Setelah berbelanja, kami memutuskan untuk makan malam di Great Hall. Kebetulan tidak ada murid yang mengecap-ngecap makan di sana. Hanya ada pohon natal, bintang-bintang, dan batang hidung Snape.
Tentu dengan sigap, aku akan selalu mengambil full course meal karena: apa itu jaim-jaim? Makan itu harus untung. Harus kenyang. Harus FULL POWER!
"Kamu yakin bisa menghabiskan tiga piring itu, Mrs. Russel?" Snape menggodaku.
Aku berdecih menantangnya. Bahkan kalau dikasih 10 piring pun, pasti lenyap dalam hitungan detik. Karena siapa yang bisa menahan perut yang lapar?
"Aku bisa."
BUK!
"Mrs. Russel, itu tidak sopan. Ten points from Gryffindor."
"Ya-ya-ya. Aku tahu prof tidak pernah benar-benar menggambil poin itu. Prof hanya menggertakku-"
"Professor McGonagall-"
BUK! "SIAL! JANGAN LAPOR KE PROFESOR MCGONAGALL!"
"Kau sendiri yang menantang, nona muda." Sinisnya jahil.
Tapi aku suka.
Kami menghabiskan makan malam dengan tenang. Beberapa perbincangan ia buka namun karena aku terlalu asik melahap piring demi piring, ya ora urus dengan celotehnya.
Snape yang sudah selesai lebih dahulu lantas mengambil segelas jus untuk aku minum dan untuk dirinya sendiri. Setelah itu ia memutuskan untuk duduk di sampingku dan...
Memperhatikanku menghabiskan piring terakhir.
Instingku langsung memutar kepala agar menengok ke profesor Snape. "Kenapa prof?"
Ia hanya diam. Lalu dari meja sebelahnya ia ambil buku yang entah dari kapan sudah dibawa. "Makanlah. Aku tunggu sampai selesai." Ia membuka lembar pertama. Aku lanjut menghabiskan makananku.
Sebenarnya kalau dalam keadaan normal, mungkin aku sudah salting mendengar kesediannya menungguku selesai makan. Tapi karena perut ini lebih besar nafsunya dibanding hatiku, jadi untuk sementara aku henti hati dulu.
Beberapa waktu berlalu. Seharusnya aku merasa tenang. Namun, beberapa kali aku menangkap Snape melirik dari sudut mataku. Terkadang cepat-cepat ia berbalik membaca buku. Terkadang lama-lama ia menatapku. Seperti matanya terkunci.
Oh Merlin... Apa yang harus aku lakukan.
Tanpa sadar keserakahanku membuat makanan yang tersantap menyerang balik bibirku dengan saos dan ladanya.
Dan dalam novel-novel, tentu kalian tahu apa yang akan terjadi.
"Habiskan saja. Aku masih menunggu." Dengan lembut, Snape menyentuh pipiku dan membersihkan sudut bibirku dengan ibu jarinya. Ia bahkan tidak membersihkan ibu jarinya yang baru saja terkena segala jenis lada dan rempah. Melainkan diisapnya ibu jari itu.
MERLIN'S BEARD!?
Tanpa sepatah kata, ia mengacak-ngacak rambutku.
Hatiku kembali teracak-acak.
***
Setelah menghabiskan makanan kami berjalan-jalan di sekitar taman belakang Hogwarts yang menghubungkan area itu ke jembatan.
Udara malam ini cukup dingin. Ketika Hogwarts tidak libur, sebenarnya aku sering diam-diam berjalan di taman belakang. Kadang sendirian, kadang bersama Rose, kadang juga Fred & George yang iseng menyalurkan kegilaannya bersamaku. Atau bahkan Hermione kalau ia sedang tidak ingin tidur lebih awal.
Tapi entah kenapa, malam-malam seperti ini rasanya begitu hangat apabila yang menemaniku adalah... Snape.
"Kamu suka berjalan-jalan di sini, ya?" Ia memecah keheningan.
