S2 Eps. 01 - The Art of Survival

49 10 3
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________

Kriet....

Decitan engsel tua pintu basement menyadarkan seorang gadis dari pejaman mata sesaat. Seberkas cahaya menyeruak masuk melalui celah sempit, diikuti siluet seseorang yang berjalan ke arahnya.

"Arashi?"

Gadis itu mengerjap. Hening. Lalu beberapa detik kemudian, cicit tikus terdengar. Sebuah fakta bahwa ruang bawah tanah itu tidak sepenuhnya layak untuk manusia.

Sosok itu menunduk, begitu wajahnya diterpa cahaya bohlam tua yang menempel lapuk di dinding, Arashi melebarkan mata.

Alvaro?

"Hukumanmu selesai," bisik lelaki itu. "Ayo. Sudah tujuh bulan kau di sini. Sekarang saatnya untuk keluar."

Arashi membuka mulut. Entah karena tenggorokannya kering, atau ia tak terbiasa bicara selama 7 bulan terakhir, suaranya seolah habis. Seakan-akan ada batu tersumbat di tengah lehernya. Gadis dengan penampilan super kacau itu hanya diam ketika Alvaro mengangkat dan membawa tubuhnya lepas dari kungkungan yang sudah memenjarakan selama berbulan-bulan.

Udara seakan menjadi jarum bagi Arashi ketika ia menghirup dunia luar untuk pertama kali. Rasanya berbeda. Tidak ada debu, tidak sumpek, dan tidak lembap. Namun, matanya menjadi anti cahaya begitu dia dihadapkan oleh sinar mentari yang menjatuhi camp pukul 10 pagi.

"Kenapa?" Alvaro bertanya ketika Arashi bergerak di gendongannya.

Gadis itu hanya menggeleng, memalingkan wajah menghindari matahari. Ia menyembunyikan ekspresi di ceruk leher Alvaro. Sesuatu yang mampu membuat sudut bibir lelaki itu tersenyum kecil.

"Kau lapar? Seingatku kemarin malam kau sudah makan."

Arashi hanya mengangguk.

"Pasti lapar," simpul Alvaro. Lelaki itu makin mempererat gendongannya, membawa mereka menuju dapur. Hal aneh yang mampu menimbulkan spekulasi pada sekitar. Apalagi pagi itu, Moona baru saja menyelesaikan ritual harian untuk matahari.

Beberapa anggota Nightfall yang membersihkan meja ritual berbisik satu sama lain kala Alvaro melintas di hadapan mereka.

"Dia yang dihukum kurungan waktu itu?"

"Tidak bersyukur. Dia pasangan Divine tapi entah apa yang dilakukannya sampai Lunar menghukumnya seberat itu."

"Tapi hubungan mereka terlihat baik-baik saja, tuh?"

Manik Arashi menyapu kerumunan sekilas. Tatapannya nanar. Meski kemudian ia kembali menutup mata dan membiarkan Alvaro membawanya entah ke mana.

Beberapa tawa kecil menyambangi indra pendengarannya sedetik kemudian. Bukan dari kerumunan kastanya, melainkan gerombolan gadis-gadis Devotion yang sedang membawa guci-guci pemujaan.

Saat itulah Arashi membuka mata kembali. Tatapannya langsung bersinggungan dengan kelompok Devotion dan... Callista. Perempuan itu tersenyum remeh. Ketika manik Arashi bergulir, mendapati kehadiran Iqbal di antara grup itu, Arashi sontak meremas bahu Alvaro.

Lelaki itu meringis kecil. "Kenapa?"

Mata Arashi bergetar, menatap benci ke arah Iqbal yang juga sedang memandangnya.

"Arashi—"

Belum sempat Alvaro bicara lagi, Arashi yang diserang kepanikan luar biasa, meronta-ronta dari lengan lelaki itu. Karena desakan mendadak, Alvaro tak bisa mempertahankan diri hingga akhirnya gadis itu berguling jatuh ke tanah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang