Riuh terdengar di aula, para murid mulai berbisik mengenai gadis bermanik emerald yang mengejutkan mereka.
"Mataku tidak salah kan?"
"Kau tidak salah! Itu benar-benar elemen alam!!"
"Ya tuhan, pemilik mereka sudah dianggap punah. Dan sekarang secara tiba-tiba keturunannya muncul! Ini akan menjadi berita besar!!"
Ditengah-tengah bisikan mereka, Aerin menatap gleamstone yang cahayanya lambat-laun mulai memudar, manik emeraldnya jelas menunjukkan keterkejutan. Gadis itu melirik lelaki tua yang membawanya kemari, bertanya-tanya bagaimana dia tahu jika ia memiliki elemen alam di dalam dirinya.
Di sisi lain, Cedric, yang awalnya meragukan gadis yang dibawa Sylas, kini terdiam. Meskipun begitu tatapannya jelas menunjukkan bahwa ia tidak ingin mengakui jika Sylas menemukan keturunan elf.
"Penglihatanmu tajam seperti biasanya, Tuan Sylas." Dari balik kerumunan seorang pria dengan pakaian biru gelap bersuara. Parasnya tampan meskipun beberapa helai rambut putih terlihat dibalik rambut hitamnya. "Kepala Sekolah sedang mengurus urusan penting. Jadi sebagai gantinya, aku akan mengurus masalah ini."
Pria itu tersenyum sopan pada Sylas, lalu mengalihkan pandangannya pada Aerin yang sedari tadi diam. Ia memposisikan tangan kanannya di dada sementara tangan kirinya berada di belakang, lalu membungkukkan badannya dengan anggun ke arah Aerin.
"Perkenalkan, Saint Redgrave, Wakil Kepala Sekolah Akademi Roxana. Kami menyambutmu di sini."
Ini adalah etiket dasar keturunan bangsawan—Aerin tahu itu. Ia pernah diajarkan hal tersebut sebelum bisa bekerja sebagai pelayan di restoran kelas atas. Karena itulah, Aerin membalasnya dengan sikap yang sama sopannya.
Gadis itu meraih ujung gaunnya, sedikit mengangkatnya sembari menyilangkan satu kakinya di depan yang lain. Dengan anggun, ia membungkukkan badan dan membalas sambutan pria itu.
"Saya Aerin. Terima kasih atas sambutannya, Tuan Redgrave."
Saint menegakkan punggungnya. Pria yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah itu tersenyum semakin dalam. Niatnya hanya ingin bersikap sopan pada gadis keturunan elf di depannya, tidak menyangka jika gadis biasa-biasa itu akan membalas. Ini semakin menarik.
***
"Hah.. hah.. Luke, bisa tidak jika kita istirahat sebentar?"
Bersandar pada pohon disekitarnya, Luca menatap serigala hitam yang saat ini berhenti dan menoleh padanya. Sorot mata serigala itu masih sama seperti saat mereka belum menjalin kontrak, tajam dan terkesan dingin.
Sebagai jawaban atas pertanyaan Luca, Luke menggeram pelan. Mereka harus terus berjalan; hari hampir berakhir, cahaya terakhir di cakrawala mulai memudar. Lagi pula, hutan ini hampir mereka lewati sepenuhnya—seharusnya pemuda itu bisa sedikit lebih tahan.
Tahu jika dirinya ditolak, Luca merasa kecewa. Sudah hampir lebih dari dua jam dirinya berjalan dan sekarang kakinya mulai terasa sakit. Di novel bergenre fantasi-sihir ini hanya ada dua kendaraan, yaitu kuda dan kereta kuda. Dan kendaraan seperti ini tidak dapat ditemukan di hutan belantara!
Walaupun ditemukan, Luca juga tidak bisa mengendarainya. Menyadari fakta ini pemuda itu menghela nafas, maniknya masih terpaku pada sosok sang serigala hitam. Tiba-tiba, sebuah pemikiran melintas dibenaknya.
Alangkah baiknya jika Luke bisa menjadi besar dan aku bisa naik ke punggungnya!
Luke yang tidak tahu mengenai isi pikiran Luca, mau tak mau dibuat bingung oleh ekspresi pemuda itu. Semula ia menunjukkan wajah kecewa dan kesal, lalu di detik berikutnya mata cokelat itu mulai berkilau. Apa aku salah menerima kontrak itu? Dia mulai meragukan keputusannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Back To Medieval Times
FantasySeorang pemuda tampan yang entah bagaimana bisa terlempar ke abad pertengahan dan terlebih lagi dunia itu adalah dunia dalam novel! Nasib menjadi karakter figuran dan mati dengan sia-sia. Luca : "Aku akan merubah semuanya." Kemudian... Para lelaki :...
![[BL] Back To Medieval Times](https://img.wattpad.com/cover/331570305-64-k636694.jpg)