu dengan kekuatan otot-otot kakinya. Dengan seringai anehnya aeron menatap skylar intens, skylar terpojok sekarang juga. "P-please ron.. Jangan bunuh mereka, aku gamau kamu di penjara" Alibi skylar yang baru saja hampir memberi informasi sadis ini pada gugun. Aeron berjalan menghampiri skylar dengan pisau yang masih ia genggam, aeron mendekatkan kepala keduanya dan mencium bibir skylar singkat. "As your wish" Skylar bernafas lega mendengarnya. Di sisi lain aeron kini menaruh pisaunya di atas permukaan meja belajar dan dengan segera ia kembali memasuki toilet dengan skylar yang mengikut di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival ! (Aeron x Skylar)
FanfictionKetika dua berandalan yang mulai jatuh hati satu sama lain, from enemy to lovers. Itulah yang mereka rasakan, sudah berkali kali genk mereka bertengkar, bertaruhan bahkan mengancam satu sama lain. Namun, di sela sela pertengkaran mereka, ada salah s...
